Hadis Keutamaan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

Sayyidina Ali bin abi thalib merupakan sahabat, menantu, serta murid setia Rasulullah SAW yang mempunyai banyak keutamaan seperti disebutkan dalam beberapa hadis Nabi SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis shahih.

Berikut ini beberapa hadis keutamaan Sayyidina Ali bin abi Thalib yang terucap dari yang Mulia Rasulullah SAW:

1). Sayyidina Ali adalah Pintu gerbang Ilmu Nabi SAW.

Hadis Pertama:

ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

Telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Fahm yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dharisy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Faidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis kedua:

حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174].

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230].

2). Sayyidina Ali adalah Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW.

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda:

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187.

3). Sayyidina Ali adalah Orang yang pertama Kali Masuk Islam.

Berikut ini adalah riwayat Shahih bahwa yang masuk islam pertama kali adalah Ali bin Abi Thalib.
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad 4/368:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع ثنا شعبة عن عمرو بن مرة عن أبي حمزة مولى الأنصار عن زيد بن أرقم قال أول من أسلم مع رسول الله صلى الله عليه و سلم علي رضي الله تعالى عنه

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah Mawla Al Anshari dari Zaid bin Arqam yang berkata “Orang yang pertama kali masuk Islam dengan Rasulullah SAW adalah Ali RA”.

Hadis riwayat Zaid bin Arqam ini disebutkan dalam Syarh Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 19177 bahwa sanadnya shahih. Imam Ahmad juga menyebutkan hadis Zaid dalam Fadhail As Shahabah 2/637 no 1000 dimana pentahqiq kitab tersebut Syaikh Wasiullah bin Muhammad Abbas berkata “sanadnya shahih”. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain 3/136 no 4663 dan Beliau mengatakan bahwa sanadnya shahih. Adz Dzahabi juga menshahihkannya dalam Talkhis Al Mustadrak. An Nasa’i menyebutkan hadis Zaid dalam Al Khasa’is hal 26 hadis no 3 dan berkata Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Tahdzib Al Khasa’is no 3 bahwa sanadnya shahih. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan Tirmidzi 5/642 no 3735 dan berkata Abu Isa At Tirmidzi “hadis hasan shahih”. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih hadis ini dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3735.

4). Sayyidina Ali adalah as-Shiddiq.

Sayyidina Ali pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan mengakui kalau dirinya adalah Ash Shiddiq disebabkan Beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk islam dan beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadits Riwayat Mu’adzah Al Adawiyah:

حدثنا زياد بن يحيى أبو الخطاب قال حدثنا نوح بن قيس وحدثني أبو بكر مصعب بن عبد الله بن مصعب الواسطي قال حدثنا يزيد بن هارون قال أنبأ نوح بن قيس الحداني قال حدثنا سليمان بن عبد الله أبو فاطمة قال سمعت معاذة العدوية تقول سمعت علي بن أبي طالب رضي الله عنه يخطب على منبر البصرة وهو يقول أنا الصديق الأكبر آمنت قبل أن يؤمن أبو بكر وأسلمت قبل أن يسلم

Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya Abul Khaththab yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Mush’ab bin ‘Abdullah bin Mush’ab Al Wasithi yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Nuh bin Qais Al Hadaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah yang berkata aku mendengar Mu’adzah Al ‘Adawiyah yang berkata aku mendengar Ali bin Abi Thalib radiallahu’anhu berkhutbah di atas mimbar Bashrah dan ia mengatakan “aku adalah Shiddiq Al Al Akbar aku beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku memeluk islam sebelum ia memeluk islam” [Al Kuna Ad Duulabiy 5/189 no 1168]

Hadis ini juga disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsani 1/151 no 187, Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/131 no 616, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/274 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 1835 semuanya dengan jalan sanad dari Nuh bin Qais dari Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah dari Ali radiallahu ‘anhu. Riwayat Ad Duulabiy di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah.

5). Sayyidina Ali Adalah Saudara Nabi, Pewaris Nabi dan Wazir Nabi SAW.

Telah diriwayatkan dalam hadis shahih kalau imam Ali telah mewarisi Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Qutsam bin Abbas RA. Beliau adalah putra dari paman Nabi SAW. Al Ijli menyebutkan kalau Qutsam bin Abbas RA termasuk sahabat Nabi SAW [Ma’rifat Ats Tsiqah no 1514].

أخبرنا أبو النضر محمد بن يوسف الفقيه ثنا عثمان بن سعيد الدارمي ثنا النفيلي ثنا زهير ثنا أبو إسحاق قال عثمان وحدثنا علي بن حكيم الأودي وعمر بن عون الواسطي قالا ثنا شريك بن عبد الله عن أبي إسحاق قال سألت قثم بن العباس كيف ورث علي رسول الله صلى الله عليه وسلم دونكم قال لأنه كان أولنا به لحوقا وأشدنا به لزوقا

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman bin Sa’id Ad Darimi yang berkata telah menceritakan kepada kami An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq. Utsman [Ad Darimi] berkata dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim Al Awdiy dan ‘Amru bin ‘Awn Al Wasithi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq yang berkata aku bertanya kepada Qutsam bin Abbas “bagaimana Ali bisa mewarisi Nabi SAW tanpa kalian?” Ia berkata “karena diantara kami Ali adalah orang yang pertama mengikuti Nabi dan orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Beliau” [Mustadrak Shahihain 3/136 no 4633]

Hadis ini adalah hadis shahih. Al-Hakim at-Tirmidzi dan Adz Dzahabi telah bersepakat menshahihkannya.

About these ads

14 Responses to Hadis Keutamaan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

  1. arjuno19 mengatakan:

    ALLAHUMMA SOLLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD

  2. rafi radiy mengatakan:

    Assalamualaika yaa aba hassan as

  3. Anonymous mengatakan:

    mohon maaf ( please forgivime ) orang bodoh seperti saya ini aja paham kalau sayidina ALI BIN ABU THOLIB adalah tokoh legendaris sesudah nabi MUHAMMAD SAW orang 2 meyebutnya # the great warrior with DZULFIQAR sword – ASSISTANCE and SPECIAL BODYGUARD MUHAMMAD SAW # nah! kalau gue yang awam ,OON,dan agak JADOEL INI menyebutkan sayidina ALI BIN ABU THOLIB kwh ra sebagai ( THE PRINCE OF PERSIA )

    • abu fadhil mengatakan:

      ANDA MENGECILKAN ORANG YANG DIBESARKAN ROSULULLAH, TAMPAKNYA BUAT ANDA MUAWWIYAH LEBIH UTAMA DARI ALI- DASAR PENGANUT AGAMA WAHABI

  4. jokotole mengatakan:

    Assalamualaikum warahmatuLLAAHI wabarakatuhu
    salam sahabat
    saya mrasa asik baca ini karena saya pribadi mengagumi pribadi khalifah yang satu ini , tanpa maksud memilah-pilih dr Khalifah dan sahabat Rasul SAW yg lain. terutama dalam hal sastra (pribadi ini amat menonjol).trima ksih atas artikel yg lumayan detil ini.
    salam

  5. subhan mengatakan:

    Assalamu Alaikum,
    Allahumma salli ala muhammad wa ala ali muhammad
    Salam bagi sayyidina Ali, para khalifah dan sahabat rasul yang lain,
    Memang banyak keutamaan bagi sayyidina Ali. Tapi kita tdk boleh terlalu menyanjung sehingga kita menjatuhkan sahabat nabi yg lain.
    Pasti ada keutamaan-keutamaan lain bagi khalifah yang lain sehingga nabi memilih khalifah yang lain sebelum Ali bin Abi Thalib.

    • Anonymous mengatakan:

      setuju gan

    • Maya mengatakan:

      Hadis 12 Pemimpin

      روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم يقول: يكون اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم من قريش.
      Jabir bin Samurah meriwayatkan, “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris), Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam; Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

      Pendapat Para Ulama Sunni
      Ibn Arabi
      …فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن، معاوية، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة إلي سليمان بن عبد الملك. وإذا عددناهم بالمعني كان معنا منهم خمسة، الخلفاء الاربعة، وعمر بن عبد العزيز.
      ولم أعلم للحديث معني. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69
      Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.
      Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….
      Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]
      Qadi Iyad Al-Yahsubi
      قال‌: إنّه قد ولي أكثر من هذا العدد. وقال: وهذا اعتراض باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال: يلي. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح الباري» 16: 339
      Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202; Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]
      Jalaludin as-Suyuti
      إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة الاسلام إلي يوم القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة. وكذلك الطاهر لما اوتي من العدل، وبقي الاثنان المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي: «تاريخ الخلفاء»: 12. ابن حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق المحرقة: 19
      Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]
      Ibn Hajar al-’Asqalani
      لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع في هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح الباري» 16: 338 ـ 341
      Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.
      Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]
      Ibn al-Jawzi
      وأوّل‌ بني‌ أُميّة يزيد بن معاوية، وآخرهم مروان الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم صحابة. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في «فتح الباري» 16: 340، عن سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.
      Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s). Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]
      Al-Nawawi
      ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام في زمنه ويجتمع المسلمون عليه.
      النووي‌ّ، «شرح صحيح مسلم» 12: 202 ـ 203
      Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]
      Al-Bayhaqi
      وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع الهرج والفتنة العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون على العدد المذكور في الخبر إذا تركت الصفة المذكورة فيه، أو عُدَّ منهم من كان بعد الهرج المذكور فيه.
      ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ الخلفاء»:11
      Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]
      Ibn Katsir
      فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني عشر المذكورين في هذا الحديث هم المتتابعون إلي زمن الوليد بن يزيد بن عبد الملك الفاسق الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه مسلك فيه نظر…فان اعتبرنا ولاية ابن الزبير قبل عبد الملك صاروا ستّة عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل في الاثني عشر يزيد بن معاوية، و يخرج منهم عمر بن عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية» 6: 249 ـ 250
      Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.
      Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan. Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]
      MEREKA BINGUNG ?
      Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.
      Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

      Al-Juwayni Asy-Syafi’i :
      عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه قال: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن أبي طالب، وآخرهم القائم.
      dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.”
      عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه قال: أن‌ّ خلفائي وأوصيائيوححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي. قيل: يا رسول الله، ومن أخوك؟ قال: علي‌ّ بن أبيطالب. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ سلطانه المشرق والمغرب.
      Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”
      رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه قال: أنا، وعلي‌ّ، والحسن، والحسين، وتسعة من ولد الحسين مطهّرون معصومون. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة والنشر، بيروت، 1978، ص
      Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

      Jabir bin Sammarah berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’:

      “Agama ini akan selalu jelas bagi orang yang bermaksud padanya, dan tidak membahayakannya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir, semuanya dari suku Quraisy.” (Musnad Ahmad 5: 89).

      Dalam Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2 disebutkan:

      Jabir bin Sammarah berkata bahwa Nabi saw bersabda:

      “Akan ada sesudahku dua belas amir, semuanya dari suku Quraisy.”

      Dalam Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6: 160 disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

      “Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

      Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

      Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah: pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan.”

      Kemudian Jabir bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi saw menjawab: “Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat dari cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan. inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah merahasiakannya kecuali dari ahlinya.”

  6. VSIcenter.com mengatakan:

    Makasih atas infonya.

    cari info tth syayidina Ali, Alhamdulillah ketemu di sini…

  7. Anonymous mengatakan:

    Bisa ngak menunjukka Ayat-ayat Al Qur’an yang jelas-jelas menyebutkan atau berkaitan dengan Ali?
    Contohnya ayat AQ yang berkaitan dengan Abu Bakar
    9:40] Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quraan menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

    • Maya mengatakan:

      @ Anonymous :
      banyak gan, emang ga tau yah alloh menyebut tentang kemuliaan imam ali dalam banyak ayat, nih ana sebutkan yah ayatnya:
      “Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).
      satu2nya orang yang berzakat dalam keadaan ruku ya hanya imam ali bin abi thanlib.

      kedudukan kenabian dan imâmah adalah wajib untuk ditaati. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amr di antara Kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

      hadist tentang amr (permimpin) :

      Nabi saw bersabda: “sesungguhnya Ali as adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah pemimpin para mu’min setelahku” (صحيح الترمذي – مسند احمد ابن حنبل – مسند ابي داود – خصائص نسائي – كنزالعمال – الرياض النضرة)
      1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]
      2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]
      3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]
      4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

      “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kecintaan kpd ahlul bait. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Asy Syuura Ayat 23).

      yang di katakan ahlul bait:
      dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33)
      Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.

      “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”. (Al Imran ayat 61)

      Para ulama ahli sunnah mengatakan bahwa maksud dari abna ana adalah untuk Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as), dan nisa ana adalah untuk putri Rasul Fatimah Az-Zahra (sa) dan anfusana adalah Imam Ali (as). Dan di dalam ayat ini ditabirkan bahwa Imam Ali adalah jiwa Rasulullah. Dan tidak ada perbedaan anatara Imam Ali dan Rasulullah dari segi maknawi bukan dari segi syariat.

      Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,( Asy syuara 214).

      Dalam kitab Syawahid Al-Tanzil mengenai ayat ini dijelaskan bahwa: Ketika telah dipastikan bahwa dakwah Rasulullah harus disampaikan secara terang-terangan beliau bersabda: Seseorang yang berkehendak menjadi saudaraku, wakilku dan khalifah setelah aku, dan menerima risalahku menolongku dalam mengemban tugas ini, maka dia adalah pengganti dan washiku, Rasul sebanyak tiga kali mengulang perkataan ini, dan Ali (as) menerimanya.Thabari dalam kitab Tarikhnya berkata bahwa: setelah Ali menerima apa yang diutarakan Rasulullah, beliau (saw) bersabda: Ini adalah saudaraku, wakilku dan khalifahku untuk kalian maka dengarkanlah apa yang ia katakana dan taatilah……

      “Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu”.( Muhammad ayat 30)Telah dinukil sebuah riwayat dari Abu sa’id yang tertera dalam beberapa kitab ahli sunnah bahwa: Dan kami akan menunjukan padamu orang-orang munafiq melalui perkataan mereka karena kebencian mereka pada Ali bin Abi Thalib(as). Pada masa Rasulullah (saw) kami mengenal orang-orang munafiq hanya melalui kebencian dan permusuhan mereka kepada Ali bin Abi Thalib (as).

      “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Setelah diturunkan ayat ini setiap kali imam Ali (as) datang mereka berkata: Khairul barriyah (sebaik-baiknya makhluk) telah datang.

      10 surah Al-Insan

      Para ulama sunny mengatakan bahwa surah ini mengenai keutaan imam Ali (as)

      (Dikutip dari kitab Syawadid Altanzil, karya Hakim Al-Hasakaani Al-Hanafi, salah satu kitab dari kitab-kitab Ahlu sunnah dan kitab Peyame Quran, karya Ayatullah Makarim Syirazi, yang dikumpulkan sebagai ayat-ayat berkenaan dengan keutamaan Imam Ali (as). Dan dinukil dari kitab Asynaai ba Nahjul Balagah

      • Anonymous mengatakan:

        AQ dijelaskan hadist?. Ayat dipotong-potong, dipenggal! dan dijelaskan dengan As babun Nuzul. untuk satu kelompok lagi yang dihubung-hubungkan. jika memang benar, kenapa dibuat sumir. jika memang benar haruslah dinyatakan berulang-ulang dalam AQ.

      • Anonymous mengatakan:

        PENJELASAN AL QUR’AN: AL QUR’AN VERSUS HADIST ?
        (RINGKASAN BEBERAPA PENULISAN SEBELUMNYA)

        AQ vs hadist? Tak selayaknyalah pernyataan tersebut dibuat. AQ teratas dan Hadist setelahnya. Semua umat Islam sepakat tentang kedudukan tersebut. Tetapi sejauh mana AQ ditempatkan teratas versus sejauh mana Hadist dicoba untuk menjelaskan AQ lah yang menjadi telaah. Hampir selalu, disadari atau tidak, hadist telah dipaksakan menjelaskan ayat-ayat AQ.
        Hampir tidak ada keunggulan hadist atas AQ dalam menjelaskan AQ, dibandingkan AQ menjelaskan dirinya sendiri.
        1. Dari segi sejarah penulisan. AQ ditulis dengan riwayat penulisan yang jelas. Ayat-ayat ditulis minimal 2 catatan dan 2 periwayat dan telah dibukukan tidak lama setelah nabi wafat. Tidak ada perbedaan AQ yang beredar sekarang ini, jadi hanya ada AQ tunggal. Hadist sebaliknya, ditulis setelah 2 atau 3 abad kemudian. Memiliki berbagai versi terhadap satu atau lebih sunnah nabi. Terdapat banyak kitab yang meriwayatkannya. Tidak ada yang betul-betul menjamin bahwa hadist sama percis apa yang diucapkan/diriwayatkan nabi (sunnah). Kalimat Azan (+ Iqomah) yang terdiri dari 7 kalimat yang diucapkan 15 kali sehari, terus-menerus, sampai ia ditulis: baru kalimat ini sama dengan aslinya. Kalimat basmalah yang diucapkan dalam surah Al Faatihah, yang kebetulan terdiri juga 7 kalimat, yang lagi-lagi kebetulan juga memiliki 2 kalimat yang sama (Yakni: yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pada AF,Allahuakbar pada azan) memiliki variasi: keras / lemah / tidak diucapkan yang memiliki dasar hadist masing-masing. Dapat ditarik pelajaran disini adalah : hanya jika diucapkan keras, terus menerus sebanyak 15 kali saja, 7 kalimat dapat sampai ke zaman kini tanpa ada perubahan. Klaim inipun terganggu, dengan adanya 2 versi azan aliran besar. Nah, bagaimana mungkin suatu yang memiliki riwayat penulisan yang kurang baik mau menjelaskan sesuatu yang memiliki riwayat penulisan yang baik dan akurat. Yang terkadang penjelasan tersebut (hadist) memiliki kalimat yang lebih kompleks, bahkan lebih dari 7 kalimat.
        2. AQ berada dalam suatu sistem yang terikat kuat. Kata-kata, kalimat-kalimat, ayat-ayat yang saling berhubungan/berikatan sangat kuat. Hadist berada dalam satu sistem yang terurai. Satu hadist belum tentu berhubungan dengan yang lain karena konteks situasi dan kondisi berbeda. Periwayatannya hanya mengandalkan satu perawi yang menanjak sampai ke nabi. Sistem yang kuat dari AQ memudahkan penelusuran makna kata-kata bagi yang tidak mengerti bahasa arab. Orang tidak bisa menafsir suatu kata menjadi makna yang lain ketika ada kata yang bermakna ganda ketika kata terikat kalimat dan ayat. Orang tidak bisa memaknai menjadi kata yang modern, karena AQ selalu mengajak pembacanya ke pola tafsir-tafsir yang sederhana, Orang bisa mengontrol makna tersebut karena banyak tafsir AQ (terhadap satu kitab AQ yang sama) dan beberapa dengan dilengkapi tasir perkata. Hadist sebaliknya, sedikit terjemahannya, ditafsir melalui orang-orang yang terbatas, dan tasirnya terunut ke para perawi. Hal lain yang memperparah adalah banyaknya kitab hadist yang beredar yang terkadang meriwayatkan peristiwa yang sama tetapi dengan redaksi kata-kata yang berbeda. Sangat sulit mengontrol maknanya. Makna kata-kata nabi (sunnah) sudah pasti berdasarkan persepsi perawi. Dan periwayatan perawi menghasilkan kata-kata dimana bahasa arab telah berkembang. Ada anggapan yang keliru yang terbalik ketika orang takut menafsir AQ sementara hadist tidak, karena menganggap makna AQ sering bias, berhati-hati memaknai kata-kata AQ sementara hadist tidak, menyerahkan tasir ke ulama dengan anggapan jika ada kesalahan maka kesalahan lebih kecil pedahal tidak (lihat saja perbedaan persepsi hadist di aliran-aliran Islam, makin kental keilmuan ulama suatu aliran maka makin jelas perbedaannya malahan berseberangan bahkan bertentangan). Kesalahan yang merunut ke sumber aslinya (dalam hal ini: AQ), maka kesalahan akan lebih kecil lagi. Kesalahan yang terjadi belakangan (perawi terakhir yang meriwayatkan hadist) pastilah terjadi bias yang lebih besar.
        Kontrol hadist akan sangat sulit dilakukan oleh orang Islam awam, karena banyak sumber, banyak pendapat, dan tidak selalu tersedia “dipasaran”. Karena itu telaah hadist memerlukan orang-orang mumpuni untuk menilainya. Orang dapat saja mengungkapkan suatu hadist dhaif tanpa banyak disadari orang Islam awam bahwa hadist itu salah (kecuali oleh para ahli hadist, walaupun sekarang dengan internet keterbatasan ini menjadi berkurang). Hal ini sangat berbeda dengan AQ, orang tak bisa membuat pernyataan salah tentang ayat AQ, karena semua orang bisa mengotrol maknanya.
        3. AQ memiliki kamusnya sendiri yang Allah senyawakan dengan AQ itu sendiri. Hadist memiliki penjelasan dari nabi. Hampir seluruhnya terminologi AQ sama dengan hadist, tetapi beberapa kata memiliki istilah yang sedikit beda, misalnya kata kafir (AQ juga mengalamatkan untuk orang-orang yang hanya mengambil sebagian AQ dan meninggalkan sebagian yang lainnya). Beberapa istilah nabi disempitkan atau bahkan diluaskan oleh AQ.
        4. AQ memiliki system yang teramat kuat untuk memberitahu pembacanya untuk kembali ke AQ. Untuk menjelaskan AQ dengan AQ. Banyak ayat yang menyatakan itu, diulang-ulang, dan banyak yang terletak di ayat-ayat awal AQ setelah huruf fawatih. Sementara hadist sebaliknya, selalu diingatkan untuk mencermati hadist karena banyaknya hadist dhaif, karena itu Rasul mengingatkan: Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. Hadist ini termasuk hadist yang mutawathir. Hampir 200 sahabat yang meriwayatkan ini, dan dikeluarkan puluhan kitab hadist. (untuk lihat lengkapnya silakan cari di google dengan memasukkan kata-kata tersebut). Menyebarkan ayat AQ sudah pasti berpahala, sementara hadist: ibarat pisau bermata ganda, jika hadist itu shahih berpahala, jika tidak, berarti turut menyebarkan hadist palsu. Terus menerus menyebarkan hadist palsu ini dan tanpa ada usaha diri untuk mengkoreksi apa hadist ini palsu atau tidak, sudah pasti salah dan mungkin berdosa.
        5. AQ berhasil secara jelas mendudukan nabi dikedudukannya seperti yang AQ inginkan. Kedudukan nabi jelas setelah AQ. Hampir selalu AQ menyatakan bahwa taatilah Allah dan taatilah rasul. Hanya satu ayat yang taat ke rasul mendahului taat kepada Allah, tetapi jika ayat ini ditinjau, nyatalah ayat inipun menempatkan Allah diurutan pertama. AQ telah teramat baik mengunakan sebutan-sebutan untuk nabi yang berlainan: sebagai bagian dari kami (di AF), aku, engkau, bagian dari kalian, dia, namanya sendiri (Muhammad atau Ahmad dimana masing-masing terdapat 4 dan 1 kata dalam AQ), atau bahkan sebagai nabi atau rasul. AQ tidak mengunakan terminologi taatilah nabi tetapi mengunakan taatilah rasul. Hadist terkadang gagal menempatkan nabi seperti AQ yang ingin tempatkan. Maka hampir selalu hadist harus diterapkan dalam kehidupan umat, misalnya berpoligami.
        6. Kedudukan nabi yang bermacam-macam di AQ mencerminkan sikap umat Islam yang seharusnya terhadap nabi (sunnah/hadist). Walaupun secara umum nabi harus diikuti (sebagai pemimpin kami di AF), tetapi ada fungsi dan kedudukan nabi tidak mesti diikuti. Nabi tetaplah berada dalam satu situasi dan kondisi tertentu yang sangat berbeda dengan sekarang (AQ menyebut engkau untuk nabi), tetapi nabi sangat pasti membawa nilai-nilai yang universal yang berlaku di segala zaman (AQ menyebut kalian dimana nabi merupakan pemimpin kalian dan wajib diikuti). Pemujaan nabi terhadap Tuhannya (sebagai aku di AQ) diharuskan oleh Allah untuk diikuti, tanpa Allah harus memberikan petunjuk pelaksanaannya, Allah hanya mengarahkan saja dimana perlu, misalnya tatacara shalat. Memahami kedudukan nabi yang demikian ini dalam AQ maka dapat dipahami bagaimana kehendak sesungguhnya Allah terhadap umat Islam.
        7. Kitab AQ haruslah dikembalikan sebagai fungsi dasarnya, yakni sebagi PETUNJUK kehidupan bagi orang-orang bertaqwa. Dalam membuat petunjuknya, pastilah Allah telah lengkap mengkreasi AQ, tinggal bagaimana menggalinya. Beberapa petunjuk ini terkadang belum diperlukan oleh nabi sehingga tidak sedikit ayat yang tidak mempunyai dasar asbabun nuzulnya. Jadi ini juga kekurangan jika AQ dijelaskan oleh nabi, tidak selalu ayat-ayat AQ dapat dijelaskan nabi. Diluar petunjuk, bisa jadi Allah menginformasikan informasi yang lebih kepada nabi, misalnya kisah-kisah para nabi sebelumnya, peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan ini Allah cukupkan untuk nabi saja sebagai hadist qudsi. Jadi hadist qudsi tidak dimasukkan ke dalam AQ karena ia berada di luar struktur kuat AQ.
        Tulisan ini bukan mengajak untuk “ingkar sunnah”, suatu istilah yang sangat mematikan untuk menelahah hadist. Tulisan ini ditujukan untuk mengajak kembali ke AQ sebagai rujukan yang utama, dan menempatkan hadist di posisi kedua. Hadist tidak cukup disaring oleh sistem saringan konvensional yang telah ada, tetapi juga harus disaring oleh AQ. Karena ayat-ayat AQ dapat berdiri sendiri, dijelaskan oleh dirinya sendiri secara rinci, jelas, tidak ada yang bertentangan, dllnya. Yang kehabisan kata, jika mendalami kedalamannya. Karena itu sangat jelas di awal AQ (QS 2:2), Allah mengklaim: AQ sebagai kitab yang tidak ada keraguan padanya. Tidak ada keraguan dalam segala hal: termasuk penjelasannya yang jelas-jelas bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri.

  8. Anonymous mengatakan:

    PENJELASAN AL QUR’AN: AL QUR’AN VERSUS HADIST ?
    (RINGKASAN BEBERAPA PENULISAN SEBELUMNYA)

    AQ vs hadist? Tak selayaknyalah pernyataan tersebut dibuat. AQ teratas dan Hadist setelahnya. Semua umat Islam sepakat tentang kedudukan tersebut. Tetapi sejauh mana AQ ditempatkan teratas versus sejauh mana Hadist dicoba untuk menjelaskan AQ lah yang menjadi telaah. Hampir selalu, disadari atau tidak, hadist telah dipaksakan menjelaskan ayat-ayat AQ.
    Hampir tidak ada keunggulan hadist atas AQ dalam menjelaskan AQ, dibandingkan AQ menjelaskan dirinya sendiri.
    1. Dari segi sejarah penulisan. AQ ditulis dengan riwayat penulisan yang jelas. Ayat-ayat ditulis minimal 2 catatan dan 2 periwayat dan telah dibukukan tidak lama setelah nabi wafat. Tidak ada perbedaan AQ yang beredar sekarang ini, jadi hanya ada AQ tunggal. Hadist sebaliknya, ditulis setelah 2 atau 3 abad kemudian. Memiliki berbagai versi terhadap satu atau lebih sunnah nabi. Terdapat banyak kitab yang meriwayatkannya. Tidak ada yang betul-betul menjamin bahwa hadist sama percis apa yang diucapkan/diriwayatkan nabi (sunnah). Kalimat Azan (+ Iqomah) yang terdiri dari 7 kalimat yang diucapkan 15 kali sehari, terus-menerus, sampai ia ditulis: baru kalimat ini sama dengan aslinya. Kalimat basmalah yang diucapkan dalam surah Al Faatihah, yang kebetulan terdiri juga 7 kalimat, yang lagi-lagi kebetulan juga memiliki 2 kalimat yang sama (Yakni: yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pada AF,Allahuakbar pada azan) memiliki variasi: keras / lemah / tidak diucapkan yang memiliki dasar hadist masing-masing. Dapat ditarik pelajaran disini adalah : hanya jika diucapkan keras, terus menerus sebanyak 15 kali saja, 7 kalimat dapat sampai ke zaman kini tanpa ada perubahan. Klaim inipun terganggu, dengan adanya 2 versi azan aliran besar. Nah, bagaimana mungkin suatu yang memiliki riwayat penulisan yang kurang baik mau menjelaskan sesuatu yang memiliki riwayat penulisan yang baik dan akurat. Yang terkadang penjelasan tersebut (hadist) memiliki kalimat yang lebih kompleks, bahkan lebih dari 7 kalimat.
    2. AQ berada dalam suatu sistem yang terikat kuat. Kata-kata, kalimat-kalimat, ayat-ayat yang saling berhubungan/berikatan sangat kuat. Hadist berada dalam satu sistem yang terurai. Satu hadist belum tentu berhubungan dengan yang lain karena konteks situasi dan kondisi berbeda. Periwayatannya hanya mengandalkan satu perawi yang menanjak sampai ke nabi. Sistem yang kuat dari AQ memudahkan penelusuran makna kata-kata bagi yang tidak mengerti bahasa arab. Orang tidak bisa menafsir suatu kata menjadi makna yang lain ketika ada kata yang bermakna ganda ketika kata terikat kalimat dan ayat. Orang tidak bisa memaknai menjadi kata yang modern, karena AQ selalu mengajak pembacanya ke pola tafsir-tafsir yang sederhana, Orang bisa mengontrol makna tersebut karena banyak tafsir AQ (terhadap satu kitab AQ yang sama) dan beberapa dengan dilengkapi tasir perkata. Hadist sebaliknya, sedikit terjemahannya, ditafsir melalui orang-orang yang terbatas, dan tasirnya terunut ke para perawi. Hal lain yang memperparah adalah banyaknya kitab hadist yang beredar yang terkadang meriwayatkan peristiwa yang sama tetapi dengan redaksi kata-kata yang berbeda. Sangat sulit mengontrol maknanya. Makna kata-kata nabi (sunnah) sudah pasti berdasarkan persepsi perawi. Dan periwayatan perawi menghasilkan kata-kata dimana bahasa arab telah berkembang. Ada anggapan yang keliru yang terbalik ketika orang takut menafsir AQ sementara hadist tidak, karena menganggap makna AQ sering bias, berhati-hati memaknai kata-kata AQ sementara hadist tidak, menyerahkan tasir ke ulama dengan anggapan jika ada kesalahan maka kesalahan lebih kecil pedahal tidak (lihat saja perbedaan persepsi hadist di aliran-aliran Islam, makin kental keilmuan ulama suatu aliran maka makin jelas perbedaannya malahan berseberangan bahkan bertentangan). Kesalahan yang merunut ke sumber aslinya (dalam hal ini: AQ), maka kesalahan akan lebih kecil lagi. Kesalahan yang terjadi belakangan (perawi terakhir yang meriwayatkan hadist) pastilah terjadi bias yang lebih besar.
    Kontrol hadist akan sangat sulit dilakukan oleh orang Islam awam, karena banyak sumber, banyak pendapat, dan tidak selalu tersedia “dipasaran”. Karena itu telaah hadist memerlukan orang-orang mumpuni untuk menilainya. Orang dapat saja mengungkapkan suatu hadist dhaif tanpa banyak disadari orang Islam awam bahwa hadist itu salah (kecuali oleh para ahli hadist, walaupun sekarang dengan internet keterbatasan ini menjadi berkurang). Hal ini sangat berbeda dengan AQ, orang tak bisa membuat pernyataan salah tentang ayat AQ, karena semua orang bisa mengotrol maknanya.
    3. AQ memiliki kamusnya sendiri yang Allah senyawakan dengan AQ itu sendiri. Hadist memiliki penjelasan dari nabi. Hampir seluruhnya terminologi AQ sama dengan hadist, tetapi beberapa kata memiliki istilah yang sedikit beda, misalnya kata kafir (AQ juga mengalamatkan untuk orang-orang yang hanya mengambil sebagian AQ dan meninggalkan sebagian yang lainnya). Beberapa istilah nabi disempitkan atau bahkan diluaskan oleh AQ.
    4. AQ memiliki system yang teramat kuat untuk memberitahu pembacanya untuk kembali ke AQ. Untuk menjelaskan AQ dengan AQ. Banyak ayat yang menyatakan itu, diulang-ulang, dan banyak yang terletak di ayat-ayat awal AQ setelah huruf fawatih. Sementara hadist sebaliknya, selalu diingatkan untuk mencermati hadist karena banyaknya hadist dhaif, karena itu Rasul mengingatkan: Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. Hadist ini termasuk hadist yang mutawathir. Hampir 200 sahabat yang meriwayatkan ini, dan dikeluarkan puluhan kitab hadist. (untuk lihat lengkapnya silakan cari di google dengan memasukkan kata-kata tersebut). Menyebarkan ayat AQ sudah pasti berpahala, sementara hadist: ibarat pisau bermata ganda, jika hadist itu shahih berpahala, jika tidak, berarti turut menyebarkan hadist palsu. Terus menerus menyebarkan hadist palsu ini dan tanpa ada usaha diri untuk mengkoreksi apa hadist ini palsu atau tidak, sudah pasti salah dan mungkin berdosa.
    5. AQ berhasil secara jelas mendudukan nabi dikedudukannya seperti yang AQ inginkan. Kedudukan nabi jelas setelah AQ. Hampir selalu AQ menyatakan bahwa taatilah Allah dan taatilah rasul. Hanya satu ayat yang taat ke rasul mendahului taat kepada Allah, tetapi jika ayat ini ditinjau, nyatalah ayat inipun menempatkan Allah diurutan pertama. AQ telah teramat baik mengunakan sebutan-sebutan untuk nabi yang berlainan: sebagai bagian dari kami (di AF), aku, engkau, bagian dari kalian, dia, namanya sendiri (Muhammad atau Ahmad dimana masing-masing terdapat 4 dan 1 kata dalam AQ), atau bahkan sebagai nabi atau rasul. AQ tidak mengunakan terminologi taatilah nabi tetapi mengunakan taatilah rasul. Hadist terkadang gagal menempatkan nabi seperti AQ yang ingin tempatkan. Maka hampir selalu hadist harus diterapkan dalam kehidupan umat, misalnya berpoligami.
    6. Kedudukan nabi yang bermacam-macam di AQ mencerminkan sikap umat Islam yang seharusnya terhadap nabi (sunnah/hadist). Walaupun secara umum nabi harus diikuti (sebagai pemimpin kami di AF), tetapi ada fungsi dan kedudukan nabi tidak mesti diikuti. Nabi tetaplah berada dalam satu situasi dan kondisi tertentu yang sangat berbeda dengan sekarang (AQ menyebut engkau untuk nabi), tetapi nabi sangat pasti membawa nilai-nilai yang universal yang berlaku di segala zaman (AQ menyebut kalian dimana nabi merupakan pemimpin kalian dan wajib diikuti). Pemujaan nabi terhadap Tuhannya (sebagai aku di AQ) diharuskan oleh Allah untuk diikuti, tanpa Allah harus memberikan petunjuk pelaksanaannya, Allah hanya mengarahkan saja dimana perlu, misalnya tatacara shalat. Memahami kedudukan nabi yang demikian ini dalam AQ maka dapat dipahami bagaimana kehendak sesungguhnya Allah terhadap umat Islam.
    7. Kitab AQ haruslah dikembalikan sebagai fungsi dasarnya, yakni sebagi PETUNJUK kehidupan bagi orang-orang bertaqwa. Dalam membuat petunjuknya, pastilah Allah telah lengkap mengkreasi AQ, tinggal bagaimana menggalinya. Beberapa petunjuk ini terkadang belum diperlukan oleh nabi sehingga tidak sedikit ayat yang tidak mempunyai dasar asbabun nuzulnya. Jadi ini juga kekurangan jika AQ dijelaskan oleh nabi, tidak selalu ayat-ayat AQ dapat dijelaskan nabi. Diluar petunjuk, bisa jadi Allah menginformasikan informasi yang lebih kepada nabi, misalnya kisah-kisah para nabi sebelumnya, peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan ini Allah cukupkan untuk nabi saja sebagai hadist qudsi. Jadi hadist qudsi tidak dimasukkan ke dalam AQ karena ia berada di luar struktur kuat AQ.
    Tulisan ini bukan mengajak untuk “ingkar sunnah”, suatu istilah yang sangat mematikan untuk menelahah hadist. Tulisan ini ditujukan untuk mengajak kembali ke AQ sebagai rujukan yang utama, dan menempatkan hadist di posisi kedua. Hadist tidak cukup disaring oleh sistem saringan konvensional yang telah ada, tetapi juga harus disaring oleh AQ. Karena ayat-ayat AQ dapat berdiri sendiri, dijelaskan oleh dirinya sendiri secara rinci, jelas, tidak ada yang bertentangan, dllnya. Yang kehabisan kata, jika mendalami kedalamannya. Karena itu sangat jelas di awal AQ (QS 2:2), Allah mengklaim: AQ sebagai kitab yang tidak ada keraguan padanya. Tidak ada keraguan dalam segala hal: termasuk penjelasannya yang jelas-jelas bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s