Sunni dan Syiah, perbedaan dan kesamaan

Konflik Sunni dan Syiah yang terjadi pekan lalu di Sampang, Madura, membuat banyak orang mulai bertanya ada apa sebenarnya dengan Syiah. Siapa mereka dan kenapa bisa berlanjut konfliknya hingga bersimbah darah? Menteri Agama Indonesia ke-15, Muhammad Quraish Shihab, membedah dua kelompok ini dalam buku yang berjudul Sunnah-Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Pria 68 tahun ini mengawali kisah dua kelompok besar ini dengan menjelaskan apa itu perbedaan dalam Islam. Ia kemudian membedah perbedaan umum antara Sunnah dan Syiah. Menurut lelaki kelahiran Sulawesi selatan ini, secara umum ada dua kelompok umat Islam dengan jumlah pengikut yang besar yaitu kelompok Ahlussunnah wa al-Jamaah dan kelompok Syiah.

Kelompok pertama secara harfiah dari kata Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kelompok Ahlussunah juga memperurutkan keutamaan Khulafa”ar-Rasyidin sesuai dengan urutan dan masa kekuasaan mereka.

Shihab mengaku kesulitan untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahlussunah dalam pengertian terminologi. Secara umum, melalui berbagai pendapat, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Asy”ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi”i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi).

“Sebelum memulai dengan siapa Syiah, perlu digarisbawahi, kelompok Syiah pun menamai diri Ahlussunah,” ujar dia. Tapi definisinya tentu berbeda. Syiah memang mengikuti tuntunan sunah Nabi, tapi ada sejumlah perbedaan bentuk dukungan dan tuntunan itu.

Muhammad Jawad Maghniyah, ulama beraliran Syiah, mendefinisikan tentang kelompoknya. Syiah yang secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, dan pecinta ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah beliau dengan menunjuk Imam Ali.

“Definisi ini hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, tapi untuk sementara dapat diterima,” kata Shihab.

Perbedaan antara Syiah dan Ahlusunnah yang menonjol adalah masalah imamah atau jabatan Ilahi. Khususnya ada tiga hal pokok yang diyakini Syiah dan ditentang Ahlussunnah. Ketiganya adalah pandangan tentang Nabi belum menyampaikan seluruh ajaran/hukum agama kepada umat, imam-imam berwenang mengecualikan apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW, dan imam-imam mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi dalam segi kemaksuman (keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa)

Keberatan itu, tulis Shihab, tertuang dalam buku karangan Syaikh Abu Zahrah berjudul Tarikh al-Maadzahib al-Islamiyah. Bagi kaum Syiah, imam yang mereka percayai ada dua belas orang jumlahnya. Mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang kekuasaannya bersumber dari Allah. (ditulis oleh DIANING SARI, pada TEMPO.CO, Jakarta)

Konflik Sunni dan Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Terulangnya peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang Madura, sungguh telah mencoreng kerukunan umat beragama di Indonesia. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di Sampang yang merupakan komunitas muslim NU yang selama ini dikenal dengan toleransi beragamanya yang kuat. Dan sebenarnya, beberapa tradisi di kalangan NU, sedikit banyak dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah.

Karena itu, muncul dugaan bahwa sebenarnya peristiwa itu bukan berawal dari perbedaan mazhab antara Sunni (Aswaja) dan Syiah, melainkan dipicu oleh masalah yang tidak terkait dengan hal itu. Kompasianer Dewa Gilang dalam tulisannya yang berjudul “Minyak Tergenang di Syiah Sampang”, mengungkapkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Media online Okezone.com, 8/03/2012, merilis berita temuan Kontras Surabaya tentang fakta-fakta bahwa konflik Sampang ini sengaja diciptakan untuk eksplorasi minyak dan pengembangan investasi di kawasan tersebut. Meskipun belum bisa dibuktikan kebenarannya, temuan tersebut patut kita tunggu hasil akhirnya.

Sementara itu, seperti dirilis Kompas.com, Mendagri Gamawan Fauzi menyatakan bahwa kerusuhan di Sampang, Madura, bukan masalah agama, melainkan masalah kriminal murni. “Kejadian di Sampang merupakan kriminal murni dan konflik keluarga yang berkembang di masyarakat, bukan masalah Syiah maupun anti-Syiah,” ujarnya kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tertutup di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (27/8/2012) malam.

Ia menjelaskan, kasus ini berawal dari permasalahan keluarga sejak 2004 hingga sekarang, yaitu antara Tajul Muluk dan Rois yang mempunyai masalah pribadi dan tersebar di masyarakat luas. “Kebetulan keduanya berbeda aliran, satu Syiah dan satunya Sunni. Mereka juga memiliki anak buah banyak. Dari sinilah persoalannya, bahwa masalah awal bukan masalah agama, tapi pribadi yang dimiliki oleh kedua orang tersebut,” tuturnya.

Pada perkembangan selanjutnya, Beritasatu.com mengungkapkan bahwa Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengumumkan penyidik telah menetapkan seorang tersangka berinisial R dalam kasus kerusuhan yang terjadi di Sampang, Madura, Minggu (26/8) lalu.

Menurut saya, dugaan konflik keluarga sebagai pemicu peristiwa Sampang lebih masuk akal dan dapat langsung dibuktikan dengan bukti-bukti awal dan dengan merunut motif pada pelakunya. Namun temuan awal Kontras tetap harus ditindaklanjuti. Jika temuan itu dapat dibuktikan, maka akan dapat mengungkap motif peristiwa yang jauh lebih besar dan penting untuk diungkap.

Konflik Sunni-Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Jika kita menengok ke belakang, tentang pengenalan kita kepada mazhab Syiah dalam Islam, kita akan teringat kembali pada peristiwa revolusi Islam di Iran yang akhirnya pada tahun 1979 mampu menghentikan kekejaman rezim Syah Reza Pahlevi, penguasa otoriter yang didukung Amerika, yang berkuasa 37 tahun.

Ketika banyak umat Islam di seluruh dunia yang menaruh harapan pada keberhasilan revolusi Islam Iran, yang tidak hanya mampu menurunkan penguasa otoriter, tapi juga menggantikannya dengan sistem pemerintahan Islam seperti yang kita kenal di negara Iran sekarang ini. Banyak umat Islam yang berharap dapat melakukan hal serupa pada negara-negara mereka yang dikuasai oleh pemerintah otoriter, yang ironisnya didukung oleh Amerika yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi. Bahkan pemerintahan Saddam Husein pun mendapat dukungan Amerika ketika memutuskan untuk menyerang Iran ketika itu.

Namun, keadaan tiba-tiba berbalik arah. Dunia Islam tiba-tiba menganggap Islam di Iran sebagai sesuatu yang sangat berbeda dengan Islam di negara-negara muslim lainnya. Saya masih ingat, ketika itu banyak saya jumpai buku-buku yang ditulis oleh kalangan Islam sendiri yang menyerang Khomeini. Ayatullah Khomeini yang sebelumnya dielu-elukan sebagai tokoh pembebas, tiba-tiba dicitrakan sebagai tokoh yang intoleran dan kejam. Selain itu, banyak juga ulasan yang menyerang mazhab Syiah sebagai mazhab yang menyimpang dari mainstream Islam. Ketika itu saya belum banyak memahami fenomena ini, tapi terus mengikuti perkembangannya.

Akhirnya saya mengetahui peta perkembangannya. Keberhasilan revolusi Islam Iran, tak pelak lagi telah menohok begitu keras hegemoni Amerikia sebagai pelindung penguasa otoriter Syah Reza Pahlevi. Amerika sebagai musuh besar Iran, berusaha mengecilkan dan membendung pengaruh revolusi di Iran tersebut. Maka diblow up lah perbedaan antara Sunni dan Syiah, sampai pada gap paling ekstrem sekalipun. Sebelumnya, perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak pernahmencapai kondisi seekstrem ini. Sayangnya, banyak Negara dan umat Islam yang termakan oleh rekayasa ini. Sangat disayangkan pula, Arab Saudi berdiri paling depan dengan fatwa-fatwa para ulamanya yang begitu keras terhadap eksistensi Syiah ini. Sementara fenomena westernisasi dibiarkan terjadi di kota-kota besar di Arab Saudi. Tapi alhamdulilah, fenomena itu belum mengganggu dua kota suci Mekkah dan Madinah.

Kita juga masih ingat, bagaimana ketika agresi Amerika ke Irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal, telah mengubah struktur masyarakat Irak yang bersatu menentang rezim Saddam Husein, menjadi terpecah antara kaum Sunni dan Syiah. Amerika sengaja memprovokasi perpecahan ini untuk memudahkan pendudukannya atas Irak. Tokoh-tokoh Sunni dan Syiah sendiri sebenarnya sudah melakukan upaya untuk menahan meluasnya perpecahan ini dengan menyatakan bahwa “musuh kami bukan Syiah atau Sunni”. Tapi sayang insiden-insiden pemboman yang mengorbankan kedua belah pihak tetap saja terjadi.

Fakta-fakta di atas mengindikasikan bahwa konflik dan pertentangan antara Sunni dan Syiah lebih didasari oleh pertentangan politik daripada hal-hal yang bersifat teologis. Sebenarnya perbedaan-perbedaan secara teologis telah banyak dilakukan upaya dialog untuk mempersempit perbedaan dan menemukan persamaan-persamaan. Tapi selama konflik kepentingan dan politik tak terselesaikan, tampaknya upaya-upaya itu seperti sia-sia.

Konflik Sunni-Syiah di Indonesia, Bagaimanakah?

Ketika pertama kali terjadi peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang, muncul pertanyaan di benak saya, sejak kapankah pertentangan faham antara Sunni dan Syiah di Indonesia berubah menjadi konflik horizontal? Kejadian ini sangat mengejutkan bagi saya. Pandangan saya terhadap Syiah berbeda dengan pandangan saya terhadap Ahmadiyah. Syiah telah berkembang dalam kurun waktu yang panjang dengan konsep fikih dan teologi yang cukup berpengaruh, yang bahkan ada sebagian intelektual muslim yang menyebutkannya sebagai mazhab kelima dalam Islam. Sedangkan Ahmadiyah sangat terlihat sebagai gerakan yang erat kaitannya dengan dukungannya terhadap kolonialisme Inggris di India pada masanya.

Beberapa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam di Indonesia sendiri, terutama di kalangan NU, boleh jadi dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah. Tradisi membaca Barzanji dan Grebeg Suro adalah contoh pengaruh tradisi Syiah yang berkembang di Indonesia. Konsep kedatangan Imam Mahdi juga berkembang di Indonesia, terutama di Jawa, yang disebut dengan kedatangan Ratu Adil.

Namun pengaruh Syiah tersebut hanya melekat pada tradisi-tradisi ritual saja, tidak sampai pada konsep fikih dan teolgisnya. Secara formal, umat Islam di kalangan NU tetap memegang doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah. NU tetap menjujung tinggi empat khalifah penggantri Nabi. NU juga tidak terpengaruh oleh konsep Imamah dalam Syiah.

Perbedaan antara Sunni dan Syiah yang paling mendasar sebenarnya berawal dari penolakan Syiah terhadap tiga khalifah selain Ali bin Abi Thalib (Abu Bakar, Umar dan Utsman). Penolakan ini menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.

Dalam Syiah sendiri juga berkembang tiga aliran besar, yaitu Syiah Itsna ‘Asyariyah, Syiah Ismailiyah dan Syiah Zaidiyah. Itsna ‘Asyariyah adalah aliran terbesar yang berkembang di Iran sekarang ini. Sedangkan Ismailiyah merupakan aliran yang paling ekstrem, dan Zaidiyah merupakan aliran yang paling mendekati Sunni (yang tetap mengakui tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib).

Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syiah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan. Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan sebagian sahabat yang mengikuti keduanya”.

Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam “Majmu’ Fatawa” ialah bahwa Rafidhah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syiah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar’.”

Pendapat yang agak berbeda diutarakan oleh Imam Syafi’i. Meskipun mazhabnya berbeda secara teologis dengan Syiah, tetapi ia pernah mengutarakan kecintaannya pada Ahlul Bait dalam diwan asy-Syafi’i melalui penggalan syairnya: “Kalau memang cinta pada Ahlul Bait adalah Rafidhah, maka ketahuilah aku ini adalah Rafidhah”. (selengkapnya baca wikipedia)

Terlepas dari perbedaan yang cukup tajam dalam konsep fikih dan teologi Syiah, saya tetap berharap adanya upaya untuk mempersempit perbedaan dan mencari titik-titik persamaan. Saya sendiri mengagumi tokoh ideolog revolusi Islam Iran Ali Syariati dan presiden Iran sekarang Mahmoud Ahmadinejad, yang saya sebut sebagai penerus Raja Faisal (Arab Saudi) dari kalangan Syiah. Seperti diketahui Raja Faisal adalah Raja Arab Saudi yang mempelopori embargo minyak terhadap Amerika, sebagai penentangan terhadap dukungan total Amerika terhadap pendudukan Israel di Palestina. Meskipun demikian, Raja Faisal juga dikenal sebagai raja yang sederhana, egaliter dan reformis. Hal yang sama juga melekat pada kepemimpinan Ahmadinejad sekarang ini. Ahmadinejad dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, egaliter, tapi tetap tegas, terutama dalam penentangannya terhadap hegemoni Amerika. (kompasiana: farid wadjdi)

About these ads

5 Responses to Sunni dan Syiah, perbedaan dan kesamaan

  1. a mengatakan:

    Penyataan Ulama Kredibelitas Tentang
    Kesesatan Syiah :
    Sebagai bahan bandingan, apakah
    memang benar Syiah itu Islam ?. ada
    banyak pernyataan Imam imam besar
    Islam yang menyatakan Syiah itu sesat,
    bahkan kafir, dan juga pernyataan mereka
    menolak ucapan ulama ulama [kaliber
    Indonesia] yang disebutkan diatas :

    1. AL-IMAM ‘AMIR ASY-SYA’BI
    berkata, “Aku tidak pernah
    melihat kaum yang lebih dungu
    dari Syi’ah.” (as-Sunnah,
    2/549, karya Abdullah bin al-
    Imam Ahmad)

    2. AL-IMAM SUFYAN ATS-TSAURI
    ketika ditanya tentang
    seseorang yang mencela Abu
    Bakr dan ‘Umar c, beliau
    berkata, “Ia telah kafir kepada
    Allah l.” Kemudian ditanya,
    “Apakah kita menshalatinya
    (bila meninggal dunia)?” Beliau
    berkata, “Tidak, tiada
    kehormatan (baginya)….” (Siyar
    A’lamin Nubala, 7/253)

    3. AL-IMAM MALIK dan AL-IMAM
    ASY-SYAFI`I rahimahumallah,
    telah disebut di atas.

    4. AL-IMAM AHMAD BIN HANBAL
    berkata, “Aku tidak melihat dia
    (orang yang mencela Abu Bakr,
    ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu
    sebagai orang Islam.” (as-
    Sunnah, 1/493, karya al-Khallal)

    5. AL-IMAM AL-BUKHARI berkata,
    “Bagiku sama saja apakah aku
    shalat di belakang Jahmi
    (penganut Jahmiyah, red.) dan
    Rafidhi (penganut Syiah
    Rafidhah, red.), atau di
    belakang Yahudi dan Nashara
    (yakni sama-sama tidak boleh,
    red.). Mereka tidak boleh diberi
    salam, tidak dikunjungi ketika
    sakit, tidak dinikahkan, tidak
    dijadikan saksi, dan tidak
    dimakan sembelihan
    mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad,
    hlm. 125)

    6. AL-IMAM ABU ZUR’AH AR-RAZI
    berkata, “Jika engkau melihat
    orang yang mencela salah satu
    dari sahabat Rasulullah n,
    maka ketahuilah bahwa ia
    seorang zindiq. Yang demikian
    itu karena Rasul bagi kita
    adalah haq dan Al-Qur’an haq,
    dan sesungguhnya yang
    menyampaikan Al-Qur’an dan
    As-Sunnah adalah para sahabat
    Rasulullah n. Sungguh mereka
    mencela para saksi kita (para
    sahabat) dengan tujuan untuk
    meniadakan Al-Qur’an dan As-
    Sunnah. Mereka (Rafidhah)
    lebih pantas untuk dicela dan
    mereka adalah zanadiqah
    (orang-orang zindiq).” (al-
    Kifayah, hlm. 49, karya al-
    Khathib al-Baghdadi t)

    7. IMAM MALIK AL KHALAL
    meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, katanya : Saya
    mendengar Abu Abdulloh
    berkata, bahwa Imam Malik
    berkata : “Orang yang mencela
    sahabat-sahabat Nabi, maka ia
    tidak termasuk dalam golongan
    Islam” ( Al Khalal / As Sunnah,
    2-557 )

    8. IBNU KATSIR
    berkata, dalam
    kaitannya dengan firman Allah
    surat Al Fath ayat 29, yang
    artinya :
    “ Muhammad itu adalah Rasul
    (utusan Allah). Orang-orang
    yang bersama dengan dia
    (Mukminin) sangat keras
    terhadap orang-orang kafir,
    berkasih sayang sesama
    mereka, engkau lihat mereka itu
    rukuk, sujud serta
    mengharapkan kurnia daripada
    Allah dan keridhaanNya. Tanda
    mereka itu adalah di muka
    mereka, karena bekas sujud.
    Itulah contoh (sifat) mereka
    dalam Taurat. Dan contoh
    mereka dalam Injil, ialah seperti
    tanaman yang mengeluarkan
    anaknya (yang kecil lemah), lalu
    bertambah kuat dan bertambah
    besar, lalu tegak lurus dengan
    batangnya, sehingga ia
    menakjubkan orang-orang yang
    menanamnya. (Begitu pula
    orang-orang Islam, pada mula-
    mulanya sedikit serta lemah,
    kemudian bertambah banyak
    dan kuat), supaya Allah
    memarahkan orang-orang kafir
    sebab mereka. Allah telah
    menjanjikan ampunan dan
    pahala yang besar untuk orang-
    orang yang beriman dan
    beramal salih diantara
    mereka”.Beliau berkata : Dari
    ayat ini, dalam satu riwayat
    dari Imam Malik, beliau
    mengambil kesimpulan bahwa
    golongan Rofidhoh (Syiah),
    yaitu orang-orang yang
    membenci para sahabat Nabi
    SAW, adalah Kafir.
    Beliau berkata : “Karena mereka
    ini membenci para sahabat,
    maka dia adalah Kafir
    berdasarkan ayat ini”. Pendapat
    tersebut disepakati oleh
    sejumlah Ulama. (Tafsir Ibin
    Katsir, 4-219 )

    9. IMAM AL QURTHUBI berkata :
    “Sesungguhnya ucapan Imam
    Malik itu benar dan
    penafsirannya juga benar,
    siapapun yang menghina
    seorang sahabat atau mencela
    periwayatannya, maka ia telah
    menentang Allah, Tuhan seru
    sekalian alam dan
    membatalkan syariat kaum
    Muslimin”. (Tafsir Al
    Qurthubi, 16-297)

    10. IMAM AHMAD AL KHALAL
    meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, ia berkata : “Saya
    bertanya kepada Abu Abdullah
    tentang orang yang mencela
    Abu Bakar, Umar dan Aisyah?
    Jawabnya, saya berpendapat
    bahwa dia bukan orang Islam”.
    ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).
    11. Beliau Al Khalal juga berkata :
    Abdul Malik bin Abdul Hamid
    menceritakan kepadaku,
    katanya: “Saya mendengar Abu
    Abdullah berkata : “Barangsiapa
    mencela sahabat Nabi, maka
    kami khawatir dia keluar dari
    Islam, tanpa disadari”.

    12. (Al Khalal / As Sunnah, 2-558).
    Beliau Al Khalal juga berkata : “
    Abdullah bin Ahmad bin Hambal
    bercerita pada kami, katanya :
    “Saya bertanya kepada ayahku
    perihal seorang yang mencela
    salah seorang dari sahabat Nabi
    SAW. Maka beliau menjawab :
    “Saya berpendapat ia bukan
    orang Islam”. (Al Khalal / As
    Sunnah, 2-558)

    13. Dalam kitab AS SUNNAH karya
    IMAM AHMAD halaman 82,
    disebutkan mengenai pendapat
    beliau tentang golongan
    Rofidhoh (Syiah) :“Mereka itu
    adalah golongan yang
    menjauhkan diri dari sahabat
    Muhammad SAW dan
    mencelanya, menghinanya serta
    mengkafirkannya, kecuali hanya
    empat orang saja yang tidak
    mereka kafirkan, yaitu Ali,
    Ammar, Migdad dan Salman.
    Golongan Rofidhoh (Syiah) ini
    sama sekali bukan Islam.”

    14. AL-FARIYABI AL KHALAL
    meriwayatkan, katanya : “Telah
    menceritakan kepadaku Harb bin
    Ismail Al Karmani, katanya :
    “Musa bin Harun bin Zayyad
    menceritakan kepada kami :
    “Saya mendengar Al Faryaabi
    dan seseorang bertanya
    kepadanya tentang orang yang
    mencela Abu Bakar. Jawabnya :
    “Dia kafir”. Lalu ia berkata :
    “Apakah orang semacam itu
    boleh disholatkan
    jenazahnya ?”. Jawabnya :
    “Tidak”. Dan aku bertanya pula
    kepadanya : “Mengenai apa
    yang dilakukan terhadapnya,
    padahal orang itu juga telah
    mengucapkan Laa Ilaaha
    Illalloh?”. Jawabnya :
    “Janganlah kamu sentuh
    jenazahnya dengan tangan
    kamu, tetapi kamu angkat
    dengan kayu sampai kamu
    turunkan ke liang lahatnya”. (Al
    Khalal / As Sunnah, 6-566)

    Diantara para Imam dan para Ulama yang telah
    mengeluarkan fatwa-fatwa tersebut adalah :

    IMAM MALIK
    ﺍﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :
    ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ : ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺸﺘﻢ ﺍﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺍﻭ ﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ .
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻦ : ۲،٥٥٧ )
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh
    berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang
    mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak
    termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal / As
    Sunnah, 2-557 )

    IMAM AHMAD
    ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﺒﻞ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﻦ ﻳﺸﺘﻢ
    ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻣﺎﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲، ٥٥٧ )
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu
    Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar,
    Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat
    bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As
    Sunnah, 2-557).

    AL BUKHORI
    ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ
    ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻣﺎﺃﺑﺎﻟﻰ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻰ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻰ
    ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ
    ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
    ( ﺧﻠﻖ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ :١٢٥ )
    Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja,
    apakah aku sholat dibelakang Imam yang
    beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku
    sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani.
    Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam
    pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi
    mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin
    dengan mereka dan tidak menjadikan mereka
    sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan
    yang disembelih oleh mereka. (Imam Bukhori /
    Kholgul Afail, halaman 125).

    AL FARYABI
    ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻗﺎﻝ : ﺃﺧﺒﺮﻧﻰ ﺣﺮﺏ ﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﻜﺮﻣﺎﻧﻰ
    ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ ﻭﺭﺟﻞ
    ﻳﺴﺄﻟﻪ ﻋﻤﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺑﺎﺑﻜﺮ
    ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻓﺮ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻴﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﺎﻝ : ﻻ . ﻭﺳﺄﻟﺘﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺼﻨﻊ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ
    ﻳﻘﻮﻝ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
    ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻰ ﺣﻔﺮﺗﻪ .
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ/ ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲،٥٦٦ )
    Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah
    menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al
    Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad
    menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al
    Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya
    tentang orang yang mencela Abu Bakar.
    Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah
    orang semacam itu boleh disholatkan
    jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku
    bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang
    dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
    telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”.
    Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya
    dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan
    kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.
    (Al Khalal / As Sunnah, 6-566).

    AHMAD BIN YUNUS
    Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi
    menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi
    (Syiah) juga menyembelih seekor binatang,
    niscaya saya hanya memakan sembelihan si
    Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si
    Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari
    Islam”. (Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

    ABU ZUR’AH AR ROZI
    ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﺍﻟﺮﺍﺯﻯ
    ﺍﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ
    ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺯﻧﺪﻳﻖ، ﻷﻥ ﻣﺆﺩﻯ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ .
    ( ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ : ٤٩ )
    Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang
    merendahkan (mencela) salah seorang sahabat
    Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia
    adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat
    membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”. (Al
    Kifayah, halaman 49).

    ABDUL QODIR AL BAGHDADI
    Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah,
    Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang
    mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan
    sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut
    kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka
    tidak boleh di sholatkan dan tidak sah
    berma’mum sholat di belakang mereka”. (Al Fargu
    Bainal Firaq, halaman 357).
    Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka
    adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka
    menyatakan Allah bersifat Al Bada’

    IBNU HAZM
    Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan
    Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
    sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya
    sudah diubah”.
    Kemudian beliau berkata : ”Orang yang
    berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah
    diubah adalah benar-benar kafir dan
    mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40).

    ABU HAMID AL GHOZALI
    Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan
    terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar
    Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah
    menentang dan membinasakan Ijma kaum
    Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para
    sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan
    surga kepada mereka dan pujian bagi mereka
    serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan
    agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka
    serta kelebihan mereka dari manusia-manusia
    lain”.
    Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang
    begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia
    tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir,
    maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia
    telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang
    yang mendustakan satu kata saja dari ucapan
    beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang
    tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah,
    halaman 149).

    AL QODHI IYADH
    Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran
    orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam
    keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka
    lebih mulia dari pada para Nabi”.
    Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan
    siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun
    hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat
    yang diubah atau ditambah di dalamnya,
    sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
    Syiah Ismailiyah”. (Ar Risalah, halaman 325).

    AL FAKHRUR ROZI
    Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya
    dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan
    Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
    Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum
    Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang
    mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang
    kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang
    artinya : “Barangsiapa berkata kepada
    saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah
    seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang
    kafir”.
    Dengan demikian mereka (golongan Syiah)
    otomatis menjadi kafir.
    Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat
    (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah
    sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh
    kehormatan (para sahabat Nabi)”.
    Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir
    siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari
    kalangan sahabat.
    (Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

    IBNU TAIMIYAH
    Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa
    Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada
    yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa
    Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran
    batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya.
    Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang
    kekafiran orang semacam ini”
    Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu
    murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak
    lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari
    mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan
    lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir.
    Karena dia telah mendustakan penegasan Al-
    Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat
    mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada
    mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini,
    adakah orang yang meragukannya? Sebab
    kekafiran orang semacam ini sudah jelas….
    (Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

    SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI
    Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab
    Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang
    terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang
    menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa
    yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu
    bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak
    sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya
    kekafiran mereka”. (Mukhtashor At Tuhfah Al
    Itsna Asyariyah, halaman 300).

    MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI
    Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan
    mencakup empat dosa besar, masing-masing dari
    dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-
    terangan.
    Pertama : Menentang Allah.
    Kedua : Menentang Rasulullah.
    Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan
    upaya mereka untuk melenyapkannya.
    Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang
    diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah
    dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang
    yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah
    SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci
    kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan
    disamping telah menjadi ketetapan hukum
    didalam syariat Islam yang suci, bahwa
    barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka
    dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam
    Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
    (Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi
    Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

    PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN
    Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata :
    “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini
    menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah
    dan menetapkan halalnya darah mereka, harta
    mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi
    budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi
    SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang
    menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW,
    mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh
    Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal
    Allah sendiri menyatakan kesuciannya,
    melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi.
    Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah
    SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an
    dari kekurangan dan tambahan”. (Nahjus
    Salaamah, halaman 29-30).

    Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari
    para Imam dan para Ulama yang dengan tegas
    mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci
    maki dan mengkafirkan para sahabat serta
    menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat
    serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang
    ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof).
    Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih
    tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
    Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu
    pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap
    golongan Syiah.
    “Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang
    benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai
    pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa
    yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai
    orang yang menjauhinya.”

    Sumber : albayyinat.net

  2. a mengatakan:

    PARA ULAMA’ AHLUSSUNNAH
    termasuk ke 4 imam mazhab Islam yang diakui ummat Islam
    di dunia .
    INILAH Sikap Ulama Islam terhadap Agama
    Syi’ah :

    1.) Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy
    rahimahulllâh (W. 62 H)
    Beliau berkata,
    ﻟﻘﺪ ﻏﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻏﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻲ
    ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ
    “Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem
    terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana
    kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin
    Maryam.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/548]

    2.) Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy
    rahimahulllâh (W. 105 H)
    Beliau bertutur,
    ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ
    “Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang
    lebih dungu daripada kaum Syi’ah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh
    7/1461]
    Beliau juga bertutur,
    ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﻗﻞ ﻋﻘﻮﻻً ﻣﻦ
    ﺍﻟﺨﺸﺒﻴﺔ
    “Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat
    ini, dan Saya telah berbicara dengan
    penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada
    suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada
    kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/548]

    3.) Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh
    (W. 112 H)
    Beliau berkata,
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻻ ﺗﻨﻜﺢ ﻧﺴﺎﺅﻫﻢ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺭﺩﺓ
    “(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi
    kaum perempuan mereka dan tidak boleh
    memakan daging-daging sembelihannya karena
    mereka adalah kaum murtad.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

    4.) Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-
    Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
    Beliau berucap,
    ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﻀﻞ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻴﺎً ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ
    ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    “Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau
    mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan
    Ustman, serta janganlah engkau mencela
    seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam.
    –. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-
    A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

    5.) Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W.
    155 H)
    Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar
    bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum
    Rafidhah, kemudian orang tersebut
    membicarakan sesuatu dengannya, tetapi
    kemudian Mis’ar berkata,
    ﺗﻨﺢ ﻋﻨﻲ ﻓﺈﻧﻚ ﺷﻴﻄﺎﻥ
    “Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau
    adalah syaithan.”
    –. [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal
    Jamâ’ah 8/1457]

    6.) Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury
    rahimahulllâh (W. 161 H)
    Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut
    bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh
    seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan
    Umar, Sufyân pun menjawab,
    ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ
    “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang
    Maha Agung.”
    Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami
    menshalatinya?”
    (Sufyân) menjawab,
    ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ
    “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
    Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh.
    Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?”
    Beliau menjawab,
    ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ
    “Janganlah kalian menyentuhnya dengan
    tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu)
    dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
    –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar
    A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

    7.) Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
    H)
    Beliau bertutur,
    ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
    ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
    bagian apapun dalam keislaman.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
    dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
    Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa
    Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah
    maka Imam Malik menjawab,
    ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
    “Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari
    mereka. Sesungguhnya mereka itu sering
    berdusta.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
    As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

    8.) Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim
    rahimahulllâh (W.182 H)
    Beliau berkata,
    ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻤﻲ، ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ
    “Saya tidak mengerjakan shalat di belakang
    seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy
    (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary
    (penganut paham Qadariyah).”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    4/733]

    9.) Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh
    (W. 198 H)
    Beliau berucap,
    ﻫﻤﺎ ﻣﻠﺘﺎﻥ : ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
    “Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.),
    yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq
    Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

    10.) Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy
    rahimahulllâh (W. 204 H)
    Beliau berkata,
    ﻟﻢ ﺃﺭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ، ﺃﻛﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ، ﻭﻻ ﺃﺷﻬﺪ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
    “Saya tidak pernah melihat seorang pun
    penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam
    pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu
    melebihi Kaum Rafidhah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam
    Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/1457]

    11.) Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W.
    206 H)
    Beliau berkata,
    ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺩﺍﻋﻴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
    “Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut
    bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali
    (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering
    berdusta.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
    As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

    12.) Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby
    rahimahulllâh (W. 212 H)
    Beliau berkata,
    ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﺇﻻ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ
    “Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan
    kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang
    zindiq.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/1457]

    13.) Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair
    rahimahulllâh (W. 219 H)
    Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan
    rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,
    ﻓﻠﻢ ﻧﺆﻣﺮ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﻳﺴﺒﻬﻢ، ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻘﺼﻬﻢ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ،
    ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺊ ﺣﻖ
    “Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan
    ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang
    mencerca mereka atau merendahkan mereka
    atau salah seorang di antara mereka, dia
    tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada
    hak apapun baginya dalam fâ`i.”
    –. [Ushûl As-Sunnah hal.43]

    14.) Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh
    (W. 224 H)
    Beliau berkata,
    ﻋﺎﺷﺮﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻭﺳﺦ ﻭﺳﺨﺎً، ﻭﻻ
    ﺃﻗﺬﺭ ﻗﺬﺭﺍً، ﻭﻻ ﺃﺿﻌﻒ ﺣﺠﺔ، ﻭﻻ ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ …
    “Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya
    telah berbicara dengan ahli kalam dan …
    demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih
    kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah,
    dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/499]

    15.) Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W.
    227 H)
    Beliau berkata,
    ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺭﺟﻞ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﺮﺗﺪ
    “Sesungguhnya kami tidaklah memakan
    sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia,
    menurut Saya, adalah murtad.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/459]

    16.) Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W.
    241 H)
    Banyak riwayat dari beliau tentang celaan
    terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah :
    Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang
    mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Saya tidak memandang bahwa dia di atas
    (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl
    dalam As-Sunnah 1/493]
    Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr,
    Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya
    tidak memandang bahwa dia di atas (agama)
    Islam.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/493]

    Beliau ditanya pula tentang orang yang
    bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang
    memberi salam kepada orang itu. Beliau
    menjawab.
    ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ
    “Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi
    salam kepada (orang) itu, janganlah dia
    menjawab (salam) tersebut.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/494]

    17.) Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail
    rahimahulllâh (W. 256 H)
    Beliau berkata,
    ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
    ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ، ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ،
    ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
    “Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan
    shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun
    Saya mengerjakan shalat di belakang orang-
    orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya
    sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk
    mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk
    mereka.”
    –. [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

    18.) Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin
    Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
    Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang
    lelaki yang merendahkan seorang shahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
    ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu
    karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
    wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah
    benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini
    dan hadits-hadits adalah para shahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang
    Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin
    mempercacat saksi-saksi Kita untuk
    menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan
    terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas
    dan mereka adalah para zindiq.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-
    Kifâyah hal. 49]

    19.) Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin
    Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
    Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu
    Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab
    dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan
    Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati
    oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara
    perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum
    Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah
    telah menolak keislaman.
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

    20.) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-
    Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
    Beliau berkata,
    ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ
    ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ
    “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat
    adalah menghancurkan, mengajak kepada
    kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di
    antara mereka adalah kaum Rafidhah,
    Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka
    menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl
    dan kezindiqan.”
    –. [Syarh As-Sunnah hal. 54]

    21.) Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W.
    385 H)
    Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik
    manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
    sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali
    ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh
    shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
    adalah orang-orang pilihan lagi baik.
    Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah
    dengan mencintai mereka semua, dan
    sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja
    yang mencela, melaknat, dan menyesatkan
    mereka, menganggap mereka berkhianat, serta
    mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya
    berlepas diri dari semua bid’ah berupa
    Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan
    Mu’tazilah.”
    –. [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah
    hal. 251-252]

    22.) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387
    H)
    Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah,
    mereka adalah manusia yang paling banyak
    berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di
    antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk
    dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan
    orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari
    mereka menyatakan bahwa tidak (sah)
    melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua
    Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali
    dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak
    memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan
    barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya,
    tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena
    pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya
    telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah
    Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap
    percampuran najis-najis penganut kesesatan
    serta keburukan pendapat-pendapat dan
    madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding
    menyebutkannya, jiwa merintih
    mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal
    membersihkan ucapan dan pendengaran mereka
    dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah
    Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah)
    yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang
    yang ingin mengambil pelajaran.”
    –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

    23.) Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387
    H)
    Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam
    Nûniyah-nya,
    ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾَ ﺷﺮُّﻣﻦ ﻭﻃﻲﺀَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ … ﻣﻦ ﻛﻞِّ ﺇﻧﺲٍ ﻧﺎﻃﻖٍ ﺃﻭ ﺟﺎﻥِ
    ﻣﺪﺣﻮﺍ ﺍﻟﻨّﺒﻲَ ﻭﺧﻮﻧﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ … ﻭﺭﻣﻮُﻫﻢُ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢِ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥِ
    ﺣﺒّﻮﺍ ﻗﺮﺍﺑﺘﻪَ ﻭﺳﺒَّﻮﺍ ﺻﺤﺒﻪ … ﺟﺪﻻﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺘﻘﻀﺎﻥِ
    Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah
    sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak
    bebatuan Dari seluruh manusia yang berbicara
    dan seluruh jin Mereka memuji Nabi, tetapi
    menganggap para shahabatnya berkhianat Dan
    mereka menuduh para shahabat dengan
    kezhaliman dan permusuhan Mereka (mengaku)
    mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para
    shahabat beliau Dua perdebatan yang
    bertentangan di sisi Allah
    –. [Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

    24.) Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-
    Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
    Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan
    Rafidhah, madzhabnya telah mencapai
    pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah
    yang mengafirkan kaum muslimin yang
    menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat
    bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang
    mereka, dan kami tidak berpendapat akan
    kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan
    mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara
    mereka yang membolehkan kudeta dan
    menghalalkan darah, tidak diterima persaksian
    dari mereka.”
    –. [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

    25.) Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh
    (W. 543 H)
    Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang
    Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan
    Isa sama seperti keridhaan orang-orang
    Rafidhah kepada para shahabat Muhammad
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum
    Rafidhah) menghukumi (para shahahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa
    para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan
    kebatilan.”
    –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

    26.) Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    rahimahulllâh (W. 728 H)
    Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah
    sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam
    seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam,
    tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan
    yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah)
    tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih
    pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada
    kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada
    yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada
    (kaum Rafidhah) itu.”
    –. [Minhâj As-Sunnah 1/160]

    Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu
    orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan
    kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau
    yang beriman sebagaimana mereka telah
    membantu kaum musyrikin dari kalangan At-
    Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di
    Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-
    Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang
    lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan
    perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya
    (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam
    takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih
    berbicara.”
    –. [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]

    Sumber :

    Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-
    Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-
    Dhâl hal. 90-110

  3. a mengatakan:

    Al-Imam Asy-Syafi’i

    berkata: “Saya belum
    melihat seorang pun yang paling banyak
    bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari
    Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187,
    al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan
    Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-
    Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

    Inilah perkataan imam besar itu soal Syiah:

    Yunus bin Abdila’la,
    beliau berkata: Saya
    telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut
    nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya
    dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok
    terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-
    Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi
    Itsbat al-Aqidah, 2/486)

    Al-Imam Asy-Syafi’i
    berkata: “Saya belum
    melihat seorang pun yang paling banyak
    bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari
    Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187,
    al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan
    Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-
    Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

    Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya
    kepada Imam Syafi’i,
    “Bolehkah aku shalat di
    belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata,
    “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang
    Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-
    Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka,
    Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja
    yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan
    imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-
    Nubala 10/31)

    Asy-Syafi’i
    berkata tentang seorang Syi’ah
    Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi
    sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana
    Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan
    perang), kemudian menyatakan: Dan orang-
    orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin
    dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami,
    beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami
    yang telah beriman lebih dahulu dari kami”.
    (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa
    yang tidak menyatakan demikian, tentunya
    tidak berhak (mendapatkan bahagian
    fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-
    Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

    Imam as-Subki
    Rahimahullah berkata, ‘Aku
    melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab
    Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i)
    bahwa tidak boleh shalat di belakang
    Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat
    juga Ushulud Din (342)). [sumber: mengenal
    kesesatan syiah]

    Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:
    ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑَﻌْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
    ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮُ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻭَﻋَﻠِﻲٌّ
    “Manusia paling mulia setelah Rasulullah
    shallallahu alaihi wasallam adalah Abu
    Bakar, Umar, Utsman, dan Ali” ( Ma’rifat Sunan
    wal Atsar , karya Imam Baihaqi 1/192)

    percakapan Imam Asy Syafi’i dengan
    murid seniornya, Al Buwaithi:
    ﺍﻟﺒﻮﻳﻄﻲ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﺼﻞ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﺍﻟﻘﺪﺭﻱ،
    ﻭﻻ ﺍﻟﻤﺮﺟﺊ . ﻗﻠﺖ : ﺻﻔﻬﻢ ﻟﻨﺎ . ﻗﺎﻝ : ﻣﻦ ﻗﺎﻝ : ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ
    ﻗﻮﻝ، ﻓﻬﻮ ﻣﺮﺟﺊ، ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻟﻴﺴﺎ
    ﺑﺈﻣﺎﻣﻴﻦ، ﻓﻬﻮ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻣﻦ ﺟﻌﻞ ﺍﻟﻤﺸﻴﺌﺔ ﺇﻟﻰ ﻧﻔﺴﻪ،
    ﻓﻬﻮ ﻗﺪﺭﻱ
    Albuwaithi: “Aku pernah bertanya kepada Imam
    Asy Syafi’i, apakah boleh aku shalat di
    belakang orang berpaham (syi’ah) rafidhah?”
    Imam Asy Syafi’i menjawab: “Janganlah shalat
    di belakang orang yang berpaham Syi’ah
    Rafidhah, atau orang berpaham Qadariyah,
    atau orang berpaham Murji’ah!”.
    Al Buwaithi mengatakan: “Sebutkanlah sifat
    mereka kepada kami!”
    Imam Syafi’i menjawab: “Barangsiapa
    mengatakan bahwa iman itu perkataan saja,
    maka ia seorang Murji’ah. Barangsiapa
    mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan
    imam, maka ia seorang Syiah Rafidhah.
    Barangsiapa menjadikan kehendak untuk
    dirinya, maka ia seorang Qadariyah”
    ( Siyaru A’lamin Nubala , karya Imam Dzahabi
    10/31).

    Yunus bin Abdul A’la murid senior Imam Asy
    Syafi’i mengatakan: Aku pernah mendengar
    Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:
    ﺃﺟﻴﺰ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﻢ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ , ﻓﺈﻧﻬﻢ
    ﻳﺸﻬﺪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻟﺒﻌﺾ
    “Aku membolehkan persaksiannya semua ahli
    bid’ah, kecuali Syi’ah Rafidhah, karena mereka
    itu saling memberi ‘kesaksian baik’ antara
    satu dengan lainnya” ( Manaqib Syafi’i , karya
    Imam Baihaqi 1/468).

    Yunus bin Abdul A’la juga mengatakan:
    ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺇﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻋﺎﺑﻬﻢ ﺃﺷﺪ ﺍﻟﻌﻴﺐ,
    ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﺷﺮ ﻋﺼﺎﺑﺔ
    Aku pernah mendengar Imam Syafi’i, bila
    menyebut kelompok Syiah Rafidhah, beliau
    mencela mereka dengan celaan yang paling
    buruk, lalu beliau mengatakan: “mereka itu
    komplotan yang paling jahat!” ( Manaqib
    Syafi’i , karya Imam Baihaqi 1/468)

    Al-Imam Asy-
    Syafi’i
    berkata: “Aku belum pernah tahu ada
    yang melebihi Syi’ah Rafidhah dalam persaksian
    palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam
    Adz-Dzahabi)

  4. a mengatakan:

    KH. HASYIM ASY`ARI dalam kitabnya
    “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah
    Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada
    warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham
    Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah
    Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan
    madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti
    adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
    Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak
    ada madzhab yang memenuhi persyaratan
    kecuali empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i
    dan Hambali. Adapun madzhab yang lain
    seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah
    Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga
    pendapat-pendapatnya tidak boleh
    diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li
    Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, hlm: 9).

    BUYA HAMKA
    Menilik kesemuanya ini dapatlah saya,
    sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia
    atau sebagai pribadi menjelaskan
    pendirian saya dengan Revolusi Iran.
    1. Sesuai dengan preambule
    (pembukaan) UUD 1945, saya simpati
    atas revolusi yang telah berlaku di negeri
    Iran. Saya simpati karena mereka telah
    menentang feodalisme Kerajaan Syah
    yang tidak adil.
    2. Karena ternyata revolusi Islamnya ialah
    berdasar Mazhab Syi’ah, maka kita tidak
    berhak mencampuri urusan dalam negeri
    orang lain, dan sayapun tetap seorang
    Sunni yang tak perlu berpegang pada
    pendapat orang Syi’ah dan ajaran-ajaran
    Ayatullah.
    Ketika saya di Iran, datang empat orang
    pemuda ke kamar hotel saya, dan dengan
    bersemangat mereka mereka mengajari
    saya tentang revolusi dan menyatakan
    kenginannya untuk datang ke Indonesia
    guna mengajarkan revolusi Islam Syi’ah
    itu di Indonesia. Boleh datang sebagai
    tamu, tapi ingat kami adalah bangsa
    yang merdeka dan tidak menganut Syi’ah!
    Ujar Buya Hamka.
    Posisi Buya Hamka sendiri terkait Syi’ah
    dapat kita rujuk dari tulisan-tulisannya.
    Dalam majalah Panji Masyarakat No.
    169/Tahun ke XVII, 15 Februari 1975 (4
    Shafar 1395 H) hal 37-38, Buya Hamka
    sudah menjelaskan lebih jauh kritiknya
    terhadap ajaran Syi’ah yang menyelisihi
    ahlus sunah. Bahkan Buya Hamka pun
    mendudukkan posisi Hasan dan
    Muawiyah sebagai dua pihak yang
    menghendaki persatuan Islam. Jauh dari
    lontaran caci maki seperti ditulis oleh
    para tokoh-tokoh dan kitab-kitab Syi’ah
    selama ini terhadap Muawiyah.
    (Islampos.com)

    HABIB ZEIN AL KAFF (Tokoh NU sekaligus HABIB)
    menyatakan: Syiah sering berkedok Mazhab
    Ahlul Bait untuk menipu umat Islam
    Habib Ahmad Bin Zein Al Kaff mengingatkan
    umat Islam atas bahayanya ajaran dan gerakan
    Syiah yang sering bertopengkan Mazhab Ahlul
    Bait. Menurutnya, kata Mazhab Ahlul Bait
    digunakan sebagai kamuflase untuk mengelabui
    umat dalam membedakan antara Syiah dan
    Ahlul Bait yang sebenarnya.
    “Syiah Imamiyah Itsna Atsariyah atau
    Khomainiyah atau Jakfariyah sering berkedok
    Mazhab Ahlul bait. Sehingga, banyak kaum
    Muslimin yang tertipu tertarik dengan mereka,”
    Kata Habib Ahmad Zein Al Kaff saat
    memberikan ceramahnya pada acara Tabligh
    Akbar “Mengokohkan Ahlussunnah Wal Jamaah
    di Indonesia”, di Masjid Al Furqon Jakarta,
    tahun kemarin.
    Ajaran Syiah menurutnya, sangat berbeda dan
    bertentangan dengan Islam baik dari sisi ajaran
    pokok ataupun tata cara ibadahnya, selain itu
    mereka memiliki keyakinan wajibnya menghina
    istri-istri Nabi dan para Sahabat Rasulullah.
    Penghinaan ini, kata habib Zein jika dilakukan
    oleh orang-orang diluar Islam itu masih wajar.
    Namun, ketika dilakukan oleh orang yang
    mengaku Muslim ini lah yang sudah tidak
    wajar.
    “Jika penghinaan itu dilakukan oleh orang-
    orang yang mengaku beriman kepada
    Rasulullah, mereka lebih kejam dari orang-
    orang kuffar (kafir-red) yang memerangi
    pemimpin orang-orang Islam,” tegasnya tokoh
    Ulama NU Jawa Timur ini.
    Mengenai Peristiwa bentrokan di Sampang
    Habib Zein, berkeyakinan hal tersebut akan
    sering terjadi dikemudian hari jika akar
    penyebabnya tidak selesaikan.
    “Perkelahian seperti di Sampang akan terus
    terjadi, selama penyakitnya tidak diselesaikan.
    Apa penyakitnya ? yaitu ajaran syiah yang
    sering mencaci maki para sahabat,” ungkap
    Ketua Yayasan Al Bayyinat ini
    Ia pun menegaskan kepada kaum Muslimin,
    bahwasanya Indonesia merupakan Buminya
    masyarakat Ahlus Sunnah yang selalu damai,
    sebelum kedatangan ajaran syiah. Sehingga, Ia
    membantah bahwa sunni pemecah belah
    masyarakat.
    “Indonesia ini negeri Ahlussunnah meskipun
    mereka berbeda-beda dalam organisasi
    kemasyarakatan, tetapi sejatinya mereka adalah
    keluarga besar Ahlus sunnah yang mencintai
    Nabi dan keluarga Nabi dan sejauh ini dapat
    hidup harmonis,” tutupnya.

    Habib Zein Al Kaff menyatakan: Jika Ada Habib
    Yang Masuk Syiah, Dia Bukan Habib
    Ulama Jawa Timur yang juga Ketua Bidang
    Organisasi Al-Bayyinat, Habib Achmad Zein
    Alkaf menyayangkan jika ada tokoh NU,
    Muhammadiyah, habaib, dan para cendekian
    muslim lainnya, yang menyatakan Syiah tidak
    sesat.
    Ia juga menegaskan, bahwa tidak ada habib
    yang masuk atau berpaham Syiah. Jika ada
    habib yang masuk Syiah, katanya, dia bukan
    habib, tapi mantan habib.
    “Saya menyesalkan jika ada kiai NU yang
    membela Syiah, seperti KH. Said Agil Siraj.
    Padahal, pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ ari, sudah
    wanti-wanti agar kaum Nahdhinin berpegang
    pada empat mazhab, dan tidak dekat–dekat
    serta berhubungan dengan Syiah,” tandas Habib
    Zein.
    Lebih lanjut, Habib Zein mengatakan, jika ada
    Kiai NU yang membela Syiah, apalagi sampai
    masuk syiah, maka sesungguhnya ia berkhianat
    dengan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
    “Harus diakui, gerakan Syiah di Indonesia
    sangat terorganisir. Mereka didukung dana yang
    besar sekali dari Iran. Dengan dana tersebut,
    sebagian tokoh ulama kita didekati , baik dari
    NU maupun Muhammmadiyah, habaib dan
    cendekiawan muslim lainnya. Tokoh-tokoh
    Islam itu diundang ke Iran, seraya menunjukkan
    keberhasilan Revokusi Islam Iran.”
    Setelah tokoh-tokoh Sunni pulang dari Iran,
    mereka pura-pura tidak tahu, bahkan tidak
    peduli jika ada anggota keluarga yang digrogoti
    Syiah. Seperti diketahui, diperkirakan 90%
    pengikut Syiah indonesia berasal dari keluarga
    Nahdhiyyin. Kini, ada tokoh NU yang malah
    berangkulan dengan tokoh Syiah, dan membela
    Syiah.
    Slogan Ukhuwah Islamiyah yang didengungkan
    kelompok Syiah, menurut Habib Zein, terlalu
    mengada-ada. “Mereka mengaku umatnya Nabi
    Muhammad, tapi kenapa kaum Syiah mencela
    sahabat nabi dan istri nabi Saw. Kalau kaum
    Syiah, ingin ukhuwah , kenapa tidak dilakukan di
    Iran, bukan di bumi Ahlusunnah Waljamaah.”
    Kenapa di Malaysia dan Brunei, meskipun
    negara mereka berhubungan dengan Iran, tapi
    aliran Syiah dilarang di Malaysia dan Brunei?
    “Karena ulama di Malaysia tidak bisa dibeli oleh
    apapun,” kata Habib Zein.
    Bagaimana dengan di Indonesia, apakah
    (oknum) ulama disini bisa dibeli? Wallohu’alam

  5. a mengatakan:

    KH. HASYIM ASY`ARI
    dalam kitabnya
    “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah
    Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada
    warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham
    Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah
    Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan
    madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti
    adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
    Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak
    ada madzhab yang memenuhi persyaratan
    kecuali empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i
    dan Hambali. Adapun madzhab yang lain
    seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah
    Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga
    pendapat-pendapatnya tidak boleh
    diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li
    Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, hlm: 9).

    BUYA HAMKA
    Menilik kesemuanya ini dapatlah saya,
    sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia
    atau sebagai pribadi menjelaskan
    pendirian saya dengan Revolusi Iran.
    1. Sesuai dengan preambule
    (pembukaan) UUD 1945, saya simpati
    atas revolusi yang telah berlaku di negeri
    Iran. Saya simpati karena mereka telah
    menentang feodalisme Kerajaan Syah
    yang tidak adil.
    2. Karena ternyata revolusi Islamnya ialah
    berdasar Mazhab Syi’ah, maka kita tidak
    berhak mencampuri urusan dalam negeri
    orang lain, dan sayapun tetap seorang
    Sunni yang tak perlu berpegang pada
    pendapat orang Syi’ah dan ajaran-ajaran
    Ayatullah.
    Ketika saya di Iran, datang empat orang
    pemuda ke kamar hotel saya, dan dengan
    bersemangat mereka mereka mengajari
    saya tentang revolusi dan menyatakan
    kenginannya untuk datang ke Indonesia
    guna mengajarkan revolusi Islam Syi’ah
    itu di Indonesia. Boleh datang sebagai
    tamu, tapi ingat kami adalah bangsa
    yang merdeka dan tidak menganut Syi’ah!
    Ujar Buya Hamka.
    Posisi Buya Hamka sendiri terkait Syi’ah
    dapat kita rujuk dari tulisan-tulisannya.
    Dalam majalah Panji Masyarakat No.
    169/Tahun ke XVII, 15 Februari 1975 (4
    Shafar 1395 H) hal 37-38, Buya Hamka
    sudah menjelaskan lebih jauh kritiknya
    terhadap ajaran Syi’ah yang menyelisihi
    ahlus sunah. Bahkan Buya Hamka pun
    mendudukkan posisi Hasan dan
    Muawiyah sebagai dua pihak yang
    menghendaki persatuan Islam. Jauh dari
    lontaran caci maki seperti ditulis oleh
    para tokoh-tokoh dan kitab-kitab Syi’ah
    selama ini terhadap Muawiyah.
    (Islampos.com)

    HABIB ZEIN AL KAFF (Tokoh NU sekaligus HABIB)

    menyatakan: Syiah sering berkedok Mazhab
    Ahlul Bait untuk menipu umat Islam
    Habib Ahmad Bin Zein Al Kaff mengingatkan
    umat Islam atas bahayanya ajaran dan gerakan
    Syiah yang sering bertopengkan Mazhab Ahlul
    Bait. Menurutnya, kata Mazhab Ahlul Bait
    digunakan sebagai kamuflase untuk mengelabui
    umat dalam membedakan antara Syiah dan
    Ahlul Bait yang sebenarnya.
    “Syiah Imamiyah Itsna Atsariyah atau
    Khomainiyah atau Jakfariyah sering berkedok
    Mazhab Ahlul bait. Sehingga, banyak kaum
    Muslimin yang tertipu tertarik dengan mereka,”
    Kata Habib Ahmad Zein Al Kaff saat
    memberikan ceramahnya pada acara Tabligh
    Akbar “Mengokohkan Ahlussunnah Wal Jamaah
    di Indonesia”, di Masjid Al Furqon Jakarta,
    tahun kemarin.
    Ajaran Syiah menurutnya, sangat berbeda dan
    bertentangan dengan Islam baik dari sisi ajaran
    pokok ataupun tata cara ibadahnya, selain itu
    mereka memiliki keyakinan wajibnya menghina
    istri-istri Nabi dan para Sahabat Rasulullah.
    Penghinaan ini, kata habib Zein jika dilakukan
    oleh orang-orang diluar Islam itu masih wajar.
    Namun, ketika dilakukan oleh orang yang
    mengaku Muslim ini lah yang sudah tidak
    wajar.
    “Jika penghinaan itu dilakukan oleh orang-
    orang yang mengaku beriman kepada
    Rasulullah, mereka lebih kejam dari orang-
    orang kuffar (kafir-red) yang memerangi
    pemimpin orang-orang Islam,” tegasnya tokoh
    Ulama NU Jawa Timur ini.
    Mengenai Peristiwa bentrokan di Sampang
    Habib Zein, berkeyakinan hal tersebut akan
    sering terjadi dikemudian hari jika akar
    penyebabnya tidak selesaikan.
    “Perkelahian seperti di Sampang akan terus
    terjadi, selama penyakitnya tidak diselesaikan.
    Apa penyakitnya ? yaitu ajaran syiah yang
    sering mencaci maki para sahabat,” ungkap
    Ketua Yayasan Al Bayyinat ini
    Ia pun menegaskan kepada kaum Muslimin,
    bahwasanya Indonesia merupakan Buminya
    masyarakat Ahlus Sunnah yang selalu damai,
    sebelum kedatangan ajaran syiah. Sehingga, Ia
    membantah bahwa sunni pemecah belah
    masyarakat.
    “Indonesia ini negeri Ahlussunnah meskipun
    mereka berbeda-beda dalam organisasi
    kemasyarakatan, tetapi sejatinya mereka adalah
    keluarga besar Ahlus sunnah yang mencintai
    Nabi dan keluarga Nabi dan sejauh ini dapat
    hidup harmonis,” tutupnya.

    Habib Zein Al Kaff menyatakan: Jika Ada Habib
    Yang Masuk Syiah, Dia Bukan Habib
    Ulama Jawa Timur yang juga Ketua Bidang
    Organisasi Al-Bayyinat, Habib Achmad Zein
    Alkaf menyayangkan jika ada tokoh NU,
    Muhammadiyah, habaib, dan para cendekian
    muslim lainnya, yang menyatakan Syiah tidak
    sesat.
    Ia juga menegaskan, bahwa tidak ada habib
    yang masuk atau berpaham Syiah. Jika ada
    habib yang masuk Syiah, katanya, dia bukan
    habib, tapi mantan habib.
    “Saya menyesalkan jika ada kiai NU yang
    membela Syiah, seperti KH. Said Agil Siraj.
    Padahal, pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ ari, sudah
    wanti-wanti agar kaum Nahdhinin berpegang
    pada empat mazhab, dan tidak dekat–dekat
    serta berhubungan dengan Syiah,” tandas Habib
    Zein.
    Lebih lanjut, Habib Zein mengatakan, jika ada
    Kiai NU yang membela Syiah, apalagi sampai
    masuk syiah, maka sesungguhnya ia berkhianat
    dengan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
    “Harus diakui, gerakan Syiah di Indonesia
    sangat terorganisir. Mereka didukung dana yang
    besar sekali dari Iran. Dengan dana tersebut,
    sebagian tokoh ulama kita didekati , baik dari
    NU maupun Muhammmadiyah, habaib dan
    cendekiawan muslim lainnya. Tokoh-tokoh
    Islam itu diundang ke Iran, seraya menunjukkan
    keberhasilan Revokusi Islam Iran.”
    Setelah tokoh-tokoh Sunni pulang dari Iran,
    mereka pura-pura tidak tahu, bahkan tidak
    peduli jika ada anggota keluarga yang digrogoti
    Syiah. Seperti diketahui, diperkirakan 90%
    pengikut Syiah indonesia berasal dari keluarga
    Nahdhiyyin. Kini, ada tokoh NU yang malah
    berangkulan dengan tokoh Syiah, dan membela
    Syiah.
    Slogan Ukhuwah Islamiyah yang didengungkan
    kelompok Syiah, menurut Habib Zein, terlalu
    mengada-ada. “Mereka mengaku umatnya Nabi
    Muhammad, tapi kenapa kaum Syiah mencela
    sahabat nabi dan istri nabi Saw. Kalau kaum
    Syiah, ingin ukhuwah , kenapa tidak dilakukan di
    Iran, bukan di bumi Ahlusunnah Waljamaah.”
    Kenapa di Malaysia dan Brunei, meskipun
    negara mereka berhubungan dengan Iran, tapi
    aliran Syiah dilarang di Malaysia dan Brunei?
    “Karena ulama di Malaysia tidak bisa dibeli oleh
    apapun,” kata Habib Zein.
    Bagaimana dengan di Indonesia, apakah
    (oknum) ulama disini bisa dibeli? Wallohu’alam

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s