Perintah Birrul Walidain dalam al-Quran al-Karim

Perintah birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Quran kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti surah Al-Baqarah, ayat 83, 180 dan 215, An-Nisa ayat 36, An-Na’am: 151, Isra’: 23 dan 24, Al Ahkaf: 15, Al Ankabut: 8, Luqman: 14, Ibrahim: 41, An Naml: 10 dan surah Nuh: 28. Jika melihat dari ayat-ayat tersebut, setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada 6 macam bentuk perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. Al-Israa: 23)

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi penghormatan dan pemuliaan kepada kedua orangtua. Apapun bentuk pelecehan dan sikap merendahkan orangtua maka Islam lewat pesan-pesan moralnya telah melarang dan mengharamkannya. Bahkan durhaka kepada kedua orangtua termasuk diantara dosa-dosa besar yang dilarang keras. Dengan melihat ayat di atas, terutama pada frase, “wa laa taqullahumaa ‘uff’, janganlah kamu mengatakan kepada keduanya, perkataan ‘ah’…” menunjukkan untuk bentuk pelecehan dan sikap merendahkan kedua orangtua yang paling kecil sekalipun Islam tidak luput untuk memberikan penegasan atas pelarangannya.

Imam Shadiq as bersabda, “Kalau sekiranya dalam berhubungan dengan kedua orangtua ada bentuk pelecehan yang lebih rendah dari melontarkan kata ‘ah’, niscaya Allah telah melarangnya.” (Ushul Kafi, Jilid 2, hal. 349).

Birrul Walidain berasal dari dua kata, birru dan al-walidain. Imam Nawawi ketika mensyarah Shahih Muslim memberi penjelasan, bahwa kata-kata Birru mencakup makna bersikap baik, ramah dan taat yang secara umum tercakup dalam khusnul khuluq (budi pekerti yang agung). Sedangkan, walidain mencakup kedua orangtua, termasuk kakek dan nenek. Jadi, birrul walidain adalah sikap dan perbuatan baik yang ditujukan kepada kedua orangtua, dengan memberikan penghormatan, pemuliaan, ketaatan dan senantiasa bersikap baik termasuk memberikan pemeliharaan dan penjagaan dimasa tua keduanya.

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Qur’an kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti surah Al-Baqarah, ayat 83, 180 dan 215, An-Nisa ayat 36, An-Na’am: 151, Isra’: 23 dan 24, Al Ahkaf: 15, Al Ankabut: 8, Luqman: 14, Ibrahim: 41, An Naml: 10 dan surah Nuh: 28. Jika melihat dari ayat-ayat tersebut, setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada 6 macam bentuk perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

Pertama, dalam bentuk perintah untuk berbuat baik dengan sebaik-baiknya, seperti dalam surah Al-Isra’ ayat 23 dan 24. Termasuk dalam hal ini, memberikan penjagaan dan pemeliharaan di hari tua keduanya dan mengucapkan kepada keduanya perkataan yang mulia.

Kedua, dalam bentuk wasiat. Allah SWT berfirman, “Dan Kami berwasiat kepada manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya.” (Qs. Al-Ankabut: 8). Begitupun pada surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah SWT berfirman, “Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).”

Ketiga, dalam bentuk perintah untuk bersyukur. Allah SWT berfirman, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, karena hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Qs. Luqman: 14).

Keempat, perintah untuk mendo’akan kedua orangtua. Allah SWT berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil.” (Qs. Al-Israa: 24). Mendo’akan kedua orangtua adalah tradisi para Anbiyah as. Nabi Ibrahim as dalam do’anya mengucapkan, “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ).” (Qs. Ibrahim: 41). Begitu juga Nabi Nuh as, dalam lantunan do’anya, beliau berujar, “. Ya Tuhan-ku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku..” (Qs. Nuh: 28).

Kelima, perintah untuk berwasiat kepada kedua orangtua. Allah SWT berfirman, “Diwajibkan atas kamu, apabila (tanda-tanda) kematian telah menghampiri salah seorang di antara kamu dan ia meninggalkan harta, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 180).

Keenam, perintah untuk berinfaq kepada keduanya. Allah SWT berfirman, “… Setiap harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan setiap kebajikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Qs. Al-Baqarah: 215).

Allah SWT dalam tujuh tempat pada Al-Qur’an setelah memerintahkan untuk hanya menyembah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya, perintah selanjutnya adalah berbuat baik kepada kedua orangtua. Dalam surah An-Nisa’ ayat 36 Allah SWT berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua..” Perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, setelah perintah untuk mentauhidkanNya lainnya terdapat pada surah Al-Baqarah: 83, Al-An’am: 151, Al-Israa: 23, An-Naml: 19, Al-Ahqaaf: 15 dan surah Al-Luqman ayat 13 dan 14. Dari ayat-ayat ini, telah sangat jelas dan terang betapa agung dan mulianya berbuat baik kepada kedua orangtua. Perintah untuk berbuat baik kepada keduanya, ditempatkan setelah perintah untuk hanya menyembah kepada-Nya.

Berhubungan dengan ketaatan kepada kedua orangtua, Al-Qur’an hanya dalam satu hal memberikan sebuah pengecualian. Allah SWT berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti mereka, dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lantas Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Luqman: 15). Ketaatan seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan mutlak, tanpa pengecualian. Sementara ketaatan kepada orangtua dengan pengecualian, selama keduanya tidak meminta untuk mempersekutukan Tuhan. Kalau kita memperhatikan ayat-ayat Allah berkenaan dengan hubungan kaum muslimin dengan kaum musyrikin, maka akan kita temukan perintah Allah untuk berlepas diri dari kaum musyrikin disampaikan secara keras dan tegas. Terutama pada ayat-ayat awal surah At-Taubah. Namun berkenaan dengan kedua orangtua, Allah SWT menyampaikan perintah secara lembut, dikatakan, kalau permintaan keduanya berkaitan dengan syirik kepada Allah, janganlah menaati keduanya. Selanjutnya ditambahkan, kekafiran dan kemusyrikan kedua orangtua tidaklah menjadi penyebab secara mutlak terputusnya hubungan dengan keduanya, namun tetap diperintahkan untuk berbuat ahsan kepada keduanya di dunia.

Perintah untuk tetap berhubungan, memuliakan, menyayangi dan berbuat baik kepada kedua orangtua meskipun keduanya kafir ataupun musyrik juga masih memiliki pengecualian ataupun persyaratan. Yakni, selagi keduanya tidak menunjukkan permusuhan dan penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al-Mujaadilah: 22). Perintah yang lebih tegas mengenai hal ini, disampaikan oleh Allah SWT pada awal surah Al-Mumtahanah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” Dan selagi keduanya meskipun termasuk golongan orang-orang kafir ataupun musyrik tidak ada halangan untuk tetap berlaku adil terhadap keduanya, yakni tetap berbuat baik dan berkasih sayang kepada keduanya selagi keduanya tidak menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8).

Apabila, kedua orangtua termasuk dari golongan orang-orang kafir ataupun musyrik, perintah Allah SWT untuk tetap mempergauli, menjalin hubungan dan berbuat baik kepada keduanya hanya sebatas di dunia ini atau sebatas keduanya masih hidup. Tidak ada hak bagi setiap orang yang beriman untuk mendo’akan keselamatan bagi kedua orangtuanya di akhirat, yang meninggalnya dalam keadaan tidak berserah diri kepada Allah, tidak mengimani-Nya ataupun mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (Qs. At-Taubah: 113).

Namun, jika kedua orangtua termasuk orang-orang yang beriman, maka berbuat baik kepada keduanya tidak hanya berlaku di dunia saja, namun hatta keduanya telah meninggal dunia, perintah untuk tetap berbuat baik kepada keduanya masih terus berlaku, dan menjadi kewajiban bagi segenap kaum mukminin untuk menunaikannya. Diantara bentuk berbuat baik kepada orangtua setelah meninggalnya adalah memohonkan ampun bagi keduanya. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, mendo’akan kedua orangtua adalah juga perintah dari Allah SWT dan termasuk diantara tradisi para Anbiyah as. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim as, “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ).” (Qs. Ibrahim: 41). Pada hakikatnya, mendo’akan keselamatan bagi kedua orangtua, bukan hanya setelah keduanya wafat, namun juga termasuk bentuk kebaikan semasa hidup keduanya, dalam keadaan dekat maupun jauh.

Satu hal yang mesti kita ingat, kebaikan hidup, keimanan ataupun kesalehan yang kita peroleh, tidak semata dari jerih upaya sendiri, kemungkinan ada kaitannya dengan do’a dan kesalehan orang-orang tua sebelum kita yang terijabah oleh Allah SWT. Sebagaimana telah diceritakan dalam Al-Qur’an mengenai do’a Nabi Ibrahim as, “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqarah: 128). Ataupun secara umum disampaikan oleh Allah SWT dalam surah Al-A’raaf ayat 189, “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Pada ayat lainnya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf: 15)

Diceritakan pula, mengenai dua anak yatim piatu yang mendapat pertolongan dari Allah SWT lewat perantaraan dua nabi-Nya, Nabi Musa as dan Nabi Khidir as, karena kesalehan kedua orangtua mereka sebelumnya, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Qs. Al-Kahfi: 82). Dari penjabaran ayat-ayat ini, kita bisa mengambil sebuah falsafah hidup, bahwa jika mendoa’kan keselamatan dan kesalehan bagi anak adalah fitrah dari orangtua, maka sebuah tuntunan nurani pula jika sebagai anak, kita tidak boleh luput dalam mendo’akan keselamatan dan memohonkan ampunan bagi kedua orangtua dan orang-orang sebelumnya.

Izinkanlah saya mengakhiri tulisan ini, dengan mengutip nasehat Imam Ja’far Shadiq as mengenai betapa pentingnya perintah berbuat baik kepada kedua orangtua.

Imam Shadiq as bersabda, “Apa yang menghalangi seseorang berbuat baik kepada kedua orang tuanya?, apakah keduanya masih hidup atau telah meninggal dunia, shalatlah, bersedekahlah, naik hajilah dan berpuasalah dengan menghadiahkan pahala untuk keduanya.” (Ushul Kafi, Jilid 2, hal. 159).

Pada kesempatan lain Imam Shadiq as bersabda, “Seseorang yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya semasa keduanya masih hidup namun ketika keduanya telah meninggal dunia, hutang-hutangnya tidak dilunasi, dan tidak pernah memohonkan ampun bagi kedua orangtunya, maka Allah mencatatnya sebagai anak yang durhaka. Sementara seseorang yang berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya semasa hidupnya, namun ketika keduanya telah wafat, melunasi hutang-hutang keduanya dan memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya, maka Allah akan mencatatnya sebagai anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.” (Ushul Kafi, jilid 2, hal. 163).

Semoga, kita termasuk orang-orang yang berbakti dan berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, ada dan tiadanya keduanya di sisi kita. Seperti begitu, insya Allah.

Rabbi, irhamhumaa kamaa rabbayani shagiiraa…

Oleh: Ismail Amin Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran

Iklan

Fiqih Membayar Khumus dalam Mazhab Syiah

Pelajaran Fiqih Membayar Khumus
Salah satu dari tugas-tugas ekonomi kaum muslimin adalah membayar khumus, artinya bahwa pada sebagian hal, seperlima dari hartanya harus di bayarkan kepada pemimpin syar’i untuk penggunaan yang sudah ditentukan.

Khumus Hukumnya Wajib pada Tujuh Hal:
a. Apa yang lebih dari biaya hidup setahun (laba usaha).
b. Tambang.
c. Harta karun.
d. Harta rampasan perang.
e. Perhiasan yang didapatkan dari penyelaman ke dalam laut.
f. Harta halal yang campur dengan harta haram.
g. Tanah yang dibeli oleh kafir zimmi* dari orang islam.

Membayar khumus merupakan sebuah kewajiban bagaikan salat dan puasa, dan seluruh orang yang balig dan berakal jika memiliki salah satu dari tujuh macam di atas maka dia harus membayar khumusnya.

Pada permulaan usia balig jika seseorang berpikir untuk melaksanakan ibadah salat dan puasa dia juga harus berpikir untuk membayar khumus dan zakat, oleh karena itu untuk mengenal dan mengetahui masalahnya sebatas kebutuhan adalah perlu. Dalam tulisan ini kami hanya membahas salah satu dari tujuh macam yang diwajibkan khumusnya yang menyangkut seluruh kalangan masyarakat dan itu adalah khumusnya sesuatu yang lebih dari biaya hidup setahun seseorang dan keluarganya.

Untuk lebih jelasnya kami harus menjawab pertanyaan ini: Apa maksud dari biaya hidup setahun?

Biaya Setahun
Islam menghargai jerih payah manusia dan lebih mendahulukan kebutuhan hidup mereka dari pada masalah pembayaran khumus. Oleh karena itu, setiap orang dalam satu tahun bisa memenuhi kebutuhannya dari hasil jerih payahnya dan di akhir tahun jika tidak ada sisanya maka tidak wajib membayar khumus. Akan tetapi, setelah dia hidup sesuai dengan standar dan berdasarkan kebutuhannya artinya tidak berlebihan dan juga tidak irit, jika di akhir tahun ada kelebihan dari biaya hidupnya selama setahun maka 1/5 dari kelebihan itu dibayarkan sebagai khumus dan sisanya 4/5 untuk dirinya sendiri. Dengan demikian maksud dari biaya hidup adalah segala macam kebutuhan yang diperlukan dalam hidupnya baik untuk dirinya maupun keluarganya seperti:
a. Makanan dan pakaian.
b. Barang-barang dan perabot rumah tangga.
c. Alat transportasi.
d. Biaya untuk tamu.
e. Biaya untuk kawin.
f. Kitab-kitab yang diperlukan.
g. Biaya bepergian.
h. Hadiah yang diberikan kepada orang lain.
i. Sedekah dan nazar atau membayar kaffarah.

Tahun Membayar Khumus
Orang yang balig, dari hari pertama dia balig harus mengerjakan salat dan pada bulan pertama Ramadhan harus berpuasa dan setelah lewat satu tahun dari penghasilannya yang pertama, jika ada kelebihan biaya hidup yang dipakai selama setahun maka 1/5 dari kelebihan biaya setahun itu dibayarkan sebagai khumus. Oleh karena itu awal penghitungan khumus adalah penghasilan yang pertama dan akhir tahunnya adalah tanggal ulang tahun mendapatkan penghasilan. Dengan demikian awal tahun bagi petani adalah panen yang pertama, bagi pegawai adalah gaji yang pertama, bagi karyawan adalah bayaran yang pertama dan bagi pedagang adalah muamalah pertama yang dia lakukan.

Harta yang Didapatkan dengan Perantara Di Bawah ini Tidak Ada Khumusnya:
a. Harta warisan.
b. Sesuatu yang diberikan ke orang lain.
c. Hadiah yang didapatkan dari orang lain.
d. Sesuatu yang di kasihkan ke orang lain sebagai hadiah.*
e. Harta yang diberikan kepada orang lain sebagai khumus atau zakat atau sedekah.

Akibat Tidak Membayar Khumus
1. Selama khumus hartanya belum dibayar pemilik tidak bisa menggunakan hartanya yakni makanan yang khumusnya belum dibayar tidak bisa dimakan atau uang yang belum dibayar khumusnya tidak bisa dipakai untuk membeli sesuatu.
2. Jika melaksanakan jual beli dengan uang yang belum dikhumusi (tanpa izin pemimpin syar’i) maka 1/5 dari muamalah itu batal*
3. Jika ingin mandi di kamar mandi umum dan membayar pakai uang yang belum dikhumusi kepada pemilik kamar mandi maka mandinya batal.**
4. Jika membeli rumah dengan uang yang belum dikhumusi maka salat di dalamnya adalah batal.

Hukum-hukum Khumus
1. Jika ada kelebihan dari biaya hidup setahun karena hidup qonaah dan sederhana maka harus dibayar khumusnya.
2. Jika perabot rumah yang dibeli sudah tidak diperlukan lagi berdasarkan ihtiyath wajib*** harus dibayar khumusnya misalnya beli kulkas yang lebih besar dan tidak perlu pada kulkas sebelumnya (kulkas sebelumnya harus dibayar khumusnya).
3. Bahan makanan yang digunakan untuk setahun yang dibeli dari uang mata pencaharian seperti beras, minyak dan teh, jika pada akhir tahun ada kelebihan maka harus dibayar khumusnya.
4. Jika anak yang belum balig memiliki modal dan dia mendapatkan labanya, berdasarkan ihtiyath wajib* setelah dia balig maka harus membayar khumusnya.**

Penyerahan Khumus
Khumus harus dibagi menjadi dua bagian, setengahnya adalah sahamnya Imam Mahdi AS. yang harus diserahkan kepada Mujtahid yang memiliki seluruh syarat yang mana dia taklid kepadanya atau wakilnya. Dan setengahnya lagi bisa diserahkan kepada Mujtahid yang memiliki seluruh syarat atau dengan izin mujtahid tersebut diberikan kepada para sayyid yang memiliki syarat-syaratnya. ***

Syarat-syarat Sayyid yang Bisa Diberi Khumus:
a. Harus fakir atau tidak bisa pulang dari bepergian sekalipun di kotanya termasuk orang kaya.
b. Harus Syi’ah Imamiyah.
c. Berdasarkan ihtiyath wajib tidak bermaksiat secara terang-terangan. Pemberian khumus kepadanya jangan sampai membantu dia untuk berbuat dosa.
d. Bukan termasuk orang-orang yang biaya hidupnya menjadi tanggungan pembayar khumus seperti istri dan anak (berdasarkan ihtiyath wajib).

Kesimpulan Pelajaran

1. Salah satu dari tugas ekonomi adalah membayar khumus.
2. Pada beberapa hal di bawah ini wajib membayar khumusnya:
a. Hasil usaha.
b. Tambang.
c. Harta karun.
d. Rampasan perang.
e. Perhiasan laut.
f. Harta halal bercampur dengan harta haram.
g. Tanah yang dibeli oleh orang kafir zimmi dari orang muslim.

3. Makanan, pakaian, rumah, perabot rumah, kendaraan, biaya tamu, kawin, ziarah, bepergian, perhiasan, sedekah, kaffarah adalah bagian dari biaya hidup setahun.
4. Dari sejak seseorang memiliki mata pencaharian dan usaha maka mulailah baginya tahun khumus dan setelah lewat setahun apa yang lebih dari biaya hidupnya selama setahun maka harus dibayar khumusnya.
5. Harta yang didapatkan dari warisan, dan sesuatu yang diberikan kepada dirinya dan hadiah yang dia dapatkan tidak ada khumusnya.
6. Selama harta itu belum dibayar khumusnya seseorang tidak bisa menggunakannya, jika dia menggunakan untuk muamalah maka 1/5 darinya adalah batal.

7. Setengah dari khumus adalah milik Imam Mahdi AS. dan harus diserahkan kepada marja’ taklidnya dan setengahnya dengan izin marja’ taklidnya bisa diberikan kepada sayyid yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a. Harus fakir.
b. Harus bermazhab Syiah Imamiyah.
c. Tidak bermaksiat secara terang-terangan.
d. Bukan termasuk orang yang menjadi tanggungan dalam pembiayaan hidup seperti istri dan anak.

Hak Hak Perempuan dalam Perspektif Imam Khomeini Ra

Hak Perempuan dalam islamDengan menganalisa sejarah di sepanjang abad yang berbeda-beda, kita melihat peremehan terhadap masalah hak-hak kemanusiaan dan sosial serta kezaliman yang terjadi terhadap perempuan. Bahkan sebelum munculnya revolusi Industri di Eropa, perempuan belum memiliki hak sosial dan politik yang berarti.

Bukan hanya itu, para pemuka agama Kristen di Eropa pun menjustifikasi ketidakadilan terhadap perempuan ini dengan alasan-alsan teologis. Namun di abad-abad terakhir, muncullah kebangkitan pembelaan hak-hak perempuan dan dimulailah era baru.

Kebangkitan-kebangkitan yang muncul akibat dua perang dunia dan kemudian muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Pergerakan perempuan tersebut lebih di kenal denga gerakan feminisme.

Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap perempuan (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.

Para pemikir Feminis berkeyakinan dunia akan adil jika perempuan bangkit untuk mengambil hak-hak mereka. Meskipun mereka mengemukakan argumentasi secara ilmiah, namun sering tejadi kesalahan persepsi yang menyebabkan penyelewengan pemahaman.

Walaupun perempuan Islam di jamin oleh argumentasi teologis dan rasional untuk memperoleh hak-hak mereka di berbagai macam bidang kemasyarakatan seperti sosial, politik, budaya dan lain sebagainya, akan tetapi mereka memang dituntut untuk lebih memperhatikan masalah rumah tangga dan keluarga, sehingga seringkali secara alamiah terjadi pembatasan ruang gerak dan aktifitas mereka di ruang publik. Untuk itu para perempuan Islam pun mencoba mencari jalan keluarnya.

Permasalahan hak-hak perempuan terkadang pula menyebabkan pembenaran di berbagai macam segi tanpa melihat kultur dan agama. Sehingga terkadang banyak dikhawatirkan oleh ulama. Hal yang sering disayangkan adalah penentangan para pembela hak perempuan terhadap ulama yang berupaya menempatkan hak-hak perempuan dalam lingkup budaya dan etika agama.

Perlu diingat bahwa kehadiran para perempuan di berbagai bidang kemasyarakatan menjadi hal penentu, paling tidak pembahasan masalah perempuan memiliki tempat bagi seluruh masyarakat. Lebih dari itu, problem ini sudah mendunia bukan masalah yang lokal sifatnya. Salah satu hasil dari revolusi Islam adalah mampu mendobrak pandangan baru tentang perempuan, hak-hak dan peranannya dalam masyarakat sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemajuan dalam kemasyarakatan.

Pemikiran dan pandangan mengenai hak-hak perempuan lebih tampak ketika revolusi Iran digaungkan dan Imam Khomeinilah pemimpin yang menjadi pelopor itu semua.

Pada 24 Aban 1357 HS tahun Iran (1979 M), salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Mazhab Ahlul Bait (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”

Imam menjawab, “Mazhab Ahlul Bait adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. Mazhab Ahlul Bait bukan hanya tidak menolak peranan perempuan dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan perempuan pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu”.

Imam dalam cuplikan wasiatnya mengatakan penghalang perempuan untuk tampil bersumber dari rencana jahat musuh dan teman-teman yang tidak memahami hukum Islam dan Qur’an, dan menambahkan, pula dari cerita-cerita bohong yang di munculkan oleh musuh untuk kepentingannya dan sampai ketangan orang-orang yang bodoh dan sebagian pelajar agama yang tidak mendapatkan informasi tentang itu.

Hak-Hak Kemanusiaan perempuan

perempuan harus memiliki hak-hak kemanusiawian yang sesuai dengan realitasnya. Terkadang hak yang didapat oleh laki-laki tak bisa didapat oleh perempuan atau terkadang bisa diraih tapi dalam bentuk yang tidak sempurna atau hanya sebagian saja. Hal ini sama dengan intimidasi hak dan bertentangan dengan kemanusiaan serta hukum Tuhan.

Imam di dalam hal “persamaan” antara pria dan perempuan mengatakan:

“Islam memiliki pandangan khusus terhadap perempuan. Islam pertama muncul di jazirah Arab dimana perempuan pada masa itu seperti barang dagangan dan perbedaan status yang sangan jauh dengan lelaki. Akan tetapi Islam datang untuk menghapus itu semua dan Islam datang untuk “menyamakan” mereka dengan laki-laki. Beliau menambahkan pula, “perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya dan kami ingin perempuan sampai pada kedudukan yang tinggi dan perempuan harus mampu untuk itu”

Pada wawancara surat kabar Belanda dalam menjawab pertanyaan koresponden

“Apa hak-hak perempuan di dalam Negara Islam?”

Imam mengatakan:

“Dari sisi hak kemanusiaan (sisi insaniyyah nya) tidak ada beda antara hak lelaki dan perempuan, karena dua-duanya adalah manusia dan mereka memiliki hak dalam menentukan masa depannya masing-masing. Dan sebagian hal yang berbeda dari mereka tidak ada hubungan dengan sisi kemanusiaannya.”

“Berusahalah dalam meraih ilmu dan ketaqwaan, karena ilmu adalah milik bersama tanpa pengecualian. Sekarang para perempuan menjadi partner dalam belajar atau hal lainnya di dalam semua bidang ilmu pengetahuan begitu pula industri.”

“Apakah perempuan bisa sampai pada tahap ijtihad? Dan apa peranan perempuan di dalam negara Islam?”

Beliau menjawab:

“Ada kemungkinan perempuan sampai pada tahap ijtihad tapi tidak bisa menjadi marja’ taqlid untuk orang lain. Di dalam aturan Islam perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki seperti hak belajar, mengajar, bekerja, kepemilikan, hak memilih, hak dipilih, sehingga di setiap bidang, dimana lelaki memiliki hak untuk itu perempuan pun memilikinya.

“perempuan pula memiliki hak berpolitik dan inilah tugas mereka. Seluruh perempuan dan laki-laki harus masuk dalam masalah sosial, politik bahkan harus menjadi pemantau perkembangan politik yang ada, dan tidak hanya itu mereka pula di tuntut untuk menyumbangkan ide-ide mereka”

“Sekarang perempuan harus melaksanakan tugas sosial dan agama mereka dan menjaga kehormatan umum dan di bawah kehormatan tersebut mereka melakukan urusan sosial dan politiknya.”

“perempuan di dalam urusan sosial politiknya harus menjadi partner para lelaki, dengan syarat menjaga hal-hal yang telah di atur dalam Islam”.

Pandangan Imam tentang Karir dan Pekerjaan:

“Provokasi jahat sedemikian rupa menyalahartikan kebebasan perempuan sehingga mereka menyangka Islam datang hanya memerintahkan perempuan diam dirumah saja”

“Kenapa kita mesti menentang kalau perempuan belajar? Kenapa kita mesti menentang kalau perempuan bekerja? Apakah perempuan tidak mampu melakukan pekerjaan kenegaraan?”

“Seluruh aktifitasnya ada di dalam ikhtiyar mereka, mereka bebas menentukan masa depannya”[1]

Menjadi jelaslah bahwa Islam menempatkan perempuan dalam kedudukan yang tinggi sama dengan laki-laki. Dari sisi insaniyyah-nya perempuan dan laki-laki adalah sama, tidak ada penghalang dikarenakan perbedaannya dalam meraih kedudukan yang tinggi disi Allah. Di dalam Islam kita telah mengenal Sayyidah Fatimah Azzahra (putri Rasulullah) yang membela dan mendampingi perjuangan Ayahnya, Sayyidah Maryam yang dengan kelembutannya menjaga sang kekasih Allah, Isa Almasih, pula Sayyidah Asiah (istri Firaun) yang dengan kesabarannya bisa terjaga dari pengaruh buruk Firaun. [oleh: Khairi Fitrian Jamalullail]

Notes:
[1] Ucapan-ucapan Imam Khomaini diambil dari Majalah Payam Khonewodeh No: 52 Halaman 14 Urdibhest 1384 Hs.

Sunni dan Syiah, perbedaan dan kesamaan

Konflik Sunni dan Syiah yang terjadi pekan lalu di Sampang, Madura, membuat banyak orang mulai bertanya ada apa sebenarnya dengan Syiah. Siapa mereka dan kenapa bisa berlanjut konfliknya hingga bersimbah darah? Menteri Agama Indonesia ke-15, Muhammad Quraish Shihab, membedah dua kelompok ini dalam buku yang berjudul Sunnah-Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Pria 68 tahun ini mengawali kisah dua kelompok besar ini dengan menjelaskan apa itu perbedaan dalam Islam. Ia kemudian membedah perbedaan umum antara Sunnah dan Syiah. Menurut lelaki kelahiran Sulawesi selatan ini, secara umum ada dua kelompok umat Islam dengan jumlah pengikut yang besar yaitu kelompok Ahlussunnah wa al-Jamaah dan kelompok Syiah.

Kelompok pertama secara harfiah dari kata Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kelompok Ahlussunah juga memperurutkan keutamaan Khulafa”ar-Rasyidin sesuai dengan urutan dan masa kekuasaan mereka.

Shihab mengaku kesulitan untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahlussunah dalam pengertian terminologi. Secara umum, melalui berbagai pendapat, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Asy”ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi”i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi).

“Sebelum memulai dengan siapa Syiah, perlu digarisbawahi, kelompok Syiah pun menamai diri Ahlussunah,” ujar dia. Tapi definisinya tentu berbeda. Syiah memang mengikuti tuntunan sunah Nabi, tapi ada sejumlah perbedaan bentuk dukungan dan tuntunan itu.

Muhammad Jawad Maghniyah, ulama beraliran Syiah, mendefinisikan tentang kelompoknya. Syiah yang secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, dan pecinta ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah beliau dengan menunjuk Imam Ali.

“Definisi ini hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, tapi untuk sementara dapat diterima,” kata Shihab.

Perbedaan antara Syiah dan Ahlusunnah yang menonjol adalah masalah imamah atau jabatan Ilahi. Khususnya ada tiga hal pokok yang diyakini Syiah dan ditentang Ahlussunnah. Ketiganya adalah pandangan tentang Nabi belum menyampaikan seluruh ajaran/hukum agama kepada umat, imam-imam berwenang mengecualikan apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW, dan imam-imam mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi dalam segi kemaksuman (keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa)

Keberatan itu, tulis Shihab, tertuang dalam buku karangan Syaikh Abu Zahrah berjudul Tarikh al-Maadzahib al-Islamiyah. Bagi kaum Syiah, imam yang mereka percayai ada dua belas orang jumlahnya. Mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang kekuasaannya bersumber dari Allah. (ditulis oleh DIANING SARI, pada TEMPO.CO, Jakarta)

Konflik Sunni dan Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Terulangnya peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang Madura, sungguh telah mencoreng kerukunan umat beragama di Indonesia. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di Sampang yang merupakan komunitas muslim NU yang selama ini dikenal dengan toleransi beragamanya yang kuat. Dan sebenarnya, beberapa tradisi di kalangan NU, sedikit banyak dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah.

Karena itu, muncul dugaan bahwa sebenarnya peristiwa itu bukan berawal dari perbedaan mazhab antara Sunni (Aswaja) dan Syiah, melainkan dipicu oleh masalah yang tidak terkait dengan hal itu. Kompasianer Dewa Gilang dalam tulisannya yang berjudul “Minyak Tergenang di Syiah Sampang”, mengungkapkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Media online Okezone.com, 8/03/2012, merilis berita temuan Kontras Surabaya tentang fakta-fakta bahwa konflik Sampang ini sengaja diciptakan untuk eksplorasi minyak dan pengembangan investasi di kawasan tersebut. Meskipun belum bisa dibuktikan kebenarannya, temuan tersebut patut kita tunggu hasil akhirnya.

Sementara itu, seperti dirilis Kompas.com, Mendagri Gamawan Fauzi menyatakan bahwa kerusuhan di Sampang, Madura, bukan masalah agama, melainkan masalah kriminal murni. “Kejadian di Sampang merupakan kriminal murni dan konflik keluarga yang berkembang di masyarakat, bukan masalah Syiah maupun anti-Syiah,” ujarnya kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tertutup di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (27/8/2012) malam.

Ia menjelaskan, kasus ini berawal dari permasalahan keluarga sejak 2004 hingga sekarang, yaitu antara Tajul Muluk dan Rois yang mempunyai masalah pribadi dan tersebar di masyarakat luas. “Kebetulan keduanya berbeda aliran, satu Syiah dan satunya Sunni. Mereka juga memiliki anak buah banyak. Dari sinilah persoalannya, bahwa masalah awal bukan masalah agama, tapi pribadi yang dimiliki oleh kedua orang tersebut,” tuturnya.

Pada perkembangan selanjutnya, Beritasatu.com mengungkapkan bahwa Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengumumkan penyidik telah menetapkan seorang tersangka berinisial R dalam kasus kerusuhan yang terjadi di Sampang, Madura, Minggu (26/8) lalu.

Menurut saya, dugaan konflik keluarga sebagai pemicu peristiwa Sampang lebih masuk akal dan dapat langsung dibuktikan dengan bukti-bukti awal dan dengan merunut motif pada pelakunya. Namun temuan awal Kontras tetap harus ditindaklanjuti. Jika temuan itu dapat dibuktikan, maka akan dapat mengungkap motif peristiwa yang jauh lebih besar dan penting untuk diungkap.

Konflik Sunni-Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Jika kita menengok ke belakang, tentang pengenalan kita kepada mazhab Syiah dalam Islam, kita akan teringat kembali pada peristiwa revolusi Islam di Iran yang akhirnya pada tahun 1979 mampu menghentikan kekejaman rezim Syah Reza Pahlevi, penguasa otoriter yang didukung Amerika, yang berkuasa 37 tahun.

Ketika banyak umat Islam di seluruh dunia yang menaruh harapan pada keberhasilan revolusi Islam Iran, yang tidak hanya mampu menurunkan penguasa otoriter, tapi juga menggantikannya dengan sistem pemerintahan Islam seperti yang kita kenal di negara Iran sekarang ini. Banyak umat Islam yang berharap dapat melakukan hal serupa pada negara-negara mereka yang dikuasai oleh pemerintah otoriter, yang ironisnya didukung oleh Amerika yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi. Bahkan pemerintahan Saddam Husein pun mendapat dukungan Amerika ketika memutuskan untuk menyerang Iran ketika itu.

Namun, keadaan tiba-tiba berbalik arah. Dunia Islam tiba-tiba menganggap Islam di Iran sebagai sesuatu yang sangat berbeda dengan Islam di negara-negara muslim lainnya. Saya masih ingat, ketika itu banyak saya jumpai buku-buku yang ditulis oleh kalangan Islam sendiri yang menyerang Khomeini. Ayatullah Khomeini yang sebelumnya dielu-elukan sebagai tokoh pembebas, tiba-tiba dicitrakan sebagai tokoh yang intoleran dan kejam. Selain itu, banyak juga ulasan yang menyerang mazhab Syiah sebagai mazhab yang menyimpang dari mainstream Islam. Ketika itu saya belum banyak memahami fenomena ini, tapi terus mengikuti perkembangannya.

Akhirnya saya mengetahui peta perkembangannya. Keberhasilan revolusi Islam Iran, tak pelak lagi telah menohok begitu keras hegemoni Amerikia sebagai pelindung penguasa otoriter Syah Reza Pahlevi. Amerika sebagai musuh besar Iran, berusaha mengecilkan dan membendung pengaruh revolusi di Iran tersebut. Maka diblow up lah perbedaan antara Sunni dan Syiah, sampai pada gap paling ekstrem sekalipun. Sebelumnya, perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak pernahmencapai kondisi seekstrem ini. Sayangnya, banyak Negara dan umat Islam yang termakan oleh rekayasa ini. Sangat disayangkan pula, Arab Saudi berdiri paling depan dengan fatwa-fatwa para ulamanya yang begitu keras terhadap eksistensi Syiah ini. Sementara fenomena westernisasi dibiarkan terjadi di kota-kota besar di Arab Saudi. Tapi alhamdulilah, fenomena itu belum mengganggu dua kota suci Mekkah dan Madinah.

Kita juga masih ingat, bagaimana ketika agresi Amerika ke Irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal, telah mengubah struktur masyarakat Irak yang bersatu menentang rezim Saddam Husein, menjadi terpecah antara kaum Sunni dan Syiah. Amerika sengaja memprovokasi perpecahan ini untuk memudahkan pendudukannya atas Irak. Tokoh-tokoh Sunni dan Syiah sendiri sebenarnya sudah melakukan upaya untuk menahan meluasnya perpecahan ini dengan menyatakan bahwa “musuh kami bukan Syiah atau Sunni”. Tapi sayang insiden-insiden pemboman yang mengorbankan kedua belah pihak tetap saja terjadi.

Fakta-fakta di atas mengindikasikan bahwa konflik dan pertentangan antara Sunni dan Syiah lebih didasari oleh pertentangan politik daripada hal-hal yang bersifat teologis. Sebenarnya perbedaan-perbedaan secara teologis telah banyak dilakukan upaya dialog untuk mempersempit perbedaan dan menemukan persamaan-persamaan. Tapi selama konflik kepentingan dan politik tak terselesaikan, tampaknya upaya-upaya itu seperti sia-sia.

Konflik Sunni-Syiah di Indonesia, Bagaimanakah?

Ketika pertama kali terjadi peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang, muncul pertanyaan di benak saya, sejak kapankah pertentangan faham antara Sunni dan Syiah di Indonesia berubah menjadi konflik horizontal? Kejadian ini sangat mengejutkan bagi saya. Pandangan saya terhadap Syiah berbeda dengan pandangan saya terhadap Ahmadiyah. Syiah telah berkembang dalam kurun waktu yang panjang dengan konsep fikih dan teologi yang cukup berpengaruh, yang bahkan ada sebagian intelektual muslim yang menyebutkannya sebagai mazhab kelima dalam Islam. Sedangkan Ahmadiyah sangat terlihat sebagai gerakan yang erat kaitannya dengan dukungannya terhadap kolonialisme Inggris di India pada masanya.

Beberapa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam di Indonesia sendiri, terutama di kalangan NU, boleh jadi dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah. Tradisi membaca Barzanji dan Grebeg Suro adalah contoh pengaruh tradisi Syiah yang berkembang di Indonesia. Konsep kedatangan Imam Mahdi juga berkembang di Indonesia, terutama di Jawa, yang disebut dengan kedatangan Ratu Adil.

Namun pengaruh Syiah tersebut hanya melekat pada tradisi-tradisi ritual saja, tidak sampai pada konsep fikih dan teolgisnya. Secara formal, umat Islam di kalangan NU tetap memegang doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah. NU tetap menjujung tinggi empat khalifah penggantri Nabi. NU juga tidak terpengaruh oleh konsep Imamah dalam Syiah.

Perbedaan antara Sunni dan Syiah yang paling mendasar sebenarnya berawal dari penolakan Syiah terhadap tiga khalifah selain Ali bin Abi Thalib (Abu Bakar, Umar dan Utsman). Penolakan ini menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.

Dalam Syiah sendiri juga berkembang tiga aliran besar, yaitu Syiah Itsna ‘Asyariyah, Syiah Ismailiyah dan Syiah Zaidiyah. Itsna ‘Asyariyah adalah aliran terbesar yang berkembang di Iran sekarang ini. Sedangkan Ismailiyah merupakan aliran yang paling ekstrem, dan Zaidiyah merupakan aliran yang paling mendekati Sunni (yang tetap mengakui tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib).

Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syiah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan. Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan sebagian sahabat yang mengikuti keduanya”.

Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam “Majmu’ Fatawa” ialah bahwa Rafidhah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syiah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar’.”

Pendapat yang agak berbeda diutarakan oleh Imam Syafi’i. Meskipun mazhabnya berbeda secara teologis dengan Syiah, tetapi ia pernah mengutarakan kecintaannya pada Ahlul Bait dalam diwan asy-Syafi’i melalui penggalan syairnya: “Kalau memang cinta pada Ahlul Bait adalah Rafidhah, maka ketahuilah aku ini adalah Rafidhah”. (selengkapnya baca wikipedia)

Terlepas dari perbedaan yang cukup tajam dalam konsep fikih dan teologi Syiah, saya tetap berharap adanya upaya untuk mempersempit perbedaan dan mencari titik-titik persamaan. Saya sendiri mengagumi tokoh ideolog revolusi Islam Iran Ali Syariati dan presiden Iran sekarang Mahmoud Ahmadinejad, yang saya sebut sebagai penerus Raja Faisal (Arab Saudi) dari kalangan Syiah. Seperti diketahui Raja Faisal adalah Raja Arab Saudi yang mempelopori embargo minyak terhadap Amerika, sebagai penentangan terhadap dukungan total Amerika terhadap pendudukan Israel di Palestina. Meskipun demikian, Raja Faisal juga dikenal sebagai raja yang sederhana, egaliter dan reformis. Hal yang sama juga melekat pada kepemimpinan Ahmadinejad sekarang ini. Ahmadinejad dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, egaliter, tapi tetap tegas, terutama dalam penentangannya terhadap hegemoni Amerika. (kompasiana: farid wadjdi)