Buku Mafatih al Jinan 3 Jilid

buku mafatih al-jinanJudul Buku: Mafatih al-Jinan.
Kunci-kunci surga.
Karya: Syeikh Abbas al-Qummi.
Terjemah: Bahasa Indonesia.
Buku mafatih al-jinan ini adalah terjemah bahasa indonesia dari teks kitab Bahasa Arab yang berjudul “Mafatihul Jinan” karya as-Syeikh Abbas al-Qummi, seorang ulama besar Islam yang piawai dalam bidang tafsir, hadits dan Irfan/Tasawuf. Kitab ini berisi kumpulan surat-surat mubarakah dari al-Quran al-Karim, seprti Yasin, al-Waqiah, al-Mulk, al-Fath dll.

Memuat juga doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul bait seperti tawassul, doa kumail, doa abi hamzah tsumali, doa arbain, doa faraj, serta berbagai shalawat masyhuurat.

Hadis Keutamaan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

Sayyidina Ali bin abi thalib merupakan sahabat, menantu, serta murid setia Rasulullah SAW yang mempunyai banyak keutamaan seperti disebutkan dalam beberapa hadis Nabi SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis shahih.

Berikut ini beberapa hadis keutamaan Sayyidina Ali bin abi Thalib yang terucap dari yang Mulia Rasulullah SAW:

1). Sayyidina Ali adalah Pintu gerbang Ilmu Nabi SAW.

Hadis Pertama:

ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

Telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Fahm yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dharisy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Faidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis kedua:

حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174].

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230].

2). Sayyidina Ali adalah Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW.

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda:

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187.

3). Sayyidina Ali adalah Orang yang pertama Kali Masuk Islam.

Berikut ini adalah riwayat Shahih bahwa yang masuk islam pertama kali adalah Ali bin Abi Thalib.
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad 4/368:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع ثنا شعبة عن عمرو بن مرة عن أبي حمزة مولى الأنصار عن زيد بن أرقم قال أول من أسلم مع رسول الله صلى الله عليه و سلم علي رضي الله تعالى عنه

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah Mawla Al Anshari dari Zaid bin Arqam yang berkata “Orang yang pertama kali masuk Islam dengan Rasulullah SAW adalah Ali RA”.

Hadis riwayat Zaid bin Arqam ini disebutkan dalam Syarh Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 19177 bahwa sanadnya shahih. Imam Ahmad juga menyebutkan hadis Zaid dalam Fadhail As Shahabah 2/637 no 1000 dimana pentahqiq kitab tersebut Syaikh Wasiullah bin Muhammad Abbas berkata “sanadnya shahih”. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain 3/136 no 4663 dan Beliau mengatakan bahwa sanadnya shahih. Adz Dzahabi juga menshahihkannya dalam Talkhis Al Mustadrak. An Nasa’i menyebutkan hadis Zaid dalam Al Khasa’is hal 26 hadis no 3 dan berkata Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Tahdzib Al Khasa’is no 3 bahwa sanadnya shahih. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan Tirmidzi 5/642 no 3735 dan berkata Abu Isa At Tirmidzi “hadis hasan shahih”. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih hadis ini dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3735.

4). Sayyidina Ali adalah as-Shiddiq.

Sayyidina Ali pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan mengakui kalau dirinya adalah Ash Shiddiq disebabkan Beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk islam dan beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadits Riwayat Mu’adzah Al Adawiyah:

حدثنا زياد بن يحيى أبو الخطاب قال حدثنا نوح بن قيس وحدثني أبو بكر مصعب بن عبد الله بن مصعب الواسطي قال حدثنا يزيد بن هارون قال أنبأ نوح بن قيس الحداني قال حدثنا سليمان بن عبد الله أبو فاطمة قال سمعت معاذة العدوية تقول سمعت علي بن أبي طالب رضي الله عنه يخطب على منبر البصرة وهو يقول أنا الصديق الأكبر آمنت قبل أن يؤمن أبو بكر وأسلمت قبل أن يسلم

Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya Abul Khaththab yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Mush’ab bin ‘Abdullah bin Mush’ab Al Wasithi yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Nuh bin Qais Al Hadaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah yang berkata aku mendengar Mu’adzah Al ‘Adawiyah yang berkata aku mendengar Ali bin Abi Thalib radiallahu’anhu berkhutbah di atas mimbar Bashrah dan ia mengatakan “aku adalah Shiddiq Al Al Akbar aku beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku memeluk islam sebelum ia memeluk islam” [Al Kuna Ad Duulabiy 5/189 no 1168]

Hadis ini juga disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsani 1/151 no 187, Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/131 no 616, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/274 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 1835 semuanya dengan jalan sanad dari Nuh bin Qais dari Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah dari Ali radiallahu ‘anhu. Riwayat Ad Duulabiy di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah.

5). Sayyidina Ali Adalah Saudara Nabi, Pewaris Nabi dan Wazir Nabi SAW.

Telah diriwayatkan dalam hadis shahih kalau imam Ali telah mewarisi Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Qutsam bin Abbas RA. Beliau adalah putra dari paman Nabi SAW. Al Ijli menyebutkan kalau Qutsam bin Abbas RA termasuk sahabat Nabi SAW [Ma’rifat Ats Tsiqah no 1514].

أخبرنا أبو النضر محمد بن يوسف الفقيه ثنا عثمان بن سعيد الدارمي ثنا النفيلي ثنا زهير ثنا أبو إسحاق قال عثمان وحدثنا علي بن حكيم الأودي وعمر بن عون الواسطي قالا ثنا شريك بن عبد الله عن أبي إسحاق قال سألت قثم بن العباس كيف ورث علي رسول الله صلى الله عليه وسلم دونكم قال لأنه كان أولنا به لحوقا وأشدنا به لزوقا

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman bin Sa’id Ad Darimi yang berkata telah menceritakan kepada kami An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq. Utsman [Ad Darimi] berkata dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim Al Awdiy dan ‘Amru bin ‘Awn Al Wasithi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq yang berkata aku bertanya kepada Qutsam bin Abbas “bagaimana Ali bisa mewarisi Nabi SAW tanpa kalian?” Ia berkata “karena diantara kami Ali adalah orang yang pertama mengikuti Nabi dan orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Beliau” [Mustadrak Shahihain 3/136 no 4633]

Hadis ini adalah hadis shahih. Al-Hakim at-Tirmidzi dan Adz Dzahabi telah bersepakat menshahihkannya.

Buku Fiqih Imam Ja’far Shadiq sudah terjemah Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Ja’far as-Shadiq, beliau adalah ‘Alim Fiqih, Tasawuf, Hadits, Tafsir, Fisika, Matematika, dll. Beberapa Tokoh Besar Islam adalah murid dari beliau, seperti Jabir bin hayyan sang pengasas ilmu al-Jabar (matematika). Sejarah Islam juga menulis bahwa 4 imam fiqih ahlussunnah yaitu Imam Hanafi, Maliki, Hanbali dan syafii kesemuanya merupakan murid-murid berkesinambungan dari Imam Ja’far Shadiq.

Terkhusus beliau mahir dan termsayhur dalam bidang Fiqih, Fiqih Imam jafar shodiq bermuara pada fiqih ahlul bait as yaitu dibawa oleh para Imam dari keluarga suci Rasulullah SAAW secara turun menurun mulai dari Imam Ali bin abi thalib yang memperoleh pengetahuan dari Rasulullah SAW tentunya, kemudian estafet kepada Imam al-Hasan bin Ali, Imam Husain, Imam Ali Zainal abidin, Imam Muhammad al-Baqir kemudian kepada beliau Imam Ja’far bin muhammad as-Shadiq.

Buku atau kitab Fiqih Imam Ja’far shadiq disusun oleh seorang Ulama besar yaitu Syaikh Muhammad Jawwad Mughniyah, terdiri dari 3 Jilid hasil terjemah kebahasa Indonesia dari bahasa kitab asli bahasa Arab “Fiqhul Imam as-Shadiq”.

Buku fiqih ini memuat dari berbagai persoalan hukum Islam mulai dari Ibadah sampai urusan Muamalah. Bagi yang berniat mengetahui lebih jelas, bisa dibaca secara detail buku tersebut bisa dibeli diToko-Toko Buku, dengan judul Fiqih Imam Ja’far Shadiq.

Tampilan sampul dan kemasan box berikut ini:

Buku Fiqih Imam Jafar shadiq

Banyak orang meributkan antara sunni dan syiah, padahal pada kenyataanya Imam ja’far adalah guru dari kedua mazhab besar ini, Imam jafar adalah guru besar syiah dan sunni.

Selamat memngkaji..

Dialog Sunni Syiah bertujuan untuk apa?

Dalam perkembangan zaman belakangan ini, Dialog Sunni Syiah merupakan perbincangan yang cukup laris ditengah masyarakat muslim Indonesia maupun masyarakat dunia Islam. Topik “Dialog Sunni Syiah” begitu hangat baik dari tanggapan mereka yang menyepakatinya atau menolaknya.

Tujuan dialog antar mazhab sunni dan syiah ini sebenarna dilatarbelakangi oleh terjadinya berbagai macam konflik sunni-syiah yang terjadi pada Ummat Islam baik dizaman lampau maupun dizaman modern sekarang ini.

Terjadi beberapa pandangan dari Ummat Islam yang Pro-Persatuan dan yang Anti-Persatuan. Di Oman, Jordania contohnya, kerajaan yang notabene masih dalam kawasan semenanjung atau jazirah arab itu mengadakan seminar atau konferensi Internasional Ulama Islam se-Dunia yang bertema “Persatuan Ummat Islam, dialog antar mazhab-mazhab Islam menuju Ukhuwwah Islamiyyah”.

Dihadiri puluhan Ulama baik dari Sunni, Syiah maupun mazhab lainya. Mereka mendiskusikan apa yang selama ini menjadi perbedaan pokok dalam hal akidah, fiqih dll.

Konferensi Oman ini, menelorkan sebuah kesepakatan bahwasanya perlu saling menghormati antar warga penganut mazhab-mazhab Islam yang berbeda. Dengan sikap saling menghormati, menghargai tersebut niscaya akan terbentuklah masyarakat Islam yang mencintai persatuan atau Ukhuwwah Islamiyyah.

Begitu pula di Indonesia akan sangat berarti untuk terlaksanakanya “dialog sunni syiah”, karena belakangan ini konflik sunni syiah mulai membara dan memprihatinkan apabila hal ini di biarkan begitu saja. Pada dasarnya mazhab sunni dan syiah mempunyai dasar sendiri-sendiri dalam berbagai bidang pijakan Akidah, Fiqih dll. Yang berarti bahwa kedua mazhab ini sebenarnya hanya mempunyai perbedaan cara pandang, dan sama-sama masih masuk dalam kategori bagian dari Islam.