Sejarah Syiah (Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H)

Sejarah Syiah (Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H).

a.Kapan Syiah Muncul?

Syiah sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib a.s. (imam pertama Mazhab Syiah) sudah muncul sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita-realita berikut ini:

Pertama, ketika Nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya masuk Islam, ia berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kalian yang siap untuk mengikutiku, maka ia akan menjadi pengganti dan washiku setelah aku meninggal dunia”. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk mengikutinya kecuali Sayyidina Ali bin abi thalib a.s. Sangat tidak masuk akal jika seorang pemimpin pergerakan –di hari pertama ia memulai langkah-langkahnya– memperkenalkan penggantinya setelah ia wafat kepada orang lain dan tidak memperkenalkanya kepada para pengikutnya yang setia. Atau ia mengangkat seseorang untuk menjadi penggantinya, akan tetapi, di sepanjang masa aktifnya pergerakan tersebut ia tidak memberikan tugas sedikit pun kepada penggantinya dan memperlakukannya sebagaimana orang biasa. Keberatan-keberatan di atas adalah bukti kuat bahwa Imam Ali bin abi thalib as setelah diperkenalkan sebagai pengganti dan washi Nabi Muhammad SAW di hari pertama dakwah, memiliki misi yang tidak berbeda dengan missi Nabi Muhammad SAW dan orang yang mengikutinya berarti ia juga mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Baca selengkapnya sejarah syiah ini →

Doa Li Khomsatun: Amalan Doa Li Khamsatun Uthfi biha di Minangkabau

Li Khamsatun Uthfi biha harral wabai al-hathimahDoa Li Khomsatun: Amalan Doa Li Khamsatun Uthfi biha di Minangkabau, Mazhab Syiah ternyata memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perkembangan Islam dan kebudayaan di Tanah Air. Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam buku Kafilah Budaya meruntut fakta tentang pengaruh-pengaruh itu.

Persisnya, pengaruh Syiah di Ranah Minang, dari perayaan tabut hingga berbagai istilah di bidang pelayaran. Dalam buku Kafilah Budaya, di samping ulama, para pedagang dan mubalig Iran juga memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam di Tanah Melayu. Lewat merekalah agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini dikenal di Indonesia.

Untuk diketahui, Kerajaan Islam Perlak di Sumatra adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Alauddin Said Maulana Abdul Aziz Syah pada 225 Hijriah atau 840 Masehi. Syahdan, Raja Malaka Sultan Alauddin Syah mengangkat putranya sebagai penguasa di wilayah Pelabuhan Pariaman. Sang putra kemudian mengembangkan ajaran Syiah di daerah tersebut.

Dalam buku itu disebutkan juga, bahwa pasukan Dinasti Fatimiah Mesir adalah yang membawa ajaran Syiah ke Minangkabau. Di daerah tersebut, mereka berkuasa lebih dari 200 tahun. Pada masa itu, Minangkabau merupakan Kerajaan Islam Syiah yang sangat kaya.

Menurut Arkeolog Islam Uka Tjandrasasmita, Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia atau Iran ke Indonesia sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi. Namun, masuknya pedagang-pedagang muslim dari Arab Saudi dan Iran ke daerah bagian Barat Indonesia melalui Selat Malaka baru terjadi abad ke-7. Bahkan menurut berita lain kata Uka, massa Bani Umayah pernah mempunyai hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Para pedagang Iran juga memperkenalkan Islam ke Jawa Tengah. Raden Fatah, raja Islam di Jawa saat itu, dikenal dengan Syah Alam Akbar. Kenyataan tersebut menjelaskan, bahwa pengaruh Iran melebihi daripada sebelumnya. Sementara itu, para sultan di Maluku juga berasal dari keturunan Ahlulbait Rasulullah SAW.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal.

Mengenai Ahlulbait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain Alaihi Salam pada bulan Muharram. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala ini merupakan sebuah pentas kepahlawanan dunia yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa nonmuslim. Meski mayoritas muslim di Tanah Air bermazhab Syafii, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecintaan muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang
Iran.

Ongan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di Minangkabau selama 300 tahun. Namun, pemerintahan ini tumbang akibat adanya gerakan Wahabi. Kelompok ini melakukan perlawanan yang dikenal Perang Padri pada awal abad ke-19 Masehi.

Dilaporkan, bahwa Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau dikuasai para penganut Syiah Qaramitah. Adapun Kerajaan yang menguasai seluruh daerah Minangkabau berlangsung antara 1513 sampai 1804 Masehi. Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh. Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang pintar Syiah Qaramitah melangsungkan kegiatan belajar-mengajar.

Menurut Parlindungan, keberadaan mazhab Syiah semakin kuat di Minangkabau. Ini karena pengaruh pelaksanaan kegiatan ritual Tabut pada setiap bulan Muharram guna mengenang Imam Husain Alaihi Salam. Selain itu ada ritual Basafar, yakni ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan di setiap Rabu terakhir Bulan Shafar. Ini sebagaimana orang-orang Syiah yang berziarah ke Imam Maula Ali Alaihi Salam di Nazaf dan ke Karbala guna berziarah ke Imam Husaian Alaihu Salam. Berkat usaha Syekh Burhanuddin Tuanku Ulakan dan masuknya Sultan Minangkabau ke dalam Islam pada akhir abad ke-16 masehi, ajaran Islam dari mazhab Syiah telah tersebar di seluruh Minangkabau.

Menurut Budayawan Minang Wisran Hadi, mudahnya tersebarnya mazhab Syiah di Minangkabau karena tidak berbenturan dengan ajaran lainnya, Sunni misalnya. Meski berbeda kata Wisran, perbedaan tersebut dijadikan bagian dari kehidupan. Apalagi konsep perbedaan itu dikekalkan hingga kini. “Semuanya jalan sampai sekarang,” kata Wisran.

Pengaruh Syiah juga terlihat pada ritual pembacaan doa untuk terhindar dari musibah atau tolak bala yang disebut dengan jampi Mantra dan pada tradisi pembacaan doa ratib. Masyarakat Melayu, misalnya, agar terhindar dari wabah penyakit membaca doa:

li khamsatun uthfi biha harral waba-i al-khatimah al-musthafa, wa al-murthada, wa ibnahuma, wa al-fatimah.

Artinya: Aku mempunyai Lima pegangan, yang dengannya kupadamkan penyakit-penyakit, yaitu Nabi (al-musthafa) yang terpilih, Ali (al-murtadha) yang diridhoi dan kedua anak mereka, al-Hasan, al-Husain dan Fatimah.

(redaksi/BOG/Syaiful H. Yusuf dan Teguh Prihantoro, Sumber: liputan6.com)

Sejarah Kehidupan & Perjuangan Imam Husain (As)

Pentingnya Sejarah

Sejarah merupakan suatu bukti yang amat berharga dan merupakan landasan bagi ideologi dan hukum-hukum agama. Meski demikian untuk mengetahui kebenaran sejarah diperlukan adanya suatu ketelitian sehingga dapat sampai pada kebenaran. Dengan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang terdahulu, maka kita dapat menjadikan semua itu sebagai suatu pelajaran untuk melakukan perbuatan baik mereka dan meninggalkan perbuatan buruk mereka.