Biografi Muhammad Husain Haekal

Biografi Muhammad Husain Haekal

Sejak masa mudanya Muhammad Husain Haekal tidak pernah berhenti menulis; di samping masalah-masalah politik dan kritik sastra ia juga menulis beberapa biografi. Dari Kleopatra sampai kepada Mustafa Kamil di Timur, dari Shakespeare, Shelley, Anatole France, Taine sampai kepada Jean Jacques Rousseau dengan gaya yang khas dan sudah cukup dikenal. Setelah mencapai lebih setengah abad usianya, perhatiannya dicurahkan kepada masalah-masalah Islam. Ditulisnya bukunya yang kemudian sangat terkenal, Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) dan “Di Lembah Wahyu”.

“Dua buku yang sungguh indah dan baru sekali dalam cara menulis sejarah hidup Muhammad, yang kemudian dilanjutkan dengan studi lain tentang Abu Bakr dan Umar. Suatu contoh bernilai, baik mengenai studinya atau cara penulisannya. Ini merupakan masa transisi dalam hidupnya”, demikian antara lain orang menulis tentang Haekal.

Pada mulanya Sejarah Hidup Muhammad ini telah menimbulkan reaksi hebat dan kritik tajam di kalangan bangsa Mesir dan dunia Islam umumnya. Tapi semua itu dihadapinya dengan tenang dan di mana perlu dijawabnya dengan penuh tanggung jawab dan rasional sekali.

Dilahirkan di desa Kafr Ghanam bilangan distrik Sinbillawain di propinsi Daqahlia, di delta Nil, Mesir, 20 Agustus 1888, Muhammad Husain Haekal, setelah selesai belajar mengaji Qur’an di madrasah desanya ia pindah ke Kairo guna memasuki sekolah dasar lalu sekolah menengah sampai tahun 1905. Kemudian meneruskan belajar hukum hingga mencapai lisensi dalam bidang hukum (1909). Selanjutnya ia meneruskan ke Fakultas Hukum di Universite de Paris di Perancis, lalu dilanjutkan pula sampai mencapai tingkat doktoral dalam ekonomi dan politik dan memperoleh Ph. D. dalam tahun 1912 dengan disertai La Dette Publique Egyptienne. Dalam tahun itu juga ia kembali ke Mesir dan bekerja sebagai pengacara di kota Mansura, kemudian di Kairo sampai tahun 1922.

Semasa masih mahasiswa sampai pada waktu menjalankan pekerjaannya sebagai pengacara, ia terus aktif menulis dalam harian-harian Al-Jarida yang dipimpin oleh Ahmad Lutfi as Sayyid, As-Sufur dan Al-Ahram. Umumnya ia menulis dalam masalah-masalah sosial dan politik, di samping juga memberikan kuliah dalam bidang ekonomi dan hukum perdata (1917-22). Tahun itu juga ia dipilih sebagai pemimpin redaksi harian As-Siasa sebagai organ resmi Partai Liberal. Dalam tahun 1926 mendirikan mingguan As-Siasa, yang dalam bidang kulturil besar sekali pengaruhnya ke seluruh negara-negara Arab. Ia aktif dalam bidang jurnalistik sampai tahun 1938.

Karya-karya Haekal menduduki tempat penting dalam perpustakaan-perpustakaan berbahasa Arab. Penulisan novel modern dimulai Haekal. Kemudian ia menulis serangkaian sejarah Islam dan biografi di samping masalah-masalah politik. Buku-bukunya dalam sejarah Islam merupakan sumber penting dalam studi keislaman.

Secara kronologis karya-karya Haekal adalah sebagai berikut:
Zainab (novel), 1914, Jean Jacques Rousseau (dua jilid), 1921-23; Fi Auqat’l-Firaqh (“Diwaktu senggang”), 1925;
“Asyarata Ayyam fis-Sudan” 1927; Tarajim Mishria wa Gharbia
(“Biografi orang orang Mesir dan Barat”), 1929; Waladi
(“Anakku”), 1931; Thaurat’l-Adab, 1933 ; Hayat Muhammad
(“Sejarah Hidup Muhammad”), 1935; Fi Manzil’l-Wahy (“Di lembah
Wahyu”), 1937; Asy-Shiddiq Abu Bakr, 1942; Al Faruq ‘Umar
(“’Umar ibn’l-Khattab”) (dua jilid). 1944-45; Mudhakkirat
fis-Siasat’l-Mishria (“Memoir tentang Politik Mesir”) (dua
jilid), 1951-53; Hakadha Khuliqat, 1955; Al-Imbraturia
al-Islamia wal-Amakin al-Mugaddasa fisy-Syarq’ l-Aushat
(“Commonwealth Islam dan tempat-tempat Suci di Timur Tengah”) (kumpulan studi), 1960; Asy-Syarq’ l-Jadid (kumpulan studi), 1963; ‘Uthman bin ‘Affan, 1964; Al-Iman, wal-Ma’rifa wal-Falsafa (“Tentang Iman, Ma’rifat dan Filsafat”) (kumpulan studi), 1965; Qisas Mishria (“Cerpen-cerpen Mesir”), 1969.

Novelnya Zainab, yang mengisahkan kehidupan petani Mesir, mula-mula ditulisnya semasa ia masih mahasiswa di Paris, dan pada hari-hari libur sebagian ditulisnya di London dan di Jenewa, Swis; telah dibuat film dan dalam festival film internasional di Jerman (1952) Die Liebesromanze der Zenab ini yang ditulisnya sebagai kenangan kepada tanah air dan masyarakat di kampungnya, dalam dua kali pertunjukkan telah mendapat sambutan yang luar biasa dan telah terpilih pula sebagai film yang paling berhasil, dilukiskan sebagai “Egyptische Welturauffuhrung in Berlin”.

Dalam tahun 1943 ia terpilih sebagai ketua Partai Liberal Konstitusi (Liberal Constitutional Party), yang dipegangnya sampai tahun 1952.

Tahun 1938 ia menjabat Menteri Negara, kemudian Menteri Pendidikan, lalu Menteri Sosial. Sesudah itu menjadi Menteri Pendidikan lagi dalam tahun 1940 dan 1944. Pada permulaan tahun 1945 ia terpilih sebagai ketua Majelis Senat sampai tahun 1950.

Berkali-kali mengetuai delegasi mewakili negaranya di PBB dan dalam konperensi-konperensi internasional, dalam Interparliamentary Union dan secara pribadi terpilih pula sebagai anggota panitia eksekutif lembaga tersebut.

Beberapa buku dan disertasi tentang sejarah hidup Dr. Haekal telah terbit, diantaranya: Beberapa studi tentang Dr. Haekal, oleh beberapa penulis (1958).

Mohammed Hussein Haekal, oleh Baber Johansen, sebuah thesis, Universitas Berlin, 1962.

Dr. Mohammad Hussein Haekal, oleh Taha Wadi’, thesis, Universitas Kairo (Fakultas Sastra), 1965.

Dr. Mohammed Hussein Haekal, oleh Charles Smith, sebuah thesis, Universitas Michigan, Amerika Serikat, 1968.

Dr. Haekal seorang pengarang yang produktif, baik dalam bidang sastra, kemasyarakatan, maupun politik, yang disiarkan selama ia aktif dalam jurnalistik. Banyak juga naskah-naskahnya yang belum disiarkan.

Kembali aktif menulis dalam harian-harian Al-Mishri, dan Al-Akhbar sejak 1953 hingga wafatnya.

Meninggal pada 8 Desember 1956. [Biografi Muhammad Husain Haikal]

Perintah Birrul Walidain dalam al-Quran al-Karim

Perintah birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Quran kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti surah Al-Baqarah, ayat 83, 180 dan 215, An-Nisa ayat 36, An-Na’am: 151, Isra’: 23 dan 24, Al Ahkaf: 15, Al Ankabut: 8, Luqman: 14, Ibrahim: 41, An Naml: 10 dan surah Nuh: 28. Jika melihat dari ayat-ayat tersebut, setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada 6 macam bentuk perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. Al-Israa: 23)

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi penghormatan dan pemuliaan kepada kedua orangtua. Apapun bentuk pelecehan dan sikap merendahkan orangtua maka Islam lewat pesan-pesan moralnya telah melarang dan mengharamkannya. Bahkan durhaka kepada kedua orangtua termasuk diantara dosa-dosa besar yang dilarang keras. Dengan melihat ayat di atas, terutama pada frase, “wa laa taqullahumaa ‘uff’, janganlah kamu mengatakan kepada keduanya, perkataan ‘ah’…” menunjukkan untuk bentuk pelecehan dan sikap merendahkan kedua orangtua yang paling kecil sekalipun Islam tidak luput untuk memberikan penegasan atas pelarangannya.

Imam Shadiq as bersabda, “Kalau sekiranya dalam berhubungan dengan kedua orangtua ada bentuk pelecehan yang lebih rendah dari melontarkan kata ‘ah’, niscaya Allah telah melarangnya.” (Ushul Kafi, Jilid 2, hal. 349).

Birrul Walidain berasal dari dua kata, birru dan al-walidain. Imam Nawawi ketika mensyarah Shahih Muslim memberi penjelasan, bahwa kata-kata Birru mencakup makna bersikap baik, ramah dan taat yang secara umum tercakup dalam khusnul khuluq (budi pekerti yang agung). Sedangkan, walidain mencakup kedua orangtua, termasuk kakek dan nenek. Jadi, birrul walidain adalah sikap dan perbuatan baik yang ditujukan kepada kedua orangtua, dengan memberikan penghormatan, pemuliaan, ketaatan dan senantiasa bersikap baik termasuk memberikan pemeliharaan dan penjagaan dimasa tua keduanya.

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Qur’an kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti surah Al-Baqarah, ayat 83, 180 dan 215, An-Nisa ayat 36, An-Na’am: 151, Isra’: 23 dan 24, Al Ahkaf: 15, Al Ankabut: 8, Luqman: 14, Ibrahim: 41, An Naml: 10 dan surah Nuh: 28. Jika melihat dari ayat-ayat tersebut, setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada 6 macam bentuk perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

Pertama, dalam bentuk perintah untuk berbuat baik dengan sebaik-baiknya, seperti dalam surah Al-Isra’ ayat 23 dan 24. Termasuk dalam hal ini, memberikan penjagaan dan pemeliharaan di hari tua keduanya dan mengucapkan kepada keduanya perkataan yang mulia.

Kedua, dalam bentuk wasiat. Allah SWT berfirman, “Dan Kami berwasiat kepada manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya.” (Qs. Al-Ankabut: 8). Begitupun pada surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah SWT berfirman, “Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).”

Ketiga, dalam bentuk perintah untuk bersyukur. Allah SWT berfirman, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, karena hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Qs. Luqman: 14).

Keempat, perintah untuk mendo’akan kedua orangtua. Allah SWT berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil.” (Qs. Al-Israa: 24). Mendo’akan kedua orangtua adalah tradisi para Anbiyah as. Nabi Ibrahim as dalam do’anya mengucapkan, “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ).” (Qs. Ibrahim: 41). Begitu juga Nabi Nuh as, dalam lantunan do’anya, beliau berujar, “. Ya Tuhan-ku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku..” (Qs. Nuh: 28).

Kelima, perintah untuk berwasiat kepada kedua orangtua. Allah SWT berfirman, “Diwajibkan atas kamu, apabila (tanda-tanda) kematian telah menghampiri salah seorang di antara kamu dan ia meninggalkan harta, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 180).

Keenam, perintah untuk berinfaq kepada keduanya. Allah SWT berfirman, “… Setiap harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan setiap kebajikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Qs. Al-Baqarah: 215).

Allah SWT dalam tujuh tempat pada Al-Qur’an setelah memerintahkan untuk hanya menyembah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya, perintah selanjutnya adalah berbuat baik kepada kedua orangtua. Dalam surah An-Nisa’ ayat 36 Allah SWT berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua..” Perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, setelah perintah untuk mentauhidkanNya lainnya terdapat pada surah Al-Baqarah: 83, Al-An’am: 151, Al-Israa: 23, An-Naml: 19, Al-Ahqaaf: 15 dan surah Al-Luqman ayat 13 dan 14. Dari ayat-ayat ini, telah sangat jelas dan terang betapa agung dan mulianya berbuat baik kepada kedua orangtua. Perintah untuk berbuat baik kepada keduanya, ditempatkan setelah perintah untuk hanya menyembah kepada-Nya.

Berhubungan dengan ketaatan kepada kedua orangtua, Al-Qur’an hanya dalam satu hal memberikan sebuah pengecualian. Allah SWT berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti mereka, dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lantas Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Luqman: 15). Ketaatan seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan mutlak, tanpa pengecualian. Sementara ketaatan kepada orangtua dengan pengecualian, selama keduanya tidak meminta untuk mempersekutukan Tuhan. Kalau kita memperhatikan ayat-ayat Allah berkenaan dengan hubungan kaum muslimin dengan kaum musyrikin, maka akan kita temukan perintah Allah untuk berlepas diri dari kaum musyrikin disampaikan secara keras dan tegas. Terutama pada ayat-ayat awal surah At-Taubah. Namun berkenaan dengan kedua orangtua, Allah SWT menyampaikan perintah secara lembut, dikatakan, kalau permintaan keduanya berkaitan dengan syirik kepada Allah, janganlah menaati keduanya. Selanjutnya ditambahkan, kekafiran dan kemusyrikan kedua orangtua tidaklah menjadi penyebab secara mutlak terputusnya hubungan dengan keduanya, namun tetap diperintahkan untuk berbuat ahsan kepada keduanya di dunia.

Perintah untuk tetap berhubungan, memuliakan, menyayangi dan berbuat baik kepada kedua orangtua meskipun keduanya kafir ataupun musyrik juga masih memiliki pengecualian ataupun persyaratan. Yakni, selagi keduanya tidak menunjukkan permusuhan dan penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al-Mujaadilah: 22). Perintah yang lebih tegas mengenai hal ini, disampaikan oleh Allah SWT pada awal surah Al-Mumtahanah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” Dan selagi keduanya meskipun termasuk golongan orang-orang kafir ataupun musyrik tidak ada halangan untuk tetap berlaku adil terhadap keduanya, yakni tetap berbuat baik dan berkasih sayang kepada keduanya selagi keduanya tidak menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8).

Apabila, kedua orangtua termasuk dari golongan orang-orang kafir ataupun musyrik, perintah Allah SWT untuk tetap mempergauli, menjalin hubungan dan berbuat baik kepada keduanya hanya sebatas di dunia ini atau sebatas keduanya masih hidup. Tidak ada hak bagi setiap orang yang beriman untuk mendo’akan keselamatan bagi kedua orangtuanya di akhirat, yang meninggalnya dalam keadaan tidak berserah diri kepada Allah, tidak mengimani-Nya ataupun mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (Qs. At-Taubah: 113).

Namun, jika kedua orangtua termasuk orang-orang yang beriman, maka berbuat baik kepada keduanya tidak hanya berlaku di dunia saja, namun hatta keduanya telah meninggal dunia, perintah untuk tetap berbuat baik kepada keduanya masih terus berlaku, dan menjadi kewajiban bagi segenap kaum mukminin untuk menunaikannya. Diantara bentuk berbuat baik kepada orangtua setelah meninggalnya adalah memohonkan ampun bagi keduanya. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, mendo’akan kedua orangtua adalah juga perintah dari Allah SWT dan termasuk diantara tradisi para Anbiyah as. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim as, “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ).” (Qs. Ibrahim: 41). Pada hakikatnya, mendo’akan keselamatan bagi kedua orangtua, bukan hanya setelah keduanya wafat, namun juga termasuk bentuk kebaikan semasa hidup keduanya, dalam keadaan dekat maupun jauh.

Satu hal yang mesti kita ingat, kebaikan hidup, keimanan ataupun kesalehan yang kita peroleh, tidak semata dari jerih upaya sendiri, kemungkinan ada kaitannya dengan do’a dan kesalehan orang-orang tua sebelum kita yang terijabah oleh Allah SWT. Sebagaimana telah diceritakan dalam Al-Qur’an mengenai do’a Nabi Ibrahim as, “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqarah: 128). Ataupun secara umum disampaikan oleh Allah SWT dalam surah Al-A’raaf ayat 189, “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Pada ayat lainnya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf: 15)

Diceritakan pula, mengenai dua anak yatim piatu yang mendapat pertolongan dari Allah SWT lewat perantaraan dua nabi-Nya, Nabi Musa as dan Nabi Khidir as, karena kesalehan kedua orangtua mereka sebelumnya, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Qs. Al-Kahfi: 82). Dari penjabaran ayat-ayat ini, kita bisa mengambil sebuah falsafah hidup, bahwa jika mendoa’kan keselamatan dan kesalehan bagi anak adalah fitrah dari orangtua, maka sebuah tuntunan nurani pula jika sebagai anak, kita tidak boleh luput dalam mendo’akan keselamatan dan memohonkan ampunan bagi kedua orangtua dan orang-orang sebelumnya.

Izinkanlah saya mengakhiri tulisan ini, dengan mengutip nasehat Imam Ja’far Shadiq as mengenai betapa pentingnya perintah berbuat baik kepada kedua orangtua.

Imam Shadiq as bersabda, “Apa yang menghalangi seseorang berbuat baik kepada kedua orang tuanya?, apakah keduanya masih hidup atau telah meninggal dunia, shalatlah, bersedekahlah, naik hajilah dan berpuasalah dengan menghadiahkan pahala untuk keduanya.” (Ushul Kafi, Jilid 2, hal. 159).

Pada kesempatan lain Imam Shadiq as bersabda, “Seseorang yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya semasa keduanya masih hidup namun ketika keduanya telah meninggal dunia, hutang-hutangnya tidak dilunasi, dan tidak pernah memohonkan ampun bagi kedua orangtunya, maka Allah mencatatnya sebagai anak yang durhaka. Sementara seseorang yang berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya semasa hidupnya, namun ketika keduanya telah wafat, melunasi hutang-hutang keduanya dan memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya, maka Allah akan mencatatnya sebagai anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.” (Ushul Kafi, jilid 2, hal. 163).

Semoga, kita termasuk orang-orang yang berbakti dan berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, ada dan tiadanya keduanya di sisi kita. Seperti begitu, insya Allah.

Rabbi, irhamhumaa kamaa rabbayani shagiiraa…

Oleh: Ismail Amin Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran

Wahyu dan keNabian

Wahyu dan Kenabian Muhammad SawPetunjuk Universal

Dari konsepsi tauhid tentang dunia dan manusia lahir keyakinan kepada wahyu dan kenabian. Kalau meyakini wahyu dan kenabian, maka meyakini pula universalitas petunjuk Allah. Prinsip petunjuk universal merupakan bagian dari konsepsi tauhid tentang dunia, dan konsepsi ini diajukan oleh Islam.

Karena Allah SWT wajib ada sendiri dalam setiap hal dan Maha Pemurah, maka Dia memberikan karunia-Nya kepada setiap wujud sesuai dengan kemampuan masing-masing wujud, dan membimbing setiap wujud dalam perjalanan evolusionernya.

Yang dibimbing oleh Allah adalah segala sesuatu, dari partikel yang sangat kecil sampai bintang yang sangat besar, dan dari wujud tak bernyawa yang paling rendah sampai wujud bernyawa yang paling tinggi yang kita ketahui, yaitu manusia. Itulah sebabnya Al-Qur’an Suci menggunakan kata “wahyu” dalam hubungannya dengan bimbingan untuk wujud inorganis, tanaman dan binatang. Penggunaan kata “wahyu” ini persis seperti ketika Al-Qur’an Suci menggunakannya dalam hubungannya dengan bimbingan untuk manusia.

Di dunia ini tiap-tiap sesuatu senantiasa bergerak. Tiap-tiap sesuatu selalu bergerak menuju tujuannya. Pada saat yang sama, semua indikasi menunjukkan bahwa tiap-tiap sesuatu didorong menuju ke tujuannya oleh suatu kekuatan misterius yang ada di dalam dirinya. Kekuatan ini disebut petunjuk atau bimbingan Allah. Al-Qur’an Suci menyebutkan bahwa Nabi Musa as berkata kepada Fir’aun pada masanya, yang artinya sebagai berikut:

Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (QS. Thâhâ: 50)

Dunia kita ini merupakan sebuah dunia yang penuh dengan tujuan. Tiap-tiap sesuatu diarahkan untuk menuju ke tujuan evolusionernya oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya, dan kekuatan yang ada di dalam dirinya itu adalah petunjuk Allah.

Kata “wahyu” berulang-ulang digunakan dalam Al-Qur’an Suci. Bagaimana kata itu digunakan, dan untuk kesempatan apa kata itu digunakan, memperlihatkan bahwa Al-Qur’an Suci menganggap wahyu bukan untuk manusia saja. Menurut Al-Qur’an Suci, wahyu juga untuk tiap-tiap sesuatu, setidak-tidaknya untuk semua makhluk hidup. Itulah sebabnya Al-Qur’an Suci bahkan berbicara tentang wahyu untuk lebah. Yang dapat dikatakan adalah bahwa wahyu dan petunjuk ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatannya beragam, sesuai dengan beragamnya tingkat evolusi tiap-tiap sesuatu yang berbeda-beda.

Wahyu yang derajatnya paling tinggi adalah wahyu yang diberi-kan kepada para nabi. Basis wahyu seperti ini adalah kebutuhan manusia akan petunjuk Tuhan. Dengan petunjuk Tuhan inilah manusia dapat melangkah menuju suatu tujuan. Dan tujuan ini berada di luar alam material yang kasat mata ini. Dan manusia harus menuju ke tujuan ini. Wahyu juga memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupan sosialnya, suatu kehidupan yang membutuhkan suatu hukum yang diridai oleh Allah. Sudah kami jelaskan kebutuhan manusia akan sebuah ideologi yang evolusioner, dan juga sudah kami jelaskan ketidakmampuan manusia untuk merumuskan sendiri ideologi semacam itu.

Para nabi merupakan semacam perangkat penerima yang berbentuk manusia. Mereka merupakan orang-orang pilihan yang mampu menerima petunjuk dan ilmu pengetahuan dari alam gaib. Allah sajalah yang dapat menilai siapa yang tepat untuk menjadi nabi. Al-Qur’an Suci memfirmankan:

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. al-An’âm: 124)

Kendatipun wahyu merupakan sebuah fenomena, dan fenomena ini berada di luar jangkauan persepsi dan eksperimen langsung manusia, namun dampaknya dapat dirasakan—seperti dampak banyak kekuatan lain—dalam efek-efek yang dilahirkannya. Wahyu Tuhan melahirkan dampak yang besar sekali pada pribadi penerimanya, yaitu nabi. Wahyu “mengangkat” nabi ke kebenaran. Dengan kata lain, wahyu menghidupkan bakat dan kemampuan nabi, dan mewujudkan revolusi yang besar serta mendalam pada diri nabi untuk kepentingan umat manusia. Dengan wahyu, nabi memperoleh keyakinan mutlak. Sejarah belum pernah menyaksikan keyakinan seperti keyakinan para nabi dan orang-orang binaan nabi.

Ciri Khas Nabi

Nabi yang, berkat wahyu, punya kontak dengan sumber eksistensi, memiliki ciri-ciri khas tertentu:

1. Mukjizat

Setiap nabi yang diangkat oleh Allah memiliki kekuatan supranatural. Dengan kekuatan ini nabi dapat melakukan perbuatan mukjizat, untuk membuktikan bahwa risalah dan misinya itu benar dan berasal dari Tuhan. Al-Qur’an Suci menyebut “ayat” untuk mukjizat yang dilakukan oleh nabi dengan kehendak Allah, yaitu “ayat” (tanda) kenabian. Al-Qur’an Suci menyebutkan bahwa di setiap zaman orang meminta kepada nabi di zaman mereka untuk memperlihatkan beberapa mukjizat kepada mereka. Karena permintaan tersebut masuk akal, maka nabi mengabulkan permintaan mereka, karena kalau tidak, maka orang yang mencari kebenaran mustahil mau mengakui kenabian. Namun nabi tak mau mengabulkan permintaan untuk memperlihatkan mukjizat kalau tujuannya bukan untuk mencari kebenaran. Misal, orang berkata kepada nabi mau masuk agama yang dibawa nabi kalau nabi memperlihatkan mukjizat, permintaan mereka diabaikan. Namun, Al-Qur’an Suci menyebutkan banyak mukjizat nabi, seperti meng­hidupkan orang yang sudah mad, menyembuhkan penyakit yang tak dapat disembuhkan, dapat berbicara ketika masih bayi, mengubah tongkat menjadi ular, menjelaskan kegaiban dan memaparkan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.

2. Maksum

Ciri khas lain nabi adalah maksum, yaitu tak mungkin berbuat dosa atau berbuat keliru. Nabi tak dikuasai oleh keinginan pribadinya. Nabi tidak berbuat salah. Kemaksuman nabi tak dapat disangkal lagi. Namun apa sesungguhnya arti kemaksuman nabi? Apakah artinya adalah bahwa bila nabi mau berbuat dosa atau salah, malaikat datang mencegahnya seperti seorang bapak mencegah anaknya agar tidak tersesat? Atau, apakah artinya adalah bahwa nabi diciptakan sedemikian rupa sehingga nabi tak dapat berbuat salah, persis seperti malaikat yang, misalnya, tak mungkin berbuat zina karena malaikat tak punya nafsu seksual, atau seperti mesin, yang tak melakukan kesalahan karena mesin tak punya otak? Atau, alasan kenapa nabi tidak berbuat salah adalah karena nabi telah dianugerahi intuisi (gerak hati), iman dan keyakinan yang istimewa tingkatannya? Ya, itulah satu-satunya penjelasan yang benar. Sekarang mari kita bahas satu persatu mukjizat dan kemaksuman.

Definisi kemaksuman

Manusia adalah makhluk yang merdeka. Manusia menentukan apa saja yang bermanfaat bagi dirinya dan apa saja yang merugikan bagi dirinya. Berdasarkan itu manusia memutuskan apa yang akan dilakukannya. Penilaiannya berperan penting dalam pilihannya. Mustahil manusia memilih melakukan sesuatu yang menurut penilaiannya akan merugikan dirinya. Misal, orang yang sehat pikirannya yang punya perhatian kepada hidupnya tak mungkin mau menjatuhkan dirinya dari atas bukit, juga mustahil dia mau minum racun yang mematikan.

Dari segi kekuatan iman dan kesadaran akan konsekuensi dosa, tiap-tiap orang berbeda-beda. Semakin kuat imannya, semakin sadar dia, semakin sedikit dosa yang akan dilakukannya. Kalau iman seseorang begitu kuat, maka bila dia berbuat dosa dia merasa seakan-akan tengah mencampakkan diri dari atas bukit, sehingga peluangnya untuk melakukan dosa jadi tak ada artinya. Keadaan seperti ini kami sebut maksum. Di sini kemaksuman terjadi karena kesempurnaan iman dan takwa. Agar bisa maksum, manusia tak membutuhkan kekuatan dari luar dirinya untuk mengendalikan dirinya agar tidak berbuat dosa. Juga dia tak perlu jadi tidak berdaya. Tidak berbuat dosa tidak patut dipuji jika manusia tidak mampu berbuat dosa, atau jika dia dihalangi oleh kekuatan dari luar dirinya. Posisi orang yang tak mampu berbuat dosa adalah seperti posisi narapidana yang tak mampu berbuat jahat. Tentu saja narapidana tak dapat digambarkan sebagai orang yang jujur dan lurus.

Kemaksuman nabi merupakan hasil dari intuisinya. Kesalahan terjadi kalau seseorang berhubungan dengan realitas melalui indera batiniah dan lahiriahnya. Dan kemudian dia membuat gambaran mental tentang realitas itu yang dianalisisnya dengan menggunakan kemampuan-kemampuan mentalnya. Dalam hal itu dia dapat saja berbuat salah dalam menyusun gambaran mentalnya, atau dalam menerapkan gambaran tersebut pada realitas yang ada di luar dirinya. Namun bila dia memahami realitas itu langsung melalui indera khusus, sehingga tak perlu lagi menyusun gambaran mental tentang realitas tersebut, dan pemahamannya tentang realitas itu saja sudah berarti hubungan langsungnya dengan realitas itu, maka tidak timbul masalah melakukan kesalahan. Para nabi berhubungan dengan realitas alam semesta dari dalam diri mereka. Tentu saja tak dapat dibayangkan terjadinya kesalahan pada realitas itu sendiri. Misal, kalau kita menaruh seratus manik-manik tasbih di dalam sebuah bejana, kemudian menaruh seratus lagi, dan perbuatan ini diulang seratus kali, maka kita tak mungkin mampu ingat persis hitungannya dan tak mungkin yakin apakah kita mengulang perbuatan itu seratus kali, sembilan puluh sembilan kali atau seratus satu kali. Namun realitas yang sesungguhnya, yaitu jumlah yang sesungguhnya dari manik-manik tersebut, tak mungkin lebih sedikit atau lebih banyak dari realitasnya. Orang-orang yang berada di tengah-tengah realitas dan dekat dengan akar eksistensi tak mungkin melakukan kesalahan. Mereka maksum.

Beda Nabi dan Orang Jenius

Dari sini jelaslah beda antara nabi dan orang jenius. Orang jenius adalah orang yang memiliki daya intelektual yang tinggi, dan pemahamannya juga luar biasa. Orang jenius bekerja berdasarkan data mentalnya sendiri, dan membuat kesimpulan dengan meng­gunakan kemampuan otaknya. Orang jenius terkadang melakukan kekeliruan ketika membuat kalkulasi. Di samping memiliki kemampuan otak dan kemampuan membuat kalkulasi, nabi juga memiliki kekuatan lain yang disebut wahyu, sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang jenius. Karena itu, tak mungkin untuk membandingkan orang jenius dengan nabi. Orang jenius dan nabi beda golongannya. Kita bisa saja membandingkan kemampuan dua orang dalam melihat dan mendengar, namun kita tak dapat membandingkan daya lihat seseorang dengan daya dengar orang lain lalu kita katakan mana yang lebih kuat. Orang jenius memiliki daya pikir yang luar biasa, sedangkan nabi memiliki kekuatan yang sama sekali beda, dan kekuatan ini disebut wahyu. Nabi selalu berhubungan erat dengan Sumber eksistensi. Karena itu, tidaklah betul kaiau membandingkan orang jenius dengan nabi.

3. Petunjuk

Kenabian berawal dari perjalanan spiritual dari makhluk ke Allah dan memperoleh kedekatan dengan-Nya. Perjalanan seperti ini mengandung arti meninggalkan yang lahir dan menuju ke yang batin. Namun demikian, pada akhirnya ujung perjalanan tersebut berupa kembalinya nabi kepada manusia dengan maksud mereformasi kehidupan manusia, dan memandu kehidupan manusia ke jalan lurus.

Dalam bahasa Arab, ada dua kata untuk nabi: Nabi dan Rasul Secara harfiah, arti nabi adalah orang yang membawa kabar, sedangkan arti rasul adalah utusan. Nabi membawa risalah Allah untuk manusia. Nabi menggali dan mengorganisasi kekuatan manusia yang terpendam. Nabi mengajak manusia untuk berpaling kepada Allah dan untuk mewujudkan apa yang diridai-Nya: Perdamaian, kebajikan, non-kekerasan, keadilan, kejujuran, kelurusan, cinta, keterbebasan dari segala yang berbau kekufuran, dan kebajikan-kebajikan lainnya. Nabi membebaskan umat manusia dari belenggu ketundukan kepada hawa nafsu dan Tuhan-tuhan palsu.

Dr. Iqbal, ketika menguraikan perbedaan antara nabi dan orang yang memiliki “pengalaman menyatu”, mengatakan:

“Orang sufi tak mau kembali dari kedamaian, “pengalaman menyatua-nya.. Kalau pun dia kembali, dan ini memang harus, kembalinya dia itu tak berarti banyak bagi umat manusia pada umumnya. Kembalinya nabi bersifat kreatif. Nabi kembali untuk memasuki jalan waktu dengan maksud mengendalikan kekuatan-kekuatan sejarah. Karena itu, nabi menciptakan dunia ideal yang baru. Bagi orang sufi, kedamaian “pengalaman menyatu” merupakan sesuatu yang final. Bagi nabi, itu merupakan kesadaran atau kebangkitan di dalam dirinya dan leluasanya kekuatan-kekuatan psikologis, yang diperhitungkan untuk sepenuhnya mentransformasi dunia manusia.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hal. 124)

4. Ikhlas

Nabi percaya kepada Allah, dan tak pernah lalai dengan misi yang diamanatkan kepadanya oleh Allah. Nabi menunaikan tugasnya dengan sedemikian ikhlas. Tujuan nabi tak lain adalah membimbing umat manusia, seperti yang diperintahkan oleh Allah. Nabi tak minta upah untuk misinya.

Dalam Surah asy-Syu’arâ` diikhtisarkan apa yang dikatakan banyak nabi kepada kaum mereka. Tentu saja, setiap nabi membawa risalah untuk kaumnya. Dan risalah tersebut sesuai untuk problem-problem yang dihadapi kaumnya. Namun demikian, ada substansi yang diungkapkan dalam risalah setiap nabi. Setiap nabi berkata, “Aku tak menginginkan upah darimu.” Karena itu, tulus merupakan salah satu watak khas nabi. Itulah sebabnya risalah para nabi selalu begitu tegas dan pasti. Para nabi merasa “diangkat”, dan mereka sedikit pun tidak meragukan fakta bahwa mereka mendapat amanat berupa misi yang amat penting dan bermanfaat. Kemudian mereka menyampaikan risalah mereka, dan tanpa ragu membelanya dengan penuh kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika Nabi Musa as dan saudaranya, Nabi Harun as menghadap Fir’aun, mereka sama sekali tak memiliki perlengkapan kecuali pakaian yang melekat di badan mereka dan tongkat kayu di tangan mereka. Mereka meminta Fir’aun agar menerima risalah mereka. Mereka mengatakan dengan pasti bahwa jika Fir’aun mau menerima risalah mereka, maka kehormatan Fir’aun akan terlindungi, dan kalau tidak, maka Fir’aun akan kehilangan pemerintahannya. Fir’aun terpesona dengan perkataan mereka.

Pada hari-hari pertama kenabiannya, ketika jumlah kaum Muslim tak lebih dari sepuluh orang, Nabi Muhammad saw suatu hari, yang dalam sejarah dikenal sebagai Hari Peringatan, mengumpulkan para senior Bani Hasyim, dan menyampaikan Risalahnya kepada mereka. Nabi saw dengan tegas mengatakan bahwa agamanya akan tersebar ke seluruh dunia, dan bahwa kalau mereka memeluk agamanya, maka hal itu adalah demi kepentingan mereka sendiri. Bagi mereka, kata-kata ini luar biasa. Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. Kemudian mereka bubar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ketika pamannya, Abu Thalib, menyampaikan kepadanya pesan dari kaum Quraisy, yang isinya bahwa kaum Quraisy mau memilihnya menjadi raja mereka, mau menikahkannya dengan putri suku yang paling cantik, dan menjadikannya orang yang terkaya di masyarakat mereka, asalkan dia tak lagi berdakwah, Nabi Muhammad saw menjawab bahwa dirinya tak akan mundur satu inci pun dari misi sucinya, sekalipun mereka meletakkan matahari di tangannya yang satu dan bulan di tangannya yang satunya lagi. Kemaksuman merupakan hasil wajib dari komunikasi nabi dengan Allah. Begitu pula, tulus dan teguh had juga merupakan ciri khas wajib dari kenabian.

5. Konstruktif

Nabi mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk maksud-maksud membangun, yaitu untuk mereformasi individu-individu dan masyarakat, atau dengan kata lain untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Mustahil kalau aktivitas para nabi merugikan individu-individu atau merugikan masyarakat luas. Karena itu, jika ajaran seseorang yang mengaku dirinya nabi berakibat kerusakan atau ketidaksenonohan, melumpuhkan kekuatan manusia, atau menyebabkan jatuhnya martabat masyarakat, maka itu merupakan bukti jelas bahwa dia adalah penipu.

Dalam kaitan ini, Dr. Iqbal dengan jitu mengatakan: “Cara lain untuk mengetahui nilai pengalaman religius nabi adalah mengkaji tipe manusia seperti apa yang berhasil diciptakannya, dan dunia budaya yang terbentuk dari roh risalahnya.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hal. 124)

6. Perjuangan dan Konflik

Perjuangan seorang nabi menentang penyembahan berhala, mitos, kebodohan, pikiran palsu dan tirani, merupakan tanda lain kebenaran seorang nabi. Mustahil kalau dalam risalah seseorang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya ada nada keberhalaan, nada yang mendukung tirani dan ketidakadilan, atau nada yang mentoleransi kemusyrikan, kebodohan, mitos, kekejaman atau kelaliman.

Tauhid, akal dan keadilan merupakan sebagian prinsip yang diajarkan oleh semua nabi. Risalah dari orang-orang yang mengajar-kan prinsip-prinsip ini sajalah yang patut dipertimbangkan, dan mereka sajalah yang dapat diminta untuk memberikan bukti atau mukjizat. Jika risalah yang disampaikan oleh seseorang mengandung unsur yang tak rasional atau bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid dan keadilan, atau mendukung tirani, maka risalah tersebut sama sekali tak patut dipertimbangkan. Dalam kasus seperti itu, sama sekali tak perlu memintanya untuk memberikan bukti yang memperkuat klaimnya. Begitu pula terhadap seorang penipu ulung yang berbuat dosa, yang melakukan kesalahan besar, atau yang tak mampu membimbing orang akibat mengidap cacat jasmani atau penyakit yang menjijikkan seperti lepra, atau akibat ajarannya tak memberikan dampak yang konstruktif pada kehidupan manusia. Andai saja penipu seperti itu memperlihatkan keajaiban, mustahil atau tak masuk akal untuk mengikutinya.

7. Sisi Manusia

Para nabi, sekalipun memiliki banyak kemampuan supranatural, seperti maksum, mampu melakukan perbuatan mukjizat, mampu membimbing dan merekonstruksi, dan mampu melakukan perjuangan luar biasa menentang kemusyrikan, mitos dan tirani, namun tetap manusia juga. Mereka, seperti manusia lainnya, makan, tidur, berketurunan dan akhirnya meninggal dunia. Pada diri mereka juga ada semua kebutuhan dasar manusiawi. Mereka berkewajiban menunaikan tugas-tugas agama seperti orang lain. Seperti orang lain, mereka juga tunduk kepada semua hukum agama yang disampaikan melalui mereka. Terkadang mereka bahkan memiliki tugas tambahan. Salat tahajud yang sunah bagi orang lain, wajib bagi Nabi Suci saw.

Para nabi tak pernah merasa diberi kebebasan untuk tidak mengikuti perintah agama. Dibanding orang lain, mereka justru jauh lebih takwa dan jauh lebih beribadah kepada Allah. Mereka melakukan salat, berpuasa, melakukan perang suci, membayar zakat, dan bersikap baik had kepada manusia. Para nabi bekerja keras untuk mendapatkan kesejahteraannya sendiri, dan juga untuk mewujudkan kesejahteraan bagi manusia. Di kala hidup, para nabi tak pernah menjadi beban bagi siapa pun.

Wahyu dan sifat-sifat khas yang berkaitan dengan wahyu, merupakan satu-satunya pembeda antara nabi dan non-nabi. Kenyataan bahwa nabi menerima wahyu tidak menaflkan kemanusiaan nabi. Kenyataan tersebut justru menjadikan nabi sebagai model “manusia sempuma”. Itulah sebabnya nabi sedemikian tepat untuk membimbing manusia.

8. Nabi Membawa Syariat (Hukum) Tuhan

Pada umumnya ada dua golongan nabi. Golongan pertama, yaitu golongan kecil, adalah nabi-nabi yang mendapat syariat sendiri, yang diperintahkan untuk memberikan petunjuk kepada manusia dengan berbasiskan syariat. Al-Qur’an Suci menyebut para nabi ini dengan sebutan nabi-nabi “berjiwa besar atau berhati mulia.” Kita tak tahu persis berapa jumlah mereka. Al-Qur’an Suci dengan tegas mengatakan telah menceritakan hanya kisah-kisah tentang sedikk nabi. Kalau saja kisah-kisah tentang semua nabi itu dicedtakan, atau setidaknya Al-Qur’an Suci menyatakan telah menceritakan kisah-kisah tentang semua nabi yang penting, tentu kita akan tahu jumlah nabi yang berjiwa besar atau berhati mulia itu. Namun, kita tahu bahwa Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi terakhir Muhammad saw, termasuk di antara nabi-nabi itu. Syariat diberikan kepada semua nabi yang berhati mulia dan berjiwa besar itu. Nabi-nabi ini diperintahkan untuk mendidik para pengikut mereka dengan berdasarkan syariat.

Golongan kedua, adalah nabi-nabi yang tidak memiliki syariat sendiri. Meski demikian, mereka ini diperintahkan untuk mendakwahkan syariat Tuhan yang sudah ada. Kebanyakan nabi termasuk dalam golongan ini. Dalam golongan ini terdapat nama-nama seperti Hud as, Saleh as, Luth as, Ishaq as, Ya’qub as, Yusuf as, Syu’aib as, Harun as, Zakaria as dan Yahya as.

Fiqih Membayar Khumus dalam Mazhab Syiah

Pelajaran Fiqih Membayar Khumus
Salah satu dari tugas-tugas ekonomi kaum muslimin adalah membayar khumus, artinya bahwa pada sebagian hal, seperlima dari hartanya harus di bayarkan kepada pemimpin syar’i untuk penggunaan yang sudah ditentukan.

Khumus Hukumnya Wajib pada Tujuh Hal:
a. Apa yang lebih dari biaya hidup setahun (laba usaha).
b. Tambang.
c. Harta karun.
d. Harta rampasan perang.
e. Perhiasan yang didapatkan dari penyelaman ke dalam laut.
f. Harta halal yang campur dengan harta haram.
g. Tanah yang dibeli oleh kafir zimmi* dari orang islam.

Membayar khumus merupakan sebuah kewajiban bagaikan salat dan puasa, dan seluruh orang yang balig dan berakal jika memiliki salah satu dari tujuh macam di atas maka dia harus membayar khumusnya.

Pada permulaan usia balig jika seseorang berpikir untuk melaksanakan ibadah salat dan puasa dia juga harus berpikir untuk membayar khumus dan zakat, oleh karena itu untuk mengenal dan mengetahui masalahnya sebatas kebutuhan adalah perlu. Dalam tulisan ini kami hanya membahas salah satu dari tujuh macam yang diwajibkan khumusnya yang menyangkut seluruh kalangan masyarakat dan itu adalah khumusnya sesuatu yang lebih dari biaya hidup setahun seseorang dan keluarganya.

Untuk lebih jelasnya kami harus menjawab pertanyaan ini: Apa maksud dari biaya hidup setahun?

Biaya Setahun
Islam menghargai jerih payah manusia dan lebih mendahulukan kebutuhan hidup mereka dari pada masalah pembayaran khumus. Oleh karena itu, setiap orang dalam satu tahun bisa memenuhi kebutuhannya dari hasil jerih payahnya dan di akhir tahun jika tidak ada sisanya maka tidak wajib membayar khumus. Akan tetapi, setelah dia hidup sesuai dengan standar dan berdasarkan kebutuhannya artinya tidak berlebihan dan juga tidak irit, jika di akhir tahun ada kelebihan dari biaya hidupnya selama setahun maka 1/5 dari kelebihan itu dibayarkan sebagai khumus dan sisanya 4/5 untuk dirinya sendiri. Dengan demikian maksud dari biaya hidup adalah segala macam kebutuhan yang diperlukan dalam hidupnya baik untuk dirinya maupun keluarganya seperti:
a. Makanan dan pakaian.
b. Barang-barang dan perabot rumah tangga.
c. Alat transportasi.
d. Biaya untuk tamu.
e. Biaya untuk kawin.
f. Kitab-kitab yang diperlukan.
g. Biaya bepergian.
h. Hadiah yang diberikan kepada orang lain.
i. Sedekah dan nazar atau membayar kaffarah.

Tahun Membayar Khumus
Orang yang balig, dari hari pertama dia balig harus mengerjakan salat dan pada bulan pertama Ramadhan harus berpuasa dan setelah lewat satu tahun dari penghasilannya yang pertama, jika ada kelebihan biaya hidup yang dipakai selama setahun maka 1/5 dari kelebihan biaya setahun itu dibayarkan sebagai khumus. Oleh karena itu awal penghitungan khumus adalah penghasilan yang pertama dan akhir tahunnya adalah tanggal ulang tahun mendapatkan penghasilan. Dengan demikian awal tahun bagi petani adalah panen yang pertama, bagi pegawai adalah gaji yang pertama, bagi karyawan adalah bayaran yang pertama dan bagi pedagang adalah muamalah pertama yang dia lakukan.

Harta yang Didapatkan dengan Perantara Di Bawah ini Tidak Ada Khumusnya:
a. Harta warisan.
b. Sesuatu yang diberikan ke orang lain.
c. Hadiah yang didapatkan dari orang lain.
d. Sesuatu yang di kasihkan ke orang lain sebagai hadiah.*
e. Harta yang diberikan kepada orang lain sebagai khumus atau zakat atau sedekah.

Akibat Tidak Membayar Khumus
1. Selama khumus hartanya belum dibayar pemilik tidak bisa menggunakan hartanya yakni makanan yang khumusnya belum dibayar tidak bisa dimakan atau uang yang belum dibayar khumusnya tidak bisa dipakai untuk membeli sesuatu.
2. Jika melaksanakan jual beli dengan uang yang belum dikhumusi (tanpa izin pemimpin syar’i) maka 1/5 dari muamalah itu batal*
3. Jika ingin mandi di kamar mandi umum dan membayar pakai uang yang belum dikhumusi kepada pemilik kamar mandi maka mandinya batal.**
4. Jika membeli rumah dengan uang yang belum dikhumusi maka salat di dalamnya adalah batal.

Hukum-hukum Khumus
1. Jika ada kelebihan dari biaya hidup setahun karena hidup qonaah dan sederhana maka harus dibayar khumusnya.
2. Jika perabot rumah yang dibeli sudah tidak diperlukan lagi berdasarkan ihtiyath wajib*** harus dibayar khumusnya misalnya beli kulkas yang lebih besar dan tidak perlu pada kulkas sebelumnya (kulkas sebelumnya harus dibayar khumusnya).
3. Bahan makanan yang digunakan untuk setahun yang dibeli dari uang mata pencaharian seperti beras, minyak dan teh, jika pada akhir tahun ada kelebihan maka harus dibayar khumusnya.
4. Jika anak yang belum balig memiliki modal dan dia mendapatkan labanya, berdasarkan ihtiyath wajib* setelah dia balig maka harus membayar khumusnya.**

Penyerahan Khumus
Khumus harus dibagi menjadi dua bagian, setengahnya adalah sahamnya Imam Mahdi AS. yang harus diserahkan kepada Mujtahid yang memiliki seluruh syarat yang mana dia taklid kepadanya atau wakilnya. Dan setengahnya lagi bisa diserahkan kepada Mujtahid yang memiliki seluruh syarat atau dengan izin mujtahid tersebut diberikan kepada para sayyid yang memiliki syarat-syaratnya. ***

Syarat-syarat Sayyid yang Bisa Diberi Khumus:
a. Harus fakir atau tidak bisa pulang dari bepergian sekalipun di kotanya termasuk orang kaya.
b. Harus Syi’ah Imamiyah.
c. Berdasarkan ihtiyath wajib tidak bermaksiat secara terang-terangan. Pemberian khumus kepadanya jangan sampai membantu dia untuk berbuat dosa.
d. Bukan termasuk orang-orang yang biaya hidupnya menjadi tanggungan pembayar khumus seperti istri dan anak (berdasarkan ihtiyath wajib).

Kesimpulan Pelajaran

1. Salah satu dari tugas ekonomi adalah membayar khumus.
2. Pada beberapa hal di bawah ini wajib membayar khumusnya:
a. Hasil usaha.
b. Tambang.
c. Harta karun.
d. Rampasan perang.
e. Perhiasan laut.
f. Harta halal bercampur dengan harta haram.
g. Tanah yang dibeli oleh orang kafir zimmi dari orang muslim.

3. Makanan, pakaian, rumah, perabot rumah, kendaraan, biaya tamu, kawin, ziarah, bepergian, perhiasan, sedekah, kaffarah adalah bagian dari biaya hidup setahun.
4. Dari sejak seseorang memiliki mata pencaharian dan usaha maka mulailah baginya tahun khumus dan setelah lewat setahun apa yang lebih dari biaya hidupnya selama setahun maka harus dibayar khumusnya.
5. Harta yang didapatkan dari warisan, dan sesuatu yang diberikan kepada dirinya dan hadiah yang dia dapatkan tidak ada khumusnya.
6. Selama harta itu belum dibayar khumusnya seseorang tidak bisa menggunakannya, jika dia menggunakan untuk muamalah maka 1/5 darinya adalah batal.

7. Setengah dari khumus adalah milik Imam Mahdi AS. dan harus diserahkan kepada marja’ taklidnya dan setengahnya dengan izin marja’ taklidnya bisa diberikan kepada sayyid yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a. Harus fakir.
b. Harus bermazhab Syiah Imamiyah.
c. Tidak bermaksiat secara terang-terangan.
d. Bukan termasuk orang yang menjadi tanggungan dalam pembiayaan hidup seperti istri dan anak.