ASYURO, Tragedi Karbala: Kemuliaan Spiritual dan Moral

ASYURO, Tragedi Karbala: Kemuliaan Spiritual dan Moral

Masa terus berlalu.  Ada beberapa peristiwa yang lewat begitu saja tanpa dikenang. Akan tetapi ada beberapa peristiwa lainnya yang tidak dilupakan oleh sejarah.

Bahkan peristiwa-peristiwa itu menjadi sumber perubahan di aspek sosial, politik dan sejarah. Tragedi yang terjadi pada tahun 61 Hijriah Qamariah, tepatnya pada tanggal 10 Muharram, adalah di antara peristiwa yang tak dapat dilupakan oleh sejarah.

Peristiwa heroik Imam Husein as dan 72 pengikut setianya bukanlah perang historis yang terjadi pada saat itu saja. Aspek-aspek peristiwa Karbala begitu agung sehingga menembus waktu dan tempat. Tak diragukan lagi, pengaruh besar Imam Husein as yang tak mengenal waktu dan tempat, bermuara dari misi gerakan yang diemban cucu kesayangan Rasulullah Saww itu.

Imam Husein as ketika menjelaskan misinya dalam melawan para penguasa yanng lalim dan arogan, mengatakan, “Saya bangkit untuk menegakkan ammar makruf dan nahi munkar.” Untuk itu, kebangkitan Imam Husein as dapat dipahami sebagai gerakan yang bertujuan menjaga nilai-nilai moral dan manusiawi.

Ini adalah sebuah realita yang tak dapat dipungkiri bagi para sahabat Imam Husein yang mendampinginya di Karbala. Keperkasaan, keberanian dan kesadaran di samping spiritual dan moral, merupakan fenomena indah heroisme dan keirfanan tragedi Asyura.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan membahas manifestasi spiritual dan moral para pahlawan Karbala. Spiritualisme dan perangai mulia Imam Husein dan pengikut setianya di Karbala yang tercantum dalam sejarah, merupakan sumber kemuliaan dan tauladan baik dari sisi individu dan sosial. Keindahan-keindahan moral seperti kesabaran, pengorbanan, keberanian, spiritual dan tawakal, merupakan contoh-contoh kemuliaan yang terkandung dalam pesan gerakan Imam Husein as. Perangai mulia dan agung tak diragukan lagi sebagai konsekuensi kesempurnaan diri. Menjual diri untuk kepentingan dunia sama halnya dengan melepas modal utama spiritual dan humanis. Karena peliknya kehidupan, manusia kadang terjebak dalam sebuah kondisi yang kemudian menerima kehinaan. Sementara itu, manusia-manusia bebas tak akan menerima kehinaan hingga mengorbankan diri demi kemuliaan.

Imam Husein as berkata, ” Kematian dalam kondisi mulia lebih baik dari kehidupan dalam kondisi hina.” Pandangan semacam ini hanya dimiliki manusia-manusia bebas yang mempunyai pandangan hidup yang mendalam. Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya meraih spirit kebebasan di bawah naungan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka merasakan nikmatnya kebebasan dan lezatnya kehambaan kepada Allah Swt. Ingat kepada Allah Swt dan bertawakal kepada-Nya meliputi suasana kamp Imam Husein di Karbala. Diriwayatkan pula, Imam Husein as di Karbala selalu mengulangi dzikir “La Haula Wa La Quwwata Ila Billah”, yang artinya “Tidak ada kekuasaan dan kekuatan kecuali dari Allah Swt.”

Meski berjumlah sedikit, para pahlawan Karbala dapat melawan 30 ribu pasukan yang dilengkapi dengan senjata lengkap. Rahasia perlawanan dan kegigihan mereka pada dasarnya, terletak pada hubungan dengan Allah Swt.

Pagi hari Asyura, para musuh memulai melakukan serangan membabi-buta kepada Imam Husein as dan para sahabat setianya. Pada hari itu, Imam Husein bermunajat kepada Allah Swt, “Ya Allah, Engkau adalah harapanku di segala kesusahan dan kesulitan.

Sesungguhnya waliku adalah Tuhan yang menurunkan kitab dan mengutus orang-orang yang saleh dan mulia sebagai pemimpin.” Dalam munajatnya itu tercermin kepercayaan diri Imam Husein as karena kedekatannya dengan Dzat Yang Maha Pencipta dan Kuasa.

Ketika waktu dzuhur tiba, salah satu sahabat diingatkan untuk mengerjakan shalat dzuhur. Imam Husein as sambil melihat langit dan berkata, “Kerjakanlah shalat sehingga Allah menjadikan kamu sebagai orang yang mengerjakan shalat dan ingat kepada Allah Swt.” Kemudian, Imam Husein berkata, ” Mintalah kepada musuh untuk menghentikan perang, sehingga kita mendapat kesempatan untuk mengerjakan shalat.”

Ingat kepada Allah Swt adalah diantara fenomena indah lainnya yang diperagakan para pahlawan Karbala. Salah satu dampak ingat kepada Allah Swt adalah kesabaran. Kesabaran dan kegigihan tampak pada aura wajah para sahabat setia Imam Husein as. Kesabaran Imam Husein dan para sahabatnya dalam menghadapi peristiwa yang paling memilukan itu, membuat ummat manusia terkesima akan keagungan cucu kesayangan Rasulullah Saaw.

Imam dalam berbagai kesempatan mengingatkan keluarganya dan para sahabatnya supaya bersabar. Imam Husein juga menyebut kesabaran sebagai syarat untuk terus mendampinginya hingga akhir hayat. Imam Husein as di padang Karbala kehilangan para sahabat dan keluarganya, dari anak yang paling kecil dan masih menyusui hingga anak dan saudara-saudaranya yang sudah dewasa. Meski demikian, Imam Husein as tetap tangguh di hadapan ujian berat ini.

Imam Husein as dan para sahabat setianya telah menampilkan pemandangan keperkasaan dan keberanian sejati dalam tragedi Asyura. Keperkasaan adalah sebuah perangai mulia manusia yang menjaga nilai-nilai akhlak dan kemuliaan serta kondisi orang-orang lemah. Seseorang yang berkomitmen dengan kebenaran, tidak akan berkhianat dan tunduk di hadapan kehinaan dan kezaliman. Inilah ciri khas yang sangat menonjol pada para pengikut setia Imam Husein as.

Dalam sejarah gerakan Imam Husein as diriwayatkan rombongan Imam as bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Hur. Mereka menutup jalan Imam dan para pengikutnya. Salah satu sahabat kepada Imam mengusulkan untuk memerangi mereka karena jumlah pasukan Hur relatif sedikit. Akan tetapi Imam Husein as berkata, “Kita tidak akan memulai perang.” Yang lebih indah lagi, Imam Husein malah memerintahkan para sahabatnya supaya memberi air kepada pasukan Hur yang kehausan. Sikap Imam ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan Imam Husein as.

Di samping itu, keberanian Imam Husein as dan para sahabat mulianya di Karbala mencerminkan pemandangan indah spiritual yang luar biasa. Keberanian adalah perangai manusia yang tidak takut dan tetap tegar dalam menghadapi kesulitan. Mereka di padang Karbala menyambut kematian dengan keberanian yang luar biasa. Setiap sahabat menghabisi para musuh dalam jumlah besar dan mengorbankan dirinya demi kemuliaan agama. Salah satu pasukan musuh ketika menceritakan keberanian para pengikut Imam Husein as, mengatakan, “Mereka ketika menarik pedang, sama seperti singa yang akan menghabisi musuh. Jika tetap membiarkan para pengikut Imam Husein as, mereka akan menghabisi kita. Mereka menerobos pasukan ke depan dan mengorbankan diri.”

Fenomena indah lainnya yang dapat disaksikan di padang Karbala adalah kesetiaan para pengikut Imam Husein as. Pada malam terakhir, Imam membebaskan para sahabatnya. Imam mempersilahkan para sahabat untuk meninggalkannya dan menyelamatkan diri dari kematian. Namun para sahabat yang setia menyatakan tetap bersama dengan Imam Husein as. Salah satu sahabat setia Imam Husein, Muslim bin Usajah, ketika menyatakan kesetiaannya kepada Imam Husein as berkata, “Demi Allah, kami tak akan membiarkanmu sendirian, sehingga Allah Swt bersaksi bahwa kami tak akan membiarkan kehormatan Rasulullah Saww setelah wafatnya.” Dikatakannya juga, “Saya yakin, jika saya mati kemudian dihidupkan kembali dan dibakar hingga menjadi debu yang beterbangan, aku tetap tak akan berpisah darimu. Saya terus akan berkhidmat kepadamu hingga mati.”

Tragedi Karbala merupakan pemandangan moral dan spiritual luar biasa, yang juga sekaligus mencerminkan misi mulia Imam Husein as. Imam Husein ketika berhadapan dengan musuh, tetap menjaga etika dan nilai-nilai manusiawi. Bahkan Imam Husein memberikan air kepada para pasukan musuh yang kehausan. Akan tetapi sebaliknya, para pasukan musuh saat melihat Imam Husein as dan keluarganya kehausan, tetap membiarkan mereka, bahkan membantai tanpa kenal ampun. Fenomena inilah yang membuat tragedi Karbala disebut-sebut sebagai hujjah terakhir bagi kebenaran. Orang yang paling tolol pun tidak akan rancu dalam menilai kebenaran saat itu.

Apa yang dilakukan oleh Imam Husein as di Karbala adalah menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi moral. Karena inilah gerakan Imam Husein as menyebar luas tanpa mengenal batas. Peradaban ummat manusia berhutang budi pada perjuangan sejati Imam Husein as (madinah-al-hikmah.net).

4 Responses to ASYURO, Tragedi Karbala: Kemuliaan Spiritual dan Moral

  1. pipi mengatakan:

    Salam atasmu ya Aba abdilla dan semua Arwah para syuhada karbala

  2. math games mengatakan:

    pass it on

  3. Anonim mengatakan:

    Equel dengan peristiwa setelah penyalipan Yesus

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s