Berdakwah dengan Akhlak, Kenapa Tidak?

Berdakwah dengan Akhlak, Kenapa Tidak?

sufi tasawufZakaria, seorang pemuda Kufah beragama Kristen memutuskan untuk masuk Islam karena ia melihat akhlak orang Islam dan kesempurnaan bahasa Al-Quran. Ia pergi ke Mekkah untk melaksanakan haji, dan ketika pulang ia singgah untuk menemui Imam Ja’far Ash-Shadiq.

“Wahai Putera Rasulullah, ayah, ibuku dan keluargaku yang lain masih beragama Kristen. Bagaimana saya harus bersikap dengan mereka? Ibu saya buta, sudah tua, dan perlu perawatan. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya memutuskan hubungan dengannya.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. bersabda: “Islam adalah agama yang penuh keramahan dan kebaikan. Ada beberapa ajaran Islam tentang hubungan sesama manusia, terutama dengan orang tua. Wahai Zakaria, rawat dan bantulah ibumu semampumu. Bersikaplah lebih baik dan lebih perhatian dari sebelumnya kepada ibumu. Allah Swt. melarang kita berbuat tidak hormat kepada orang tua, atau membentaknya pada saat mereka memanggilmu.”

Zakaria mendengar nasehat Imam, kemudian kembali ke Kufah. Ia langsung menuju rumahnya dan tinggal bersama ibunya. Di rumah itu, keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia menolong ibunya serta menyenangkan hatinya. Menyuapi dan memberinya minum dengan tangannya sendiri. Dia memandikan serta mencucikan bajunya dan juga membersihkan rumah. Ketika ibunya akan pergi, dia menuntun tangannya. Setiap ada kesempatan, ia bercengkrama dengan ibunya dan membuatnya senang.”

Suatu hari ibunya bertanya: “Kamu tidak seperti ini ketika memeluk agama Kristen. Dulu kau tidak peduli padaku, apa yang membuatmu menjadi sangat baik kepada ibu?”

Zakaria menjawab: “Ibu, Imam dan pemimpin kami yang tinggal di Madinah mengatakan agar aku membantu ibu dan ayah semampuku.” “Dia pasti seorang Nabi,” kata ibunya, “karena hanya seorang nabi yang memberi perintah semacam itu untuk orang tua seseorang.”

“Tidak, ibu,” kata Zakaria, “Dia bukan seorang Nabi. Dia seorang Imam dan penerus Nabi. Nabi kami adalah Nabi terakhir dari nabi-nabi Allah Swt dan tidak akan ada lagi nabi baru setelahnya.” Zakaria menatap wajah ibunya. Ketika itu dia melihat ibunya menangis.

Ibunya berkata: “Anakku sayang, agamamu adalah yang terbaik dari agama-agama yang lain. Ajaran yang kau dapat sangatlah indah. Ajaran yang dapat membuka hati ibumu yang sudah tua ini.”

Kita, sebagaimana Zakaria telah mempelajari Islam dengan teliti (walau tidak semuanya dari kita sebelumnya beragama Kristen). Kita masuk pada kesadaran baru setelah pelajaran kita dan kita mereguk cahaya ilmu.

Sekarang kita dihadapkan dua pilihan: Akankah kita menjadi orang yang berlaku kasar dalam mengajarkan ajaran Islam sehingga membuat orang takut? Atau kita menjadi lembut seperti yang diajarkan Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Sebagian dari kita mungkin mengandalkan perdebatan dalam berdakwah. Kita berdebat dengan saudara kita. Kita takut-takuti mereka. Kita katakan mereka akan celaka jika tak mau mengikuti ajaran atau mazhab kita. Ada yang berhasil, karena takut dengan ancaman itu. Ada juga yang lari, karena takut dengan kita. Mereka yang lari memang celaka karena tidak mau menerima ajaran yang kita sampaikan, tetapi mereka celaka karena kitalah yang mencelakakan mereka. Kita menampilkan ajaran Islam dengan tampilan yang sangat kasar dan tidak berbelas kasihan. Sehingga mereka takut dengan kita dan ajaran tersebut.

Sebetulnya Imam Ja’far Ash-Shadiq ingin mengajarkan kepada kita bahwa teknik yang paling baik dalam menyampaikan ajaran Islam adalah dengan akhlak. Orang akan lebih tertarik dengan ajaran kita apabila mereka melihat kita berakhlak baik. Buktinya, Zakaria berhasil membuka pintu hati ibunya yang sudah tua dengan kemuliaan akhlak. Padahal orang yang sudah tua biasanya sudah menutup rapat-rapat hatinya dari ajaran yang lain daripada yang dianutnya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq sebetulnya ingin mengajarkan kepada kita bahwa bahkan dua ribu dalil sekalipun kita keluarkan untuk membela ajaran atau mazhab kita, hal itu hanya dapat menyentuh otak manusia, dan bukan hatinya. Tetapi apabila kita menggali semua ajaran Islam, kita akan temui bahawa kemuliaan akhlak sangat diagung-agungkan. Dan kemuliaan akhlak juga dapat menyentuh hati manusia, yang  dengannya mereka dapat menerima ajaran Islam.[Berdakwah dengan Akhlak, Kenapa Tidak?]

Oleh: Yulian Rama (aktifis ISLAT)

5 Responses to Berdakwah dengan Akhlak, Kenapa Tidak?

  1. Ahmad abdullah mengatakan:

    Saya setuju

  2. Ping-balik: Berdakwah dengan Akhlak | hauzah as-sidiqah az-zahra'

  3. I believe everything published was very reasonable.
    However, think about this, suppose you added a little information? I ain’t suggesting your content is not solid., but
    what if you added something that makes people want
    more? I mean Berdakwah dengan Akhlak, Kenapa Tidak?
    | Si Pencari ilmu is kinda vanilla. You could look at Yahoo’s home page and watch how they create post titles to grab people to open the links.
    You might add a video or a related pic or two to get readers excited about
    what you’ve written. Just my opinion, it could bring your blog a little
    bit more interesting.

  4. I’m gone to inform my little brother, that he should also pay
    a quick visit this webpage on regular basis to get updated
    from hottest gossip.

  5. quiente mengatakan:

    you’re in reality a just right webmaster. The site loading speed is amazing.
    It sort of feels that you are doing any distinctive
    trick. Furthermore, The contents are masterwork.
    you’ve performed a wonderful task in this matter!

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s