Studi Kritis Hadis Taat Kepada Imam Ali Berarti Taat Kepada Nabi SAAW

Studi Kritis Hadis Taat Kepada Imam Ali Berarti Taat Kepada Nabi SAAW

Salah satu hadis yang didhaifkan oleh salafiyun dan pengikutnya adalah hadis barang siapa taat kepada Ali berarti taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut takhrij hadis tentang keutamaan Imam Ali tersebut.

عن أبي ذر رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع عليا فقد أطاعني ومن عصى عليا فقد عصاني

Dari Abu Dzar radiallahu ta’ala ‘anhu yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “barang siapa yang mentaatiKu sungguh ia mentaati Allah dan barang siapa durhaka kepadaku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mentaati Ali maka sungguh ia telah mentaatiKu dan barang siapa yang mendurhakai Ali maka ia telah mendurhakaiKu

Hadis ini dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain 3/121 no 4617 & 3/128 no 4641, Khaitsamah bin Sulaiman dalam Al Muntakhab min Fawaid hal 19 dan Min Hadis Khaitsamah bin Sulaiman 1/72 no 19, Abu Bakar Al Ismailiy dalam Mu’jam Asy Syuyukh 1/485 no 141, Ibnu Ady dalam Al Kamil 7/233 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/306 dan 42/307. Dengan jalan sanad yang berujung pada Yahya bin Ya’la dari Bassaam Ash Shayrafiy dari Hasan bin Amru Al Fuqaimiy dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar radiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz sebagaimana diatas.

Al Hakim berkata setelah meriwayatkan hadis ini “sanadnya shahih tetapi tidak dikeluarkan oleh Bukhari Muslim”. Adz Dzahabi juga menshahihkan hadis ini. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaaifah no 4892 mendhaifkan hadis ini dengan alasan

  • Yahya bin Ya’la adalah Yahya bin Ya’la Al Aslamy dan ia seorang yang dikenal dhaif
  • Muawiyah bin Tsa’labah tidak dikenal ‘adalah-nya dan
  • Bassaam seorang yang dipercaya tetapi tasyayyu’

Pernyataan Syaikh Al Albani ini perlu ditinjau kembali. Yahya bin Ya’la yang dimaksud bukanlah Al Aslamiy, pendapat yang rajih ia adalah Al Muharibi. Memang pada hadis tersebut tidak disebutkan dengan jelas Yahya bin Ya’la yang dimaksud tetapi dengan melihat siapa saja yang meriwayatkan darinya dan dari siapa ia meriwayatkan hadis maka dapat diketahui siapa sebenarnya Yahya bin Ya’la yang dimaksud. Yang meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Ya’la diantaranya Hasan bin Hammad Al Hadhramy [Mustadrak no 4617], Hakam bin Sulaiman [Mu’jam Asy Syuyukh Ismaili no 141], dan Muhammad bin Ismail [Al Mustadrak no 4641]. Dan disini Yahya bin Ya’la meriwayatkan dari Bassam Ash Shayrafiy.

  • Dalam biografi Hasan bin Hammad Al Hadhramy, Al Mizzi menyebutkan kalau ia meriwayatkan dari dua orang yang bernama Yahya bin Ya’la yaitu Yahya bin Ya’la At Taimy Abu Muhayyah dan Yahya bin Ya’la Al Aslamy, keduanya adalah orang kufah [Tahdzib Al Kamal no 1219]
  • Dalam biografi Yahya bin Ya’la Al Muhariby, Al Mizzi menyebutkan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al Hakam bin Sulaiman [Tahdzib Al Kamal no 6949]
  • Dalam biografi Bassam Ash Shayrafiy, Al Mizzi menyebutkan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Yahya bin Ya’la Al Muharibi [Tahdzib Al Kamal no 664]

Bisa dilihat bahwa ada tiga kemungkinan siapa Yahya bin Ya’la yang dimaksudkan dalam hadis di atas yaitu

  • Yahya bin Ya’la At Taimy Abu Muhayyah yang telah meriwayatkan darinya Hasan bin Hammad Al Hadhramy tetapi tidak dikenal ia meriwayatkan dari Bassam Ash Shayrafiy. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [Tahdzib Al Kamal no 6950]
  • Yahya bin Ya’la Al Aslamy yang telah meriwayatkan darinya Hasan bin Hammad Al Hadhramy tetapi tidak dikenal ia meriwayatkan dari Bassam Ash Shayrafiy. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Bukhari berkata “mudhtharib al hadits. Abu Hatim berkata “hadisnya dhaif dan tidak kuata”. [Tahdzib Al Kamal no 6951]
  • Yahya bin Ya’la Al Muharibi yang telah meriwayatkan darinya Hakam bin Sulaiman dan ia meriwayatkan dari Bassam Ash Shayrafiy. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib Al Kamal no 6949]

Kemungkinan yang paling rajih Yahya bin Ya’la disini adalah Yahya bin Ya’la Al Muharibi karena hadis di atas telah diriwayatkan oleh Hakam bin Sulaiman dari Yahya bin Ya’la dari Bassaam Ash Shayrafiy dari Hasan bin Amru Al Fuqaimy dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar radiallahu ‘anhu secara marfu’.

Petunjuk lain yang menguatkan adalah hadis ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ismail dari Yahya bin Ya’la dari Bassaam Ash Shayrafiy [Al Mustadrak no 4641]. Dan diantara ketiga Yahya bin Ya’la yang dimaksud hanya Yahya bin Ya’la Al Muharribi yang memiliki murid bernama Muhammad bin Ismail yaitu Al Bukhari dan Al Bukhari tidak mungkin meriwayatkan dari Yahya bin Ya’la Al Aslamy karena Bukhari sendiri mencelanya.

.

.

Satu-satunya hujjah salafy dalam menetapkan kalau Yahya bin Ya’la disni adalah Al Aslamy adalah pernyataan Ibnu Ady dalam Al Kamil. Ibnu Ady menyebutkan hadis ini dalam biografi Yahya bin Ya’la Al Aslamy.

أخبرنا علي بن سعيد الرازي ثنا الحسن بن حماد سجادة ثنا يحيى بن يعلي عن بسام بن عبد الله الصيرفي عن الحسن بن عمرو الفقيمي عن معاوية بن تغلب عن أبى ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعني أطاع الله ومن عصاني عصى الله ومن أطاع عليا أطاعني ومن عصى عليا عصاني قال وهذا لا اعلم يرويه عن بسام بهذا الإسناد غير يحيى بن يعلي ويحيى بن يعلى هذا كوفي وهو في جملة شيعتهم

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Sa’id Ar Razi yang menceritakan kepada kami Hasan bin Hamad Sajadah yang menceritakan kepada kami Yahya bin Ya’la dari Bassaam bin Abdullah Ash Shayrafiy dari Hasan bin Amru Al Fuqaimy dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “barang siapa yang mentaatiKu sungguh ia mentaati Allah dan barang siapa durhaka kepadaku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mentaati Ali maka sungguh ia telah mentaatiKu dan barang siapa yang mendurhakai Ali maka ia telah mendurhakaiKu. Tidak diketahui yang meriwayatkan dari Bassaam dengan sanad ini kecuali Yahya bin Ya’la dan Yahya bin Ya’la disini adalah Al Kufy dan ia termasuk kelompok syiah mereka. [Al Kamil Ibnu Ady 7/233]

Jika diperhatikan baik-baik maka tidak ada satupun hujjah Ibnu Ady dalam menetapkan kalau Yahya bin Ya’la yang dimaksud adalah Al Aslamy. Ibnu Ady memasukkan begitu saja hadis ini dalam biografi Yahya bin Ya’la Al Aslamy. Riwayat yang dibawakan Ibnu Ady adalah riwayat Ali bin Sa’id Ar Razi bahwa Hasan bin Hamad meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Ya’la dari Bassam Ash Shayrafiy. Tidak ada dalam sanadnya secara jelas disebutkan kalau Yahya bin Ya’la yang dimaksud adalah Al Aslamy. Memang dikenal salah satu Syaikh [guru] Hasan bin Hamad adalah Yahya bin Ya’la Al Aslamy mungkin ini alasan Ibnu Ady menyatakan hadis ini sebagai hadis Yahya bin Ya’la Al Aslamy. Tetapi ini tidaklah menjadi hujjah karena Yahya bin Ya’la yang menjadi guru Hasan bin Hamad tidak hanya Al Aslamy tetapi juga Yahya bin Ya’la bin Harmalah At Taimy.

Walaupun begitu keduanya tidaklah meriwayatkan dari Bassam Ash Shayrafiy, sedangkan yang meriwayatkan dari Bassaam Ash Shayrafiy adalah Yahya bin Ya’la Al Muharibi. Ibnu Ady tidak mengetahui bahwa terdapat perawi lain selain Hasan bin Hammad yang meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Ya’la yaitu Hakam bin Sulaiman dan Muhammad bin Ismail [Al Bukhari] dan keduanya meriwayatkan dari Yahya bin Ya’la Al Muharribi.

Kemudian perhatikan perkataan Ibnu Ady “Yahya bin Ya’la disini adalah Al Kufy dan ia termasuk kelompok syiah mereka”. Pernyataan ini pun tidak menjadi hujjah karena ketiga Yahya bin Ya’la yang kami sebutkan adalah Al Kufy. Baik Yahya bin Ya’la Al Muharribi, Yahya bin Ya’la At Taimy dan Yahya bin Ya’la Al Aslamy ketiganya adalah Al Kufy atau penduduk kufah dan sebelum Ibnu Ady tidak ada satupun yang menyebutkan kalau mereka seorang syiah. Kemungkinan besar karena hadis ini meriwayatkan keutamaan Imam Ali maka dengan mudahnya Ibnu Ady mengatakan kalau Yahya bin Ya’la disini adalah Al Aslamy yang dikenal dhaif dan menyatakan ia termasuk syiah kufah.

Hal ini menguatkan postulat bahwa seorang ulama menyatakan perawi sebagai syiah dengan melihat apakah hadis-hadis yang ia riwayatkan adalah hadis keutamaan Ahlul Bait. Jika benar maka tetaplah ia dikatakan sebagai syiah atau tasyayyu’. Dan di lain tempat ketika membahas hadis keutamaan Ahlul Bait yang dimaksud maka para pengingkar akan mengutip ulama yang menyatakan perawi tersebut tasyayyu’ atau syiah kemudian para pengingkar itu akan menolak hadisnya karena perawi tersebut syiah. Bukankah ini lingkaran setan yang menyesatkan!

.

.

Mengenai cacat kedua yaitu Muawiyah bin Tsa’labah yang tidak dikenal ‘adalahnya. Tentu saja ini pernyataan yang sembrono. Ibnu Hibban memasukkan Muawiyah bin Tsa’labah dalam Ats Tsiqat juz 5 no 5480 seraya menegaskan bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1431 tanpa memberikan cacat atau jarh pada Muawiyah bin Tsa’labah. Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/378 no 1733 menyebutkan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf. Abu Hatim sedikitpun tidak memberikan cacat atau jarh padanya. Al Haitsami membawakan hadis Al Bazzar yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Tsa’labah dan berkata “para perawinya tsiqat”. Hal ini berarti Al Haitsami menyatakan Muawiyah bin Tsa’labah tsiqat [Majma’ Az Zawaid 9/184 no 14771]

Adz Dzahabi memasukkan nama Muawiyah bin Tsa’labah dalam kitabnya Tajrid Asma’ As Shahabah no 920 dimana ia mengutip Al Ismaili bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat Nabi, tetapi Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 6/362 no 8589 menyatakan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang tabiin. Tidak menutup kemungkinan kalau Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat atau jika bukan sahabat maka ia seorang tabiin. Statusnya sebagai tabiin dimana tidak ada satupun yang memberikan jarh terhadapnya dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat serta telah meriwayatkan darinya dua orang perawi tsiqat yaitu Abul Jahaf dan Hasan bin Amru Al Fuqaimi sudah cukup untuk menguatkan kedudukannya. Minimal hadis yang ia riwayatkan berkedudukan hasan dan jika benar ia seorang sahabat maka hadisnya shahih.

Syaikh Al Albani sendiri telah menguatkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi dengan kedudukan yang sama dengan Muawiyah bin Tasa’labah.

  • Dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 680 Syaikh Al Albani memasukkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Ghifari padahal ia hanya dita’dilkan oleh Ibnu Hibban dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan jarh wat ta’dil. Telah meriwayatkan darinya dua orang perawi dan ia seorang tabiin maka menurut Syaikh Al Albani kedudukan hadisnya adalah hasan menurut jama’ah hafizh.
  • Dalam Irwa’ Al Ghalil 1/242 no 225 Syaikh menghasankan hadis Hasan bin Muhammad Al ‘Abdi dimana hanya Ibnu Hibban yang menta’dilkannya dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa jarh dan ta’dil. Ia seorang tabiin yang telah meriwayatkan darinya dua orang perawi yaitu Ali bin Mubarak dan Ismail bin Muslim maka kedudukan hadisnya hasan menurut Syaikh Al Albani.

Jadi pencacatan terhadap Muawiyah bin Tsa’labah tidak bisa diterima dan sesuai dengan manhaj ilmu hadis, hadis seorang tabiin seperti Muawiyah bin Tsa’labah tergolong hadis yang hasan. Kemudian soal pencacatan Bassaam bin Abdullah Ash Shayrafiy karena tasyayyu’ adalah pencacatan yang tidak bernilai karena Bassaam seorang yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih tidak ada masalah dengannya”. Al Hakim juga menyatakan tsiqat dan Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah” [At Tahdzib juz 1 no 800].

.

.

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Muawiyah bin Tsa’labah dengan matan yang agak berbeda tetapi pada intinya memiliki makna yang sama

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عامر بن السبط قال حدثني أبو الجحاف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا علي انه من فارقني فقد فارق الله ومن فارقك فقد فارقني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Amir bin As Sibth yang berkata telah menceritakan kepadaku Abul Jahhaf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang memisahkan diri dariMu maka dia telah memisahkan diri dariKu” [Fadhail Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 962]

Hadis di atas sanadnya hasan para perawinya tsiqat hanya saja Abul Jahhaf atau Dawud bin Abi ‘Awf dinyatakan syiah atau tasyayyu’. Hal ini tidaklah mencacatkan hadisnya karena ia telah dinyatakan tsiqat oleh Sufyan, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 3 no 375].

Ibnu Ady telah menyebutkan biografi Dawud bin Abi Auf dalam kitabnya Al Kamil dan dengan jelas ia menyatakan kalau Dawud bin Abi Auf termasuk kelompok syiah kufah dan mayoritas hadisnya adalah hadis keutamaan Ahlul Bait, di sisiku ia bukan seorang yang kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah. Dan diantara hadis keutamaan ahlul bait yang dimaksudkan oleh Ibnu Ady adalah hadis di atas. [Al Kamil Ibnu Ady 3/82-83].

Sekali lagi kami melihat kecenderungan Ibnu Ady untuk mendhaifkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dan mencacatkan para perawi yang sering meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait. Perhatikanlah pencacatan Ibnu Ady terhadap Dawud bin Abi Auf Abul Jahhaf sama dengan pencacatannya terhadap Yahya bin Ya’la yaitu dengan kata-kata “penduduk kufah dan termasuk syiah mereka”. Bedanya hanya pada hadis Yahya bin Ya’la Ibnu Ady bisa dengan mudahnya menetapkan kalau Yahya bin Ya’la yang dimaksud adalah Al Aslamy yang dikenal dhaif sedangkan pada hadis Abul Jahhaf ia menambahkan kata “di sisiku tidak kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah” padahal Abul Jahhaf telah dinyatakan tsiqat oleh ulama terdahulu. Pencacatan seorang perawi hanya karena ia tasyayyu’ atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan ahlul bait adalah pencacatan yang tidak bisa diterima.

Kesimpulannya hadis taat kepada Ali berarti taat kepada Nabi adalah hadis yang jayyid dan memiliki makna yang sama dengan hadis siapa yang memisahkan diri dari Ali berarti memisahkan diri dari Nabi. Salafy nashibi seperti biasa suka mencari-cari dalih atas nama ilmiah untuk mencacatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar.(source)

Salam Damai

One Response to Studi Kritis Hadis Taat Kepada Imam Ali Berarti Taat Kepada Nabi SAAW

  1. al khansa mengatakan:

    aku akan selalu mencintai ahlulbayt hingga pedang meneteskan darahku.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s