Hadis Keutamaan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

Sayyidina Ali bin abi thalib merupakan sahabat, menantu, serta murid setia Rasulullah SAW yang mempunyai banyak keutamaan seperti disebutkan dalam beberapa hadis Nabi SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis shahih.

Berikut ini beberapa hadis keutamaan Sayyidina Ali bin abi Thalib yang terucap dari yang Mulia Rasulullah SAW:

1). Sayyidina Ali adalah Pintu gerbang Ilmu Nabi SAW.

Hadis Pertama:

ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

Telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Fahm yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dharisy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Faidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis kedua:

حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174].

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230].

2). Sayyidina Ali adalah Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW.

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda:

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187.

3). Sayyidina Ali adalah Orang yang pertama Kali Masuk Islam.

Berikut ini adalah riwayat Shahih bahwa yang masuk islam pertama kali adalah Ali bin Abi Thalib.
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad 4/368:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع ثنا شعبة عن عمرو بن مرة عن أبي حمزة مولى الأنصار عن زيد بن أرقم قال أول من أسلم مع رسول الله صلى الله عليه و سلم علي رضي الله تعالى عنه

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah Mawla Al Anshari dari Zaid bin Arqam yang berkata “Orang yang pertama kali masuk Islam dengan Rasulullah SAW adalah Ali RA”.

Hadis riwayat Zaid bin Arqam ini disebutkan dalam Syarh Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 19177 bahwa sanadnya shahih. Imam Ahmad juga menyebutkan hadis Zaid dalam Fadhail As Shahabah 2/637 no 1000 dimana pentahqiq kitab tersebut Syaikh Wasiullah bin Muhammad Abbas berkata “sanadnya shahih”. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain 3/136 no 4663 dan Beliau mengatakan bahwa sanadnya shahih. Adz Dzahabi juga menshahihkannya dalam Talkhis Al Mustadrak. An Nasa’i menyebutkan hadis Zaid dalam Al Khasa’is hal 26 hadis no 3 dan berkata Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Tahdzib Al Khasa’is no 3 bahwa sanadnya shahih. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan Tirmidzi 5/642 no 3735 dan berkata Abu Isa At Tirmidzi “hadis hasan shahih”. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih hadis ini dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3735.

4). Sayyidina Ali adalah as-Shiddiq.

Sayyidina Ali pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan mengakui kalau dirinya adalah Ash Shiddiq disebabkan Beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk islam dan beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadits Riwayat Mu’adzah Al Adawiyah:

حدثنا زياد بن يحيى أبو الخطاب قال حدثنا نوح بن قيس وحدثني أبو بكر مصعب بن عبد الله بن مصعب الواسطي قال حدثنا يزيد بن هارون قال أنبأ نوح بن قيس الحداني قال حدثنا سليمان بن عبد الله أبو فاطمة قال سمعت معاذة العدوية تقول سمعت علي بن أبي طالب رضي الله عنه يخطب على منبر البصرة وهو يقول أنا الصديق الأكبر آمنت قبل أن يؤمن أبو بكر وأسلمت قبل أن يسلم

Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya Abul Khaththab yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Mush’ab bin ‘Abdullah bin Mush’ab Al Wasithi yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Nuh bin Qais Al Hadaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah yang berkata aku mendengar Mu’adzah Al ‘Adawiyah yang berkata aku mendengar Ali bin Abi Thalib radiallahu’anhu berkhutbah di atas mimbar Bashrah dan ia mengatakan “aku adalah Shiddiq Al Al Akbar aku beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku memeluk islam sebelum ia memeluk islam” [Al Kuna Ad Duulabiy 5/189 no 1168]

Hadis ini juga disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsani 1/151 no 187, Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/131 no 616, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/274 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 1835 semuanya dengan jalan sanad dari Nuh bin Qais dari Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah dari Ali radiallahu ‘anhu. Riwayat Ad Duulabiy di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah.

5). Sayyidina Ali Adalah Saudara Nabi, Pewaris Nabi dan Wazir Nabi SAW.

Telah diriwayatkan dalam hadis shahih kalau imam Ali telah mewarisi Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Qutsam bin Abbas RA. Beliau adalah putra dari paman Nabi SAW. Al Ijli menyebutkan kalau Qutsam bin Abbas RA termasuk sahabat Nabi SAW [Ma’rifat Ats Tsiqah no 1514].

أخبرنا أبو النضر محمد بن يوسف الفقيه ثنا عثمان بن سعيد الدارمي ثنا النفيلي ثنا زهير ثنا أبو إسحاق قال عثمان وحدثنا علي بن حكيم الأودي وعمر بن عون الواسطي قالا ثنا شريك بن عبد الله عن أبي إسحاق قال سألت قثم بن العباس كيف ورث علي رسول الله صلى الله عليه وسلم دونكم قال لأنه كان أولنا به لحوقا وأشدنا به لزوقا

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman bin Sa’id Ad Darimi yang berkata telah menceritakan kepada kami An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq. Utsman [Ad Darimi] berkata dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim Al Awdiy dan ‘Amru bin ‘Awn Al Wasithi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq yang berkata aku bertanya kepada Qutsam bin Abbas “bagaimana Ali bisa mewarisi Nabi SAW tanpa kalian?” Ia berkata “karena diantara kami Ali adalah orang yang pertama mengikuti Nabi dan orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Beliau” [Mustadrak Shahihain 3/136 no 4633]

Hadis ini adalah hadis shahih. Al-Hakim at-Tirmidzi dan Adz Dzahabi telah bersepakat menshahihkannya.

Buku Fiqih Imam Ja’far Shadiq sudah terjemah Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Ja’far as-Shadiq, beliau adalah ‘Alim Fiqih, Tasawuf, Hadits, Tafsir, Fisika, Matematika, dll. Beberapa Tokoh Besar Islam adalah murid dari beliau, seperti Jabir bin hayyan sang pengasas ilmu al-Jabar (matematika). Sejarah Islam juga menulis bahwa 4 imam fiqih ahlussunnah yaitu Imam Hanafi, Maliki, Hanbali dan syafii kesemuanya merupakan murid-murid berkesinambungan dari Imam Ja’far Shadiq.

Terkhusus beliau mahir dan termsayhur dalam bidang Fiqih, Fiqih Imam jafar shodiq bermuara pada fiqih ahlul bait as yaitu dibawa oleh para Imam dari keluarga suci Rasulullah SAAW secara turun menurun mulai dari Imam Ali bin abi thalib yang memperoleh pengetahuan dari Rasulullah SAW tentunya, kemudian estafet kepada Imam al-Hasan bin Ali, Imam Husain, Imam Ali Zainal abidin, Imam Muhammad al-Baqir kemudian kepada beliau Imam Ja’far bin muhammad as-Shadiq.

Buku atau kitab Fiqih Imam Ja’far shadiq disusun oleh seorang Ulama besar yaitu Syaikh Muhammad Jawwad Mughniyah, terdiri dari 3 Jilid hasil terjemah kebahasa Indonesia dari bahasa kitab asli bahasa Arab “Fiqhul Imam as-Shadiq”.

Buku fiqih ini memuat dari berbagai persoalan hukum Islam mulai dari Ibadah sampai urusan Muamalah. Bagi yang berniat mengetahui lebih jelas, bisa dibaca secara detail buku tersebut bisa dibeli diToko-Toko Buku, dengan judul Fiqih Imam Ja’far Shadiq.

Tampilan sampul dan kemasan box berikut ini:

Buku Fiqih Imam Jafar shadiq

Banyak orang meributkan antara sunni dan syiah, padahal pada kenyataanya Imam ja’far adalah guru dari kedua mazhab besar ini, Imam jafar adalah guru besar syiah dan sunni.

Selamat memngkaji..

5 Kitab Tafsir paling Masyhur (terkenal)

1. Tafsir Al Jalalain

Tafsir Al Jalalain adalah tafsir ringkas yang ditulis oleh dua orang Al hafidz/Al hafidzaan, yaitu Al Hafidz Al Mahali dan Al Hafidz As Suyuthi. Mereka berdua digelari dengan Jalaluddin, oleh karena itu dinamakan Al Jalalain, yaitu tafsir dari Jalaluddin Al Mahali dan Jalaluddin As Suyuthi. Kemudian karena Jalaluddin Al Mahali meninggal dunia sebelum menyelesaikan tafsirnya tersebut maka diselesaikan oleh As Suyuthi.

2. Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Ibnu Katsir merupakan salah satu kitab tafsir yang paling banyak diterima dan tersebar di tengah ummat ini. Imam Ibnu Katsir telah menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menyusunnya, tidak mengherankan jika penafsiran beliau sangat kaya dengan riwayat, baik hadits maupun atsar, bahkan hampir seluruh hadits periwayatan dari Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- dalam kitab Al Musnad tercantum dalam kitab tafsir ini.

Metode penyusunan yang dilakukan oleh Imam Ibnu Katsir adalah dengan cara menyebutkan ayat terlebih dahulu, kemudian menjelaskan makna secara umum, selanjutnya menafsirkannya dengan ayat, hadits, perkataan Sahabat dan tabi’in. Terkadang beliau menjelaskan seputar hukum yang berkiatan dengan ayat, dengan dukungan dalil lain dari Al Quran dan hadits serta dilengkapi dengan pendapat para Ahli Fiqh disertai dalilnya apabila masalah tersebut dikhilafkan diantara mereka, selanjutnya beliau merajihkan (memilih dan menguatkan) salah satu pendapat tersebut.

3. Tafsir Al-Maraghi: Tafsir Termasyhur dari Abad Dua Puluh

Kitab Tafsir ini sangat menarik sekaligus kontroversial, karena ditulis oleh ulama modern yang pemikirannya dianggap dekat dengan kaum mu’tazilah.

Ulasan tafsir-tafsir kontemporer ini ini akan dimulai dengan yang paling populer, yakni Tafsir Al-Maraghi karya ulama besar Universitas Al-Azhar Mesir, Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi. Tafsir yang terbagi dalam 10 Jilid itu diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Maktabah al-Babi al-Halabi (Kairo) pada tahun 1369 H/1950 M atau dua tahun sebelum penyusunnya wafat.

Meski di kalangan penganut tafsir salaf dianggap kontroversial dan banyak ditinggalkan, Tafsir Al-Maraghi sangat digemari oleh para pelajar yang mengkaji tafsir di bangku perguruan tinggi. Gaya penafsirannya dianggap modern, yakni berusaha menggabungkan berbagai madzhab penafsiran, terutama metode tafsir bil ma’tsur (berdasarkan hadits) dan tafsir bir ra’yi (berdasarkan logika), yang belakangan mengundang kontroversi.

4. Tafsir al-Kasyaf

Penafsiran yang ditempuh al-Zamakhsyari dalam karyanya ini sangat menarik, karena uraiannya singkat dan jelas sehingga para ulama’ Mu’tazilah mengusulkan agar tafsir tersebut dipresentasikan pada para ulama Mu’tazilah dan mengusulkan agar penafsirannya dilakukan dengan corak i’tizali, dan hasilnya adalah tafsir al-Kasysyaf yang ada saat ini.[9]

Pada tahun 1986, tafsir al-Kassyaf dicetak ulang pada percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi, di Mesir, yang terdiri dari empat jilid. Kitab tafsir ini, berisi penafsiran runtut berdasarkan tertip mushafi, yang terdiri 30 puluh juz berisi 144 surat, mulai surat al-fatihah sampai surat al-Nas. Dan setiap surat diawali dengan basmalah kecuali surat al-Taubah. Tefsir ini terdiri dari empat Jilid, jilid pertama diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Maidah. Jilid kedua diwali engan surat al-An’am dan diakhiri dengan surat al-Anbiya’. Jilid ketiga diawali dengan surat al-Hajj dan diakhiri dengan surat al-Hujurat dan jilid yang keempat diawali dengan surat Qaf dan diakhiri dengan surat al-Nass.

5. Tafsir al-Mizan

Tafsir al-Mizan disusun oleh Allamah Sayyid Muh Husain Thabathabai, seorang ulama Iran. Setiap kitab tafsir disusun dengan motivasi tertentu. Ada kitab tafsir yang ditulis untuk memenuhi tuntutan masyarakat seperti Ma’anil Qur’an karya al-Farra. Ada juga kitab tafsir yang ditulis dengan tujuan merangkum kitab tafsir sebelumnya yang dinilai terlalu panjang dan luas, seperti al-Dur al-Mansur karya al-Suyuthi dan banyak lagi kitab-kitab tafsir lainnya.

Adapun motivasi yang mendorong Thabathaba’i untuk menulis kitab tafsirnya, al-Mizan adalah karena ia ingin mengajarkan dan menafsirkan al-Qur’an yang mampu mengantisipasi gejolak rasionalitas pada masanya. Di sisi lain, karena gagasan-gagasan matrealistik telah sangat mendominasi, ada kebutuhan besar akan wacana rasional dan filosofis yang akan memungkinkan hawzah tersebut mengkolaborasikan prinsip-prinsip intelektual dan doktrinal dalam islam dengan menggunakan argumen-argumen rasional dalam rangka mempertahankan posisi islam.

Nama al-Mizan, menurut al-Alusi, diberikan oleh Thabathaba’i sendiri, karena di dalam kitab tafsirnya itu dikemukakan berbagai pandangan para mufassir, dan ia memberikan sikaap kritis serta menimbang-nimbang pandangan mereka baik untuk diterimanya maupun ditolaknya. Meskipun tidak secara eksplisit memberikan nama ini, namun pernyataan Thabathaba’i secara implisit memang mengarahkan pada penamaan al-Mizan tersebut.

Menilai: Tasawuf dalam pandangan Islam

Nilai ilmu Tasawuf dalam pandangan Islam tidak lepas dari sejarah terbentuknya istilah “Tasawuf”, hubungan sosial ummat Islam dengan ajaran agama lain, serta perkembangan pengetahuan Islam dari zaman ke zaman.

Pada dasarnya perkataan/istilah “tasawuf” bisa ditelusuri asal mulanya dari kata “shuuf” yang berarti “wol/bulu domba” yang biasa dipakai oleh para pesuluk (mutasawwif) dan kemudian dijadikan istilah bagi mereka.

Ada pula yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata “Shoofa” yang berarti bersih, suci, sesuai dengan para Pencari Tuhan atau sufi dalam kiat mereka membersihkan diri dari sifat-sifat buruk (takholli ‘an akhlaqil madzmumah) dan sambil lalu mengisi diri dengan sifat-sifat baik (tahalli bi akhlaqil mahmudah).

Muncul juga peryataan lain, yang mengatakan bahwa istilah tasawuf berasal dari “ahlus shuufah” yaitu sebuah kelompok muslimin yang memilih hidup zuhud, sederhana dan sembari bernaung diemperan atau beranda Masjid Nabawi Rasulullah SAW, mereka beribadah, bertempat tinggal seumur hidup diberanda Masjid Nabawi. Dari kata “ahlus shuufah” ini, muncul asumsi bahwa tasawuf berasal darinya, yaitu sekumpulan muslimin yang hidup zuhud bersama Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Dari beberapa istilah asal kata tasawuf diatas, masih banyak beberapa perspektif lain mengenai asal istilah Tasawuf. Apabila kita menelusuri lebih jeli, betul adanya bahwa Tasawuf memang lahir dari ajaran Islam, karena rujukan utama mereka adalah al-Quran, al-Hadits, serta riwayat-riwayat dari ajaran para pendahulu Islam.

Sebut saja dalam istilah tasawuf terdapat sebuah istilah “sanad” atau “silsilah”, dalam hal ini khusunya para sufi yang mengaplikasikan penyucian jiwa melalui “thoriqoh” mempunyai garis turun temurun yang berasal dari Rasulullah SAW, kemudian kepada Sayyidina Ali bin abi Thalib KW, Sayyidina Hasan, Sayyidina al-Husain, sayyidina Ali zainal abidin, Sayyidina Muhammad al-Baqir, Sayyidina Ja’far shadiq, dan turun menurun melalui keturunan, murid-murid mereka serta para Sahabat Rasulullah SAW yang terpilih.

Dalam ordo sufi atau Thoriqoh sanad ini dikenal sebagai “silsilah dzahabiyyah” / silsilah ke-emas-an, yang berarti satu sama lain saling berkaitan, bersambung dan berhubungan secara metafisik/spiritual. Kita sering mendengar dan bahkan mengenal thoriqoh qaadiriyyah, Alawiyyah, syadziliyyah, naqsyabandiyyah, syattariyyah dsb, semua kelompok tersebut sama-sama bertumpu pada ajaran spiritual dan akhlak Rasulullah SAW.

Sebagai penutup, istilah tasawuf dalam Islam bukan hal yang asing seperti dikatakan para orientalis bahwa tasawuf bukan berasal dari ajaran Islam. Justru sebaliknya Tasawuf berasal dari Ajaran Islam sejak diajarkan kepada para Keluarga, Murid dan Sahabat Rasulullah SAW yang terdahulu.