Manusia adalah gabungan Akal dan Hawa Nafsu

Manusia adalah gabungan Akal dan Hawa Nafsu

Bahwa meskipun hawa nafsu mempunyai daya yang sangat kuat dan berpevan aktif serta efektif dalam kehidupan manusia, tapi kehendaknya untuk menyempurnakan, mematangkan dan menonjolkan peran akal tidak pernah terampas. Hal itu disebabkan oleh karena manusia terdiri dari akal dan hawa nafsu.

Manusia selalu berada dalam tarik-menarik kedua faktor ini. Fluktuasi keduanya berakibat langsung pada manusia. Semuanya, sebenarnya, bergantung pada manusianya sendin dalam sejauh mana mengfungsikan atau medisfungsikan akal dalam kehidupannya.

Manusia berbeda sekali dengan binatang. Binatang tidak mempunyai akal yang bisa mengatur dunianya; langkah-langkahnya secara total dikemudikan oleh hawa nafsu. la sepenuhnya tunduk padanya dan sikapnya termanifestasi melalui faktor hawa nafsu saja.

Imam Ali as berkata: “Allah menganugerahkan akal yang tak berunsur syahwat kepada inalaikat, syahwat tanpa unsur akal pada binatang, dan keduanya (akal dau syahwat) kepada anak cucu Adam. Karenanya, siapa yang akalnya bisa mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk daripada binatang.”

Enam bagian Jiwa Manusia

Enam bagian Jiwa Manusia

Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya dalam kehidupan manusia, saya perlu menegaskan bahwa Allah SWT telah memasang beberapa sumber gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun reaktif- dan kesadaran manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada enam sumber penting, yang terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut.

1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan. hasrat dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih keutamaan-keutamaan akhlak, seperti kesetiaan, ‘iffah (harga diri), belas kasih dan murah hati.

2. ‘Aql, adalah titik pembeda manusia.

3. Iradah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin kebebasan manusia (dalam mengambil keputusan) dan kemerdekaannya.

4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. la bertugas mengadili, mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi menyeimbangkan prilakunya.

5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi kesadaran dan pengetahuan, sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran, yang dapat menerima atau menampung pencerahan Ilahi.

6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan dalam jiwa manvisia yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya terpenuhi, iadapat memberi manusia kenikmatan tersendiri.

Inilah keenam sumber penting bagi gerak dan kesadaran jiwa manusia yang telah diberikan oleh Allah.

Dalam kesempatan ini, rasanya tidak tepat jika saya membahas sumber-sumber tersebut atau membentuk gambaran dan simpulan ilmiah melalui nash-nash keislaman. Karena, bidang psikologi keislaman ini memerlukan kajian, observasi dan penalaran yang mendalam. Semoga Allah memudahkan bagi mereka yang menelitinya melalui teks-teks keislaman. Bidang ini tergolong subur dan “perawan” (tak tergarap). Kesuburan dan “keperawanan” salah satu dari lahan-lahan budaya keislaman ini mestinya merangsang para ilmuwan dan peneliti untuk menggarapnya.

Tugas saya dalam kajian kali mi, hanya terbatas pada masalah definisi serta peran hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Di samping itu. saya akan membahas keistimewaan, dampak, tujuan dan sarana-sarana pengekangannya serta beberapa masalah lain yang berkaitan.

Bersamaan dengan itu, dalam mengkaji hawa nafsu saya akan beberkan hadis-hadis yang berhubungan dengan “sumber-sumber” lain jiwa yang ikut andil dalam pergerakan dan kesadaran manusia. Penggunaan istilah hawa nafsu dalam kebudayaan Islami mangacu pada gabungan beberapa naluri yang bersemayam dalam jiwa, sedangkan manusia sebagai penyandangnya selalu dituntut agar memenuhi hasratnya. Berbagai naluri syahwati itu membentuk bagian terpenting dan berperan luar biasa dalam kepribadian manusia. la adalah faktoi- utama dalam menggerakkan dan mengatur diri manusia. Bahkan sebagai kunci yang paling efektif untuk mengatur aksi dan reaksinya.

Konsep insan kamil menurut Islam

Konsep insan kamil menurut IslamRumi mengatakan, sekiranya ia tidak ada, langit dan para malaikat tidak akan memiliki tempat; sekiranya ia tidak ada, maka bumi tidak akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan mengembangkan bunga melati.

Ia dalam pembicaraan Rumi adalah sosok insan kamil atau manusia sempurna yang telah mencapai derajat yang paling tinggi dari kemanusiaan dan kesempurnaan dirinya dari seluruh makhluk dan mengatasi makhluk lainnya. Ia adalah insan kamil.

Pembicaraan mengenai insan kamil adalah pembicaraan yang menjadi titik tolak dalam pembicaaraan tentang ciptaan-ciptaaan Allah Swt khususnya dalam dunia tasawuf dan filsafat Islam. Karena itu pembicaraan mengenai insal kamil pada khazanah irfan adalah sisi batin dari manusia.

Ada dua karya besar yang berbicara mengenai insan kamil. Pertama, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awail karya Syekh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1366-1430 M) dan al-Insan al-Kamil karya Azizuddin Nasafi.

Dalam dunia tasawuf, eksistensi selain Allah adalah eksistensi yang relatif atau nisbi. Pasalnya, segala sesuatu selain Allah Swt adalah pancaran dari diri Allah Swt. Disebutkan juga dalam dunia tasawuf bahwa alam semesta ini atau segala yang berkaitan yang diciptakan oleh Allah Swt, tidak lain adalah menifestasi dari Allah Swt. La maujudan illallah dan la mahbuban illallah dan la maqshudan illallah.

Allah mengambarkan semua ini sebagai tanda-Nya atau ayat-Nya seperti dikatakan dalam ayat, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, (QS 41:53)

Mengapa Allah mengatakan semua ini sebagai tanda bagi diri-Nya? Bukanlah hal ini adalah riil-Nya. Namun, ia hanyalah dapat mengantarkan kita kepada pemahaman sesuatu yang diisyaratkan-Nya dan sesuatu di balik dari semua ini tidak lain adalah Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, dalam keyakinan para arif dan sufi, apa yang muncul dari alam ini adalah wujud yang tidak nyata, hanya sebagai sebuah isyarat saja. Bahkan diri dan eksistensi kita bukan disebabkan oleh dirinya, melainkan oleh sesuatu yang lain itu. Dari sinilah pembicaraan mengenai insan kamil itu muncul.

Pembicaraan mengenai insan kamil ini menjadi sesuatu penting disebabkan, pertama, orang hanya dapat mengenai hakikat Allah yang sejati melalui pemahamannya terhadap insan kamil. Yang sebelumnya mungkin manusia mengenai Allah melalui bentuk dari tanda-tanda-Nya atau ciptaan-ciptaan-Nya, bukan melalui hakikat yang diisyaratkan-Nya. Hal ini disebabkan bahwa makrifat kita belum sempurna.

Para sufi pun mengkritisi para filosof, yang berbasis pemahaman akal, dengan mengatakan bagaimana mungkin Anda memahami cahaya Allah dengan cahaya lilin, bagaimana mungkin pemahaman makhluk ini digandengkan dengan Tuhan. Bagaimana Anda akan memahami cahaya matahari yang luar biasa melalui cahaya lilin? Anda harus membuka jendela rumah Anda dan di situ Anda akan menemukan cahaya matahari yang sesungguhnya. Anda harus mengangkat pemahaman Anda dari akal ini dan membuka pintu hati Anda. Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ali as, ”Bagaimana mungkin engkau menyembah Tuhan yang tidak engkau saksikan?” Imam Ali berkata, ”Bagaimana mungkin aku menyembah Dia sementara aku belum menyaksikan-Nya?”

Dalam hal ini, Imam Ali sudah mencapai derajat kesempurnaannya. Derajat kedekatan kita ditentukan oleh kedekatan kita dalam mengenal-Nya.

Yang kedua adalah kita mengenali hakikat kita yang sesungguhnya. Ke mana kita akan berjalan atau kita memiliki tujuan dalam perjalanan hidup kita? Tujuan yang paling mendasar dari hidup kita adalah Allah Swt. Bagaimana kita mampu berjalan menuju Allah?

Posisi insan kamil ini adalah orang-orang yang sudah melakukan proses perjalanan itu sehingga ia mampu mengikuti-Nya. Kita selalu berdoa, ”Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.” Jalan siapa itu? Adalah jalan orang-orang yang Kami beri kenikmatan dan mereka tidak berada dalam kesesatan.

Poin penting ketiga adalah kita mampu melihat realitas diri Muhammad, diri para nabi para rasul dan kekasih Allah dengan makna yang benar. Apakah pandangan mereka salah? Dikarenakan pandangan mereka (orang awam) selama ini adalah pandangan dalam bentuk fisiknya.

Berdasarkan tiga poin ini maka pembicaraan mengenai insan kamil ini menjadi penting. Pertama, adalah hakikat penciptaan manusia; kedua, tentang khalifah dan hakikat insan kamil; dan ketiga, ketergantungan seluruh semesta terhadap insan kamil dalam perjalanan menuju Allah Swt.

Hakikat Penciptaaan Manusia
Bahwa Allah Swt pada hadis Qudsi berfirman, ”Aku adalah pembendaharaan yang tersembunyi dan cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakanlah beragam ciptaan.”

Allah mengisyaratkan tentang diri-Nya dengan kata Dia (Yang Tersembunyi), dalam ketunggalan-Nya, karena kecintaan diri-Nya untuk dikenal. Ibarat manusia yang selalu bercermin terhadap dirinya disebabkan manusia mencintai dirinya atau sebagai dorongan cinta terhadap dirinya dan beragam pengetahuaan manusia tentang dirinya itu muncul. Keberagaman pengetahuan yang muncul dari diri-Nya inilah memunculkan keberagaman hal. Allah Swt ketika memahami diri-Nya, munculnya pengetahuan tentang diri-Nya, baru dari pengetahuan inilah, muncul alam semesta ini. Maka Allah mengatakan, ”Maka Aku ciptakan beragam ciptaaan”, baru fase atau proses ketiga muncul.

Setiap kemunculan dari diri Allah itu, maka muncullah persepsi nama Allah yang indah dan mengantarkan pada kesempurnaan. Dalam ayat disebutkan, Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (QS 17: 110) Karena itu, beragam nama di sini, setiap nama ini memanifestasikannya ke alam semesta. Setiap alam ini menunjukkan gambaran atau manifestasi nama Allah Swt.

Hakikat Manusia Dalam Matsnawi Rumi

“Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos,
pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.
Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.
Kalau bukan karena mengharap dan menginginkan tubuh,
betapa pekebun itu akan menanam pohon.
Jadi sekalipun tampaknya pohon itulah yang melahirkan buah
(Tapi) pada hakikatnya (justru) pohon itulah yang lahir dari buah.”
(al-Mastnawi 4:30)

Maulana Jalaluddin Rumi al-Balkhi adalah seorang arif besar. Beliau lebih dikenal dengan Maulawi Rumi, dan merupakan sastrawan Persia abad ke tujuh Hijriah. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Matsnawi, yang isinya membahas tentang banyak hal. Dalam buku Menapak Jalan Spiritual, Murtadha Muthahhari mengatakan, “Matsnawi merupakan samudra filsafat dan irfan, yang sarat dan penuh dengan berbagai hal yang pelik yang bersifat spiritual, sosial dan irfan.”

Pembahasan tentang hakikat manusia adalah salah satu bahasan khusus yang dibahas oleh Rumi dalam Matsnawinya. Memahami hakikat manusia sangatlah sulit bagi sebagian dari kita. Padahal itu merupakan hakikat dirinya. Imam Khomeini pernah mengatakan “Menjadi ulama itu gampang tapi menjadi manusia itu amatlah sulit.” Dengan mengetahui esensi manusia akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan Tuhan.

Allah mengungkapkan tanda keagungan dan kekuaasaan-Nya melalui alam dan dalam diri manusia. Sehingga kalau kita mengetahuinya dengan baik maka hidup kita pun akan baik. Allah berfirman : “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Ankabut : 53)

Manusia adalah makhluk yang unik. Hingga kini fisiknya saja masih diteliti dan masih banyak rahasia yang belum terpecahkan. Telebih lagi dari sisi jiwanya. Yang merupakan inti dari segala hal. Dalam hadis banyak disebutkan tentang keutamaan ma’rifatun nafs ini (pengetahuan tentang hakikat diri). Misalnya, Imam Ali berkata, “Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka dia telah mencapai puncak setiap makrifah dan ilmu.”, “Janganlah kalian bodoh dengan tidak mengetahui hakikat diri kalian, karena kalau kalian bodoh dengan itu berarti kalian bodoh dengan segala hal.”, “Cukuplah pengetahuan seseorang itu kalau mengetahui hakikat dirinya dan cukuplah kebodohannya kalau tidak tahu akan hakikat dirinya.”

Maulawi Rumi adalah termasuk orang yang mengetahui hakikat dirinya, sehingga dia mencapai puncak makrifat dan keyakinan. Sebagaimana yang diutarakan dalam bait-bait syairnya. Dalam bait pertama dia mengatakan : “Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.”

Dari segi fisiknya, manusia adalah bagian dari makrokosmos, karena kita hidup di alam. Kita membutuhkan makan, kita membutuhkan air, kita perlu sayuran, kita pun perlu untuk makan daging. Apakah kebutuhan kita akan semua itu secara fitri dan tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun ? Atau makanan hanyalah sebagai penunjang saja agar kita bisa bertahan hidup ? Dan alam diciptakan sebagai penunjang dalam hidup manusia ?

Rumi mengatakan bahwa dalam hakikatnya manusia, (bukan fisiknya) adalah makrokosmos. Kita adalah alam lain yang lebih besar dari alam ini. Sebagaimana perkataannya Imam Ali, “Apakah kalian mengira kalian, hanya tubuh kecil ini,padahal kalian adalah alam yang sangat besar.”Aneh memang manusia itu lebih banyak meneliti hal-hal diluar dirinya sedangkan hakikat dirinya sendiri tidak pernah diteliti, tidak pernah mencoba meneropong kedalam jiwanya. Selanjutnya Maulawi Rumi menjelaskan lebih jauh dengan sebuah perumpamaan :

“Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.”

Beliau umpamakan bahwa manusia itu ibarat buah, dan buah merupakan hasil akhir dan harapan petani penanam buah. Sedangkan alam ibarat ranting, ranting tercipta demi buah, ranting hanyalah sebagai wasilah untuk tumbuhnya buah. Jadi yang paling penting itu adalah buahnya bukan ranting atau pun pohon.

Sebagaimana sering disebutkan dalam Al-Quran bahwa alam diciptakan merupakan tanda dari kasih sayang Allah akan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Jadi inti dari itu semua adalah alam diciptakan untuk manusia, yang harus dijadikan sebagai perantara untuk mencapai ridha Allah.

Tapi sayang berapa banyak dari manusia ini yang menjadikan alam, materi, kekayaan sebagai tujuan bukannya sebagai perantara penghantar kepada Tuhan.

Dan akibat dari itu adalah penyimpangan dan keserakahan untuk mendapatkan kekayaan dengan menggunakan segala cara. Kita terkadang melebihi binatang untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita banyak melakukan penyelewengan dalam menggunakan alam. Yang semestinya kita gunakan untuk kemajuan kemanusiaan kita malah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan demi menguasai alam. Sebagaimana Allah berfirman, “Apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan darinya (tidak berterima kasih) tapi apabila ia tertimpa kejahatan, ia (berdoa) dengan doa yang panjang.”

Tubuh kita hanyalah perantara, karena kita hidup di alam fisik, alam yang senantiasa bebenturan dengan materi, Rumi melanjutkan : “Kalau bukan mengharap dan menginginkan tubuh betapa pekebun itu akan menanam pohon.”

Pohon hanya sebagai perantara sang petani untuk mendapatkan buah, karena buah tidak mungkin ada tanpa adanya pohon. Begitu juga hakikat manusia itu tidak akan bercahaya tanpa melalui perantara tubuh kasar ini, tubuh harus mengikuti ruh, dan harus seiring dengan ruh,jangan sampai tubuh dan tuntutannya (hawa nafsu) yang mengendalikan.

Kalau kita pandang sekilas nampaknya kita bagian dari alam, kita tidak bisa lepas dari alam, tapi kalau kita teliti dan mencoba menganalisis lebih jauh rahasia-rahasia alam maka akan nampak dan akan kita ketahui bahwa alam diciptakan untuk kita, alam berasal dari kita, alam sebagai pemandu dan pengingat kita akan keagungan dan kebesaran sang pencipta, sepertinya pohon tumbuh untuk melahirkan buah padahal pohon asalnya dari buah. “Jadi sekalipun pohon itu tampaknya yang melahirkan buah (tetapi) pada hakikatnya justru pohon itulah yang lahir dari buah.”

Maulawi belum menerangkan secara rinci akan hakikat manusia, dia baru menerangkan bahwa kita adalah alam yang lain (makrokosmos lain) dan bukannya bagian dari alam, karena alam yang ini diciptakan demi cintanya Allah pada manusia sebagai bukti, pengantar dan pengingat akan kebesaran-Nya.

Hakikat manusia dalam kaca mata Rumi adalah debu, debu yang mengepul ketika kuda lewat, debu yang mengecap sepatu kuda ketika kaki kuda menginjaknya.

Debu yang diinjak kaki sang kuda akan mengecap kaki kuda karena tidak mungkin jika debu diinjak kaki kuda menimbulkan tanda dan cap yang lain, bukan kaki kuda. Manusia seharusnya menjadi khalifah di alam dan bukannya perusak alam. Manusia seharusnya merupakan Tajalli (Manisfestasi) dari keagungan sifat-sifatNya. Manusia seharusnya menjadi khalifah dan duta kebesaran-Nya. Adakah manusia yang seperti itu ?

Jelas ada karena hakikat manusia yang sebenarnya adalah mereka, mereka yang sudah mencapai maqam kedekatan kepada-Nya, merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga bumi, menjaga kelestarian alam dan penghuninya, merekalah yang senantiasa mengingatkan kita kepada Pencipta alam yaitu Allah, merekalah para Nabi, para Imam dan para aulia Allah.

Kita harus menjadi debu di kaki-Nya. Karena seharusnya setiap individu adalah menjadi debu di kaki-Nya. Agar kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri seperti para wali Allah, supaya kita menjadi mahkota diatas kepala raja, keagungan di atas keagungan.

“…Setiap individu adalah debu, Hanya telapak kaki kuda itu menjadi cap kaki-Nya di atas debu, jadilah debu di kaki-Nya demi cap kaki kuda itu agar engkau dapat menjadi Laksana mahkota di atas kepala raja.”

Namun bagaimanakah caranya untuk mengetahui hakikat diri ini, setelah kita mengetahui bahwa kita adalah makrokosmos dan alam sebagai wasilah kemudian hakikat kita adalah debu di kaki-Nya ? Dan bagaimanakah agar supaya hakikat diri ini senantiasa ada dan terpatri kuat dalam jiwa? Sehingga kita bisa menjadi mahkota di atas kepala raja ?

Karena mungkin saja banyak yang mengetahui hakikat diri tapi sayang hanya sekedar isapan jempol belaka, karena makrifat ini memiliki standar dan ciri tersendiri yang akan selalu tampak dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari, kita hanya terbiasa melihat bulan yang ada di air. Kita terpaku dan terpana dengan melihat indahnya rembulan yang ada di air padahal hakikat bulan ada di langit.

Maulawi Rumi dalam perkataannya yang lain, menerangkan tentang cara untuk mencapai makrifah diri ini, dia mengatakan bahwa untuk mencapai makrifah ini adalah dengan cara Taskiyatun nafs, membersihkan diri dari debu keegoisan, mensucikan diri dari lumpur kemaksiatan dan mengosongkan diri dari selain-Nya.

Senantiasa menghiasi diri dengan mengingat-Nya.menerangi jiwa dengan selalu berbuat baik, dan menanamkan asma-NYA dalam jiwa agar tidak gelap.

Sehingga dengan jelas akan terlihat jalan dan tidak pernah tersandung, jalannya akan senantiasa lurus dan tidak pernah bengkok karena selalu dalam sinaran-Nya.

Hanya dengan mengosongkan diri dari selain-Nya dan menghiasi jiwa dengan keagungan-Nya kita bisa tahu siapa diri ktia, apa hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita harus senantiasa berkontemplasi agar tahu hakikat diri kita dengan pasti. Rumi bertutur :

“Oh sucikanlah seluruh jiwamu dari debu keegoisan bebaskanlah dirimu dari sifat mementingkan diri sendiri sehingga kau lihat sendiri hakikat dirimu bersih tanpa noda, lihatlah dalam lubuk hatimu pengetahuan para nabi tanpa buku, tanpa perantara, tanpa guru.”

Itulah sosok Maulawi Rumi, Wali Allah yang telah mengetahui dirinya, telah mengosongkan dirinya dari selain-Nya, telah sampai kepada kedudukan debu di kaki-Nya. Sehingga dengan lancar dan gamblang menggambarkan kepada kita cara mengetahui dan menjadi debu di kaki-Nya. Kita sebagai manusia yang tidak mengetahui kebutuhan jasadi saja harus kembali merenungi perkataan sang maulawi, agar kita seperti dia, menjadi debu di kaki-Nya.

Akhirnya Maulawi mengungkapkan kekesalannya dengan mengungkapkan sebuah cerita, yaitu dia merasa kesal karena tidak pernah bertemu dengan manusia.

Dia hanya selalu bertemu dengan hantu dan hewan-hewan yang menakutkan. Dia ingin sekali bertemu dengan manusia. Dan ingin selalu mencarinya, walau pun butuh waktu yang lama. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan syairnya :

“Kemarin sang tuan jalan-jalan keliling kota, dan lentera di tangannya. Ia berkata, “aku bosan dengan hantu dan hewan, aku rindu bertemu manusia, hatiku jenuh melihat sahabat patah semangat. Aku ingin melihat singa Tuhan rastam putra zal, mereka berkata : “kami telah mencarinya dalam waktu yang panjang ia tak ditemukan ia Menjawab, “Sesuatu yang tak ditemukan itulah yang senantiasa aku cari.”

Sumber: Majalah Syi’ar terbitan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Wahyu dan keNabian

Wahyu dan Kenabian Muhammad SawPetunjuk Universal

Dari konsepsi tauhid tentang dunia dan manusia lahir keyakinan kepada wahyu dan kenabian. Kalau meyakini wahyu dan kenabian, maka meyakini pula universalitas petunjuk Allah. Prinsip petunjuk universal merupakan bagian dari konsepsi tauhid tentang dunia, dan konsepsi ini diajukan oleh Islam.

Karena Allah SWT wajib ada sendiri dalam setiap hal dan Maha Pemurah, maka Dia memberikan karunia-Nya kepada setiap wujud sesuai dengan kemampuan masing-masing wujud, dan membimbing setiap wujud dalam perjalanan evolusionernya.

Yang dibimbing oleh Allah adalah segala sesuatu, dari partikel yang sangat kecil sampai bintang yang sangat besar, dan dari wujud tak bernyawa yang paling rendah sampai wujud bernyawa yang paling tinggi yang kita ketahui, yaitu manusia. Itulah sebabnya Al-Qur’an Suci menggunakan kata “wahyu” dalam hubungannya dengan bimbingan untuk wujud inorganis, tanaman dan binatang. Penggunaan kata “wahyu” ini persis seperti ketika Al-Qur’an Suci menggunakannya dalam hubungannya dengan bimbingan untuk manusia.

Di dunia ini tiap-tiap sesuatu senantiasa bergerak. Tiap-tiap sesuatu selalu bergerak menuju tujuannya. Pada saat yang sama, semua indikasi menunjukkan bahwa tiap-tiap sesuatu didorong menuju ke tujuannya oleh suatu kekuatan misterius yang ada di dalam dirinya. Kekuatan ini disebut petunjuk atau bimbingan Allah. Al-Qur’an Suci menyebutkan bahwa Nabi Musa as berkata kepada Fir’aun pada masanya, yang artinya sebagai berikut:

Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (QS. Thâhâ: 50)

Dunia kita ini merupakan sebuah dunia yang penuh dengan tujuan. Tiap-tiap sesuatu diarahkan untuk menuju ke tujuan evolusionernya oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya, dan kekuatan yang ada di dalam dirinya itu adalah petunjuk Allah.

Kata “wahyu” berulang-ulang digunakan dalam Al-Qur’an Suci. Bagaimana kata itu digunakan, dan untuk kesempatan apa kata itu digunakan, memperlihatkan bahwa Al-Qur’an Suci menganggap wahyu bukan untuk manusia saja. Menurut Al-Qur’an Suci, wahyu juga untuk tiap-tiap sesuatu, setidak-tidaknya untuk semua makhluk hidup. Itulah sebabnya Al-Qur’an Suci bahkan berbicara tentang wahyu untuk lebah. Yang dapat dikatakan adalah bahwa wahyu dan petunjuk ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatannya beragam, sesuai dengan beragamnya tingkat evolusi tiap-tiap sesuatu yang berbeda-beda.

Wahyu yang derajatnya paling tinggi adalah wahyu yang diberi-kan kepada para nabi. Basis wahyu seperti ini adalah kebutuhan manusia akan petunjuk Tuhan. Dengan petunjuk Tuhan inilah manusia dapat melangkah menuju suatu tujuan. Dan tujuan ini berada di luar alam material yang kasat mata ini. Dan manusia harus menuju ke tujuan ini. Wahyu juga memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupan sosialnya, suatu kehidupan yang membutuhkan suatu hukum yang diridai oleh Allah. Sudah kami jelaskan kebutuhan manusia akan sebuah ideologi yang evolusioner, dan juga sudah kami jelaskan ketidakmampuan manusia untuk merumuskan sendiri ideologi semacam itu.

Para nabi merupakan semacam perangkat penerima yang berbentuk manusia. Mereka merupakan orang-orang pilihan yang mampu menerima petunjuk dan ilmu pengetahuan dari alam gaib. Allah sajalah yang dapat menilai siapa yang tepat untuk menjadi nabi. Al-Qur’an Suci memfirmankan:

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. al-An’âm: 124)

Kendatipun wahyu merupakan sebuah fenomena, dan fenomena ini berada di luar jangkauan persepsi dan eksperimen langsung manusia, namun dampaknya dapat dirasakan—seperti dampak banyak kekuatan lain—dalam efek-efek yang dilahirkannya. Wahyu Tuhan melahirkan dampak yang besar sekali pada pribadi penerimanya, yaitu nabi. Wahyu “mengangkat” nabi ke kebenaran. Dengan kata lain, wahyu menghidupkan bakat dan kemampuan nabi, dan mewujudkan revolusi yang besar serta mendalam pada diri nabi untuk kepentingan umat manusia. Dengan wahyu, nabi memperoleh keyakinan mutlak. Sejarah belum pernah menyaksikan keyakinan seperti keyakinan para nabi dan orang-orang binaan nabi.

Ciri Khas Nabi

Nabi yang, berkat wahyu, punya kontak dengan sumber eksistensi, memiliki ciri-ciri khas tertentu:

1. Mukjizat

Setiap nabi yang diangkat oleh Allah memiliki kekuatan supranatural. Dengan kekuatan ini nabi dapat melakukan perbuatan mukjizat, untuk membuktikan bahwa risalah dan misinya itu benar dan berasal dari Tuhan. Al-Qur’an Suci menyebut “ayat” untuk mukjizat yang dilakukan oleh nabi dengan kehendak Allah, yaitu “ayat” (tanda) kenabian. Al-Qur’an Suci menyebutkan bahwa di setiap zaman orang meminta kepada nabi di zaman mereka untuk memperlihatkan beberapa mukjizat kepada mereka. Karena permintaan tersebut masuk akal, maka nabi mengabulkan permintaan mereka, karena kalau tidak, maka orang yang mencari kebenaran mustahil mau mengakui kenabian. Namun nabi tak mau mengabulkan permintaan untuk memperlihatkan mukjizat kalau tujuannya bukan untuk mencari kebenaran. Misal, orang berkata kepada nabi mau masuk agama yang dibawa nabi kalau nabi memperlihatkan mukjizat, permintaan mereka diabaikan. Namun, Al-Qur’an Suci menyebutkan banyak mukjizat nabi, seperti meng­hidupkan orang yang sudah mad, menyembuhkan penyakit yang tak dapat disembuhkan, dapat berbicara ketika masih bayi, mengubah tongkat menjadi ular, menjelaskan kegaiban dan memaparkan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.

2. Maksum

Ciri khas lain nabi adalah maksum, yaitu tak mungkin berbuat dosa atau berbuat keliru. Nabi tak dikuasai oleh keinginan pribadinya. Nabi tidak berbuat salah. Kemaksuman nabi tak dapat disangkal lagi. Namun apa sesungguhnya arti kemaksuman nabi? Apakah artinya adalah bahwa bila nabi mau berbuat dosa atau salah, malaikat datang mencegahnya seperti seorang bapak mencegah anaknya agar tidak tersesat? Atau, apakah artinya adalah bahwa nabi diciptakan sedemikian rupa sehingga nabi tak dapat berbuat salah, persis seperti malaikat yang, misalnya, tak mungkin berbuat zina karena malaikat tak punya nafsu seksual, atau seperti mesin, yang tak melakukan kesalahan karena mesin tak punya otak? Atau, alasan kenapa nabi tidak berbuat salah adalah karena nabi telah dianugerahi intuisi (gerak hati), iman dan keyakinan yang istimewa tingkatannya? Ya, itulah satu-satunya penjelasan yang benar. Sekarang mari kita bahas satu persatu mukjizat dan kemaksuman.

Definisi kemaksuman

Manusia adalah makhluk yang merdeka. Manusia menentukan apa saja yang bermanfaat bagi dirinya dan apa saja yang merugikan bagi dirinya. Berdasarkan itu manusia memutuskan apa yang akan dilakukannya. Penilaiannya berperan penting dalam pilihannya. Mustahil manusia memilih melakukan sesuatu yang menurut penilaiannya akan merugikan dirinya. Misal, orang yang sehat pikirannya yang punya perhatian kepada hidupnya tak mungkin mau menjatuhkan dirinya dari atas bukit, juga mustahil dia mau minum racun yang mematikan.

Dari segi kekuatan iman dan kesadaran akan konsekuensi dosa, tiap-tiap orang berbeda-beda. Semakin kuat imannya, semakin sadar dia, semakin sedikit dosa yang akan dilakukannya. Kalau iman seseorang begitu kuat, maka bila dia berbuat dosa dia merasa seakan-akan tengah mencampakkan diri dari atas bukit, sehingga peluangnya untuk melakukan dosa jadi tak ada artinya. Keadaan seperti ini kami sebut maksum. Di sini kemaksuman terjadi karena kesempurnaan iman dan takwa. Agar bisa maksum, manusia tak membutuhkan kekuatan dari luar dirinya untuk mengendalikan dirinya agar tidak berbuat dosa. Juga dia tak perlu jadi tidak berdaya. Tidak berbuat dosa tidak patut dipuji jika manusia tidak mampu berbuat dosa, atau jika dia dihalangi oleh kekuatan dari luar dirinya. Posisi orang yang tak mampu berbuat dosa adalah seperti posisi narapidana yang tak mampu berbuat jahat. Tentu saja narapidana tak dapat digambarkan sebagai orang yang jujur dan lurus.

Kemaksuman nabi merupakan hasil dari intuisinya. Kesalahan terjadi kalau seseorang berhubungan dengan realitas melalui indera batiniah dan lahiriahnya. Dan kemudian dia membuat gambaran mental tentang realitas itu yang dianalisisnya dengan menggunakan kemampuan-kemampuan mentalnya. Dalam hal itu dia dapat saja berbuat salah dalam menyusun gambaran mentalnya, atau dalam menerapkan gambaran tersebut pada realitas yang ada di luar dirinya. Namun bila dia memahami realitas itu langsung melalui indera khusus, sehingga tak perlu lagi menyusun gambaran mental tentang realitas tersebut, dan pemahamannya tentang realitas itu saja sudah berarti hubungan langsungnya dengan realitas itu, maka tidak timbul masalah melakukan kesalahan. Para nabi berhubungan dengan realitas alam semesta dari dalam diri mereka. Tentu saja tak dapat dibayangkan terjadinya kesalahan pada realitas itu sendiri. Misal, kalau kita menaruh seratus manik-manik tasbih di dalam sebuah bejana, kemudian menaruh seratus lagi, dan perbuatan ini diulang seratus kali, maka kita tak mungkin mampu ingat persis hitungannya dan tak mungkin yakin apakah kita mengulang perbuatan itu seratus kali, sembilan puluh sembilan kali atau seratus satu kali. Namun realitas yang sesungguhnya, yaitu jumlah yang sesungguhnya dari manik-manik tersebut, tak mungkin lebih sedikit atau lebih banyak dari realitasnya. Orang-orang yang berada di tengah-tengah realitas dan dekat dengan akar eksistensi tak mungkin melakukan kesalahan. Mereka maksum.

Beda Nabi dan Orang Jenius

Dari sini jelaslah beda antara nabi dan orang jenius. Orang jenius adalah orang yang memiliki daya intelektual yang tinggi, dan pemahamannya juga luar biasa. Orang jenius bekerja berdasarkan data mentalnya sendiri, dan membuat kesimpulan dengan meng­gunakan kemampuan otaknya. Orang jenius terkadang melakukan kekeliruan ketika membuat kalkulasi. Di samping memiliki kemampuan otak dan kemampuan membuat kalkulasi, nabi juga memiliki kekuatan lain yang disebut wahyu, sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang jenius. Karena itu, tak mungkin untuk membandingkan orang jenius dengan nabi. Orang jenius dan nabi beda golongannya. Kita bisa saja membandingkan kemampuan dua orang dalam melihat dan mendengar, namun kita tak dapat membandingkan daya lihat seseorang dengan daya dengar orang lain lalu kita katakan mana yang lebih kuat. Orang jenius memiliki daya pikir yang luar biasa, sedangkan nabi memiliki kekuatan yang sama sekali beda, dan kekuatan ini disebut wahyu. Nabi selalu berhubungan erat dengan Sumber eksistensi. Karena itu, tidaklah betul kaiau membandingkan orang jenius dengan nabi.

3. Petunjuk

Kenabian berawal dari perjalanan spiritual dari makhluk ke Allah dan memperoleh kedekatan dengan-Nya. Perjalanan seperti ini mengandung arti meninggalkan yang lahir dan menuju ke yang batin. Namun demikian, pada akhirnya ujung perjalanan tersebut berupa kembalinya nabi kepada manusia dengan maksud mereformasi kehidupan manusia, dan memandu kehidupan manusia ke jalan lurus.

Dalam bahasa Arab, ada dua kata untuk nabi: Nabi dan Rasul Secara harfiah, arti nabi adalah orang yang membawa kabar, sedangkan arti rasul adalah utusan. Nabi membawa risalah Allah untuk manusia. Nabi menggali dan mengorganisasi kekuatan manusia yang terpendam. Nabi mengajak manusia untuk berpaling kepada Allah dan untuk mewujudkan apa yang diridai-Nya: Perdamaian, kebajikan, non-kekerasan, keadilan, kejujuran, kelurusan, cinta, keterbebasan dari segala yang berbau kekufuran, dan kebajikan-kebajikan lainnya. Nabi membebaskan umat manusia dari belenggu ketundukan kepada hawa nafsu dan Tuhan-tuhan palsu.

Dr. Iqbal, ketika menguraikan perbedaan antara nabi dan orang yang memiliki “pengalaman menyatu”, mengatakan:

“Orang sufi tak mau kembali dari kedamaian, “pengalaman menyatua-nya.. Kalau pun dia kembali, dan ini memang harus, kembalinya dia itu tak berarti banyak bagi umat manusia pada umumnya. Kembalinya nabi bersifat kreatif. Nabi kembali untuk memasuki jalan waktu dengan maksud mengendalikan kekuatan-kekuatan sejarah. Karena itu, nabi menciptakan dunia ideal yang baru. Bagi orang sufi, kedamaian “pengalaman menyatu” merupakan sesuatu yang final. Bagi nabi, itu merupakan kesadaran atau kebangkitan di dalam dirinya dan leluasanya kekuatan-kekuatan psikologis, yang diperhitungkan untuk sepenuhnya mentransformasi dunia manusia.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hal. 124)

4. Ikhlas

Nabi percaya kepada Allah, dan tak pernah lalai dengan misi yang diamanatkan kepadanya oleh Allah. Nabi menunaikan tugasnya dengan sedemikian ikhlas. Tujuan nabi tak lain adalah membimbing umat manusia, seperti yang diperintahkan oleh Allah. Nabi tak minta upah untuk misinya.

Dalam Surah asy-Syu’arâ` diikhtisarkan apa yang dikatakan banyak nabi kepada kaum mereka. Tentu saja, setiap nabi membawa risalah untuk kaumnya. Dan risalah tersebut sesuai untuk problem-problem yang dihadapi kaumnya. Namun demikian, ada substansi yang diungkapkan dalam risalah setiap nabi. Setiap nabi berkata, “Aku tak menginginkan upah darimu.” Karena itu, tulus merupakan salah satu watak khas nabi. Itulah sebabnya risalah para nabi selalu begitu tegas dan pasti. Para nabi merasa “diangkat”, dan mereka sedikit pun tidak meragukan fakta bahwa mereka mendapat amanat berupa misi yang amat penting dan bermanfaat. Kemudian mereka menyampaikan risalah mereka, dan tanpa ragu membelanya dengan penuh kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika Nabi Musa as dan saudaranya, Nabi Harun as menghadap Fir’aun, mereka sama sekali tak memiliki perlengkapan kecuali pakaian yang melekat di badan mereka dan tongkat kayu di tangan mereka. Mereka meminta Fir’aun agar menerima risalah mereka. Mereka mengatakan dengan pasti bahwa jika Fir’aun mau menerima risalah mereka, maka kehormatan Fir’aun akan terlindungi, dan kalau tidak, maka Fir’aun akan kehilangan pemerintahannya. Fir’aun terpesona dengan perkataan mereka.

Pada hari-hari pertama kenabiannya, ketika jumlah kaum Muslim tak lebih dari sepuluh orang, Nabi Muhammad saw suatu hari, yang dalam sejarah dikenal sebagai Hari Peringatan, mengumpulkan para senior Bani Hasyim, dan menyampaikan Risalahnya kepada mereka. Nabi saw dengan tegas mengatakan bahwa agamanya akan tersebar ke seluruh dunia, dan bahwa kalau mereka memeluk agamanya, maka hal itu adalah demi kepentingan mereka sendiri. Bagi mereka, kata-kata ini luar biasa. Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. Kemudian mereka bubar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ketika pamannya, Abu Thalib, menyampaikan kepadanya pesan dari kaum Quraisy, yang isinya bahwa kaum Quraisy mau memilihnya menjadi raja mereka, mau menikahkannya dengan putri suku yang paling cantik, dan menjadikannya orang yang terkaya di masyarakat mereka, asalkan dia tak lagi berdakwah, Nabi Muhammad saw menjawab bahwa dirinya tak akan mundur satu inci pun dari misi sucinya, sekalipun mereka meletakkan matahari di tangannya yang satu dan bulan di tangannya yang satunya lagi. Kemaksuman merupakan hasil wajib dari komunikasi nabi dengan Allah. Begitu pula, tulus dan teguh had juga merupakan ciri khas wajib dari kenabian.

5. Konstruktif

Nabi mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk maksud-maksud membangun, yaitu untuk mereformasi individu-individu dan masyarakat, atau dengan kata lain untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Mustahil kalau aktivitas para nabi merugikan individu-individu atau merugikan masyarakat luas. Karena itu, jika ajaran seseorang yang mengaku dirinya nabi berakibat kerusakan atau ketidaksenonohan, melumpuhkan kekuatan manusia, atau menyebabkan jatuhnya martabat masyarakat, maka itu merupakan bukti jelas bahwa dia adalah penipu.

Dalam kaitan ini, Dr. Iqbal dengan jitu mengatakan: “Cara lain untuk mengetahui nilai pengalaman religius nabi adalah mengkaji tipe manusia seperti apa yang berhasil diciptakannya, dan dunia budaya yang terbentuk dari roh risalahnya.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hal. 124)

6. Perjuangan dan Konflik

Perjuangan seorang nabi menentang penyembahan berhala, mitos, kebodohan, pikiran palsu dan tirani, merupakan tanda lain kebenaran seorang nabi. Mustahil kalau dalam risalah seseorang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya ada nada keberhalaan, nada yang mendukung tirani dan ketidakadilan, atau nada yang mentoleransi kemusyrikan, kebodohan, mitos, kekejaman atau kelaliman.

Tauhid, akal dan keadilan merupakan sebagian prinsip yang diajarkan oleh semua nabi. Risalah dari orang-orang yang mengajar-kan prinsip-prinsip ini sajalah yang patut dipertimbangkan, dan mereka sajalah yang dapat diminta untuk memberikan bukti atau mukjizat. Jika risalah yang disampaikan oleh seseorang mengandung unsur yang tak rasional atau bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid dan keadilan, atau mendukung tirani, maka risalah tersebut sama sekali tak patut dipertimbangkan. Dalam kasus seperti itu, sama sekali tak perlu memintanya untuk memberikan bukti yang memperkuat klaimnya. Begitu pula terhadap seorang penipu ulung yang berbuat dosa, yang melakukan kesalahan besar, atau yang tak mampu membimbing orang akibat mengidap cacat jasmani atau penyakit yang menjijikkan seperti lepra, atau akibat ajarannya tak memberikan dampak yang konstruktif pada kehidupan manusia. Andai saja penipu seperti itu memperlihatkan keajaiban, mustahil atau tak masuk akal untuk mengikutinya.

7. Sisi Manusia

Para nabi, sekalipun memiliki banyak kemampuan supranatural, seperti maksum, mampu melakukan perbuatan mukjizat, mampu membimbing dan merekonstruksi, dan mampu melakukan perjuangan luar biasa menentang kemusyrikan, mitos dan tirani, namun tetap manusia juga. Mereka, seperti manusia lainnya, makan, tidur, berketurunan dan akhirnya meninggal dunia. Pada diri mereka juga ada semua kebutuhan dasar manusiawi. Mereka berkewajiban menunaikan tugas-tugas agama seperti orang lain. Seperti orang lain, mereka juga tunduk kepada semua hukum agama yang disampaikan melalui mereka. Terkadang mereka bahkan memiliki tugas tambahan. Salat tahajud yang sunah bagi orang lain, wajib bagi Nabi Suci saw.

Para nabi tak pernah merasa diberi kebebasan untuk tidak mengikuti perintah agama. Dibanding orang lain, mereka justru jauh lebih takwa dan jauh lebih beribadah kepada Allah. Mereka melakukan salat, berpuasa, melakukan perang suci, membayar zakat, dan bersikap baik had kepada manusia. Para nabi bekerja keras untuk mendapatkan kesejahteraannya sendiri, dan juga untuk mewujudkan kesejahteraan bagi manusia. Di kala hidup, para nabi tak pernah menjadi beban bagi siapa pun.

Wahyu dan sifat-sifat khas yang berkaitan dengan wahyu, merupakan satu-satunya pembeda antara nabi dan non-nabi. Kenyataan bahwa nabi menerima wahyu tidak menaflkan kemanusiaan nabi. Kenyataan tersebut justru menjadikan nabi sebagai model “manusia sempuma”. Itulah sebabnya nabi sedemikian tepat untuk membimbing manusia.

8. Nabi Membawa Syariat (Hukum) Tuhan

Pada umumnya ada dua golongan nabi. Golongan pertama, yaitu golongan kecil, adalah nabi-nabi yang mendapat syariat sendiri, yang diperintahkan untuk memberikan petunjuk kepada manusia dengan berbasiskan syariat. Al-Qur’an Suci menyebut para nabi ini dengan sebutan nabi-nabi “berjiwa besar atau berhati mulia.” Kita tak tahu persis berapa jumlah mereka. Al-Qur’an Suci dengan tegas mengatakan telah menceritakan hanya kisah-kisah tentang sedikk nabi. Kalau saja kisah-kisah tentang semua nabi itu dicedtakan, atau setidaknya Al-Qur’an Suci menyatakan telah menceritakan kisah-kisah tentang semua nabi yang penting, tentu kita akan tahu jumlah nabi yang berjiwa besar atau berhati mulia itu. Namun, kita tahu bahwa Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi terakhir Muhammad saw, termasuk di antara nabi-nabi itu. Syariat diberikan kepada semua nabi yang berhati mulia dan berjiwa besar itu. Nabi-nabi ini diperintahkan untuk mendidik para pengikut mereka dengan berdasarkan syariat.

Golongan kedua, adalah nabi-nabi yang tidak memiliki syariat sendiri. Meski demikian, mereka ini diperintahkan untuk mendakwahkan syariat Tuhan yang sudah ada. Kebanyakan nabi termasuk dalam golongan ini. Dalam golongan ini terdapat nama-nama seperti Hud as, Saleh as, Luth as, Ishaq as, Ya’qub as, Yusuf as, Syu’aib as, Harun as, Zakaria as dan Yahya as.