Puisi Gus Mus; Menggugat Wahabi

Puisi dibawah ini, bisa dibilang monumental diantara karya sastra Gus Mus, menggambarkan bagaimana beliau mengkritik pemahaman/konsep Islam Wahabi ataupun semi wahabi. Kita tahu pasti, bahwa ajaran wahabi yang berkembang didunia Islam baik di Indonesia maupun diluar indonesia menghadapi banyak kecaman dari para ulama ahlussunnah dan syiah, karena paham/ajaran wahabi ini berusaha menyalahkan, menghujat, bahkan mengkafirkan sesama ummat Islam yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.

Na’udzu billah min fitnatil Wahhabiyyah…

Puisi Gus Mus (KH.Musthofa Bisri) menyindir pemahaman wahabi.

KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA ?
* Aku pergi tahlil, Kau bilang itu amalan jahil…
* Aku baca Shalawat burdah, Kau bilang itu bid’ah…

LALU AKU HARUS BAGAIMANA?
* Aku bertawasul dengan baik, Kau bilang aku musyrik…
* Aku ikut majelis dzikir, Kau bilang aku kafir…

LALU AKU HARUS BAGAIMANA?
* Aku sholat pakai lafadz niat, Kau bilang aku sesat…
* Aku mengadakan maulid ,kau bilang tak ada dalil yg valid…
* Aku gemar berziarah, Kau bilang aku alap-alap berkah…
* Aku mengadakan selametan, Kau bilang aku pemuja setan…

LALU AKU HARUS BAGAIMANA ?
* Aku pergi yasinan, Kau bilang itu tak membawa kebaikan…
* Aku ikut tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi…

YA SUDAHLAH ….. AKU IKUT KALIAN ….
* Kan kupakai celana cingkrang biar kau senang…
* Kan kupanjangkan jenggot agar dikira berbobot…
* Ku hitamkan jidad agar dikira ahli ijtihad…
* Aku akan sering menghujat biar dikira hebat…
* Aku akan sering mencela biar dikira mulia…

YA SUDAHLAH … aku pasrah pada Allah yg kusembah…

Buku Mafatih al Jinan 3 Jilid

buku mafatih al-jinanJudul Buku: Mafatih al-Jinan.
Kunci-kunci surga.
Karya: Syeikh Abbas al-Qummi.
Terjemah: Bahasa Indonesia.
Buku mafatih al-jinan ini adalah terjemah bahasa indonesia dari teks kitab Bahasa Arab yang berjudul “Mafatihul Jinan” karya as-Syeikh Abbas al-Qummi, seorang ulama besar Islam yang piawai dalam bidang tafsir, hadits dan Irfan/Tasawuf. Kitab ini berisi kumpulan surat-surat mubarakah dari al-Quran al-Karim, seprti Yasin, al-Waqiah, al-Mulk, al-Fath dll.

Memuat juga doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul bait seperti tawassul, doa kumail, doa abi hamzah tsumali, doa arbain, doa faraj, serta berbagai shalawat masyhuurat.

Fatimah Az-Zahra’ : Keutamaan beliau didalam Hadis

Hadis-hadis Keutamaan Sayyidah Fathimah Az Zahra, beliau adalah Fatimah az-Zahra bintu Muhammad ibni Abdillah Rasulullah SAW, mempunyai julukan/gelar al-batuul, az-Zakiyyah, Sayyidatun Nisa’il Alamin, at-Thohiroh, al-Ma’shimah, dll.

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli:

Bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Fathimah adalah sebahagian daripadaku; barangsiapa ragu terhadapnya, berarti ragu terhadapku, dan membohonginya adalah membohongiku”

Hadis dalam Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I hlm 518 , Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI hlm 282, Mustadrak Al Hakim jilid III hlm156:

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Fatimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari ummat ini atau wanita mukmin”.

Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi dalam Shahih Al Jami’As Saghir no 1135 dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah no1508:

Rasulullah SAW bersabda: ” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.”

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari Kitab Bad’ul Khalq bab Manaqib Qarabah Rasululllah SAW:

Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”

Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad hasan:

Bahwa ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: “sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga”.

Hadis riwayat Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi:

Rasululah SAW bersabda kepada Fathimah: “Tidakkah Engkau senang jika Engkau menjadi penghulu bagi wanita seluruh alam”.

Hadis-hadis diatas hanyalah beberapa saja, adapun hadis lain yang menunjukkan keutamaan Sayyidah Fatimah Az-zahra’ sangatlah banyak ditemukan dikitab-kitab hadits, seperti shahih bukhari, shahih muslim, musnad ahmad, at-Tirmidzi dll.

Keutamaan Fatimah bukanlah hanya karena beliau adalah putri dari Rasulullah SAW semata,  akan tetapi keutamaan dan kemuliaan beliau memang ditunjang beberapa hal penting seperti keutamaan Akhlaq yang mulia, ilmu pengetahuan yang tinggi, kefasihan yang mengungguli kaum pria sekalipun, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, kezuhudan, ketegaran hati dan lainya.

Selain sifat-sifat yang dimiliki Sayyidah Fatimah as tersebut, terdapat keunikan lain akan keutamaan beliau, yaitu beliau adalah putri dari Rasulullah SAW, Putri dari Khadijah al-Kubra (Pemuka wanita Islam pertama), Istri dari Sayyidina Ali bin abi thalib KW (yang merupakan sahabat terdekat Nabi SAW dan orang pertama kali masuk Islam), beliau adalah Ibu dari Sayyidain al-Hasan wal-Husain, dan beliau merupakan salah satu anggota khusus keluarga Nabi SAW yang disebut sebagai Ahlul Bait Yang Suci.

Menilai: Tasawuf dalam pandangan Islam

Nilai ilmu Tasawuf dalam pandangan Islam tidak lepas dari sejarah terbentuknya istilah “Tasawuf”, hubungan sosial ummat Islam dengan ajaran agama lain, serta perkembangan pengetahuan Islam dari zaman ke zaman.

Pada dasarnya perkataan/istilah “tasawuf” bisa ditelusuri asal mulanya dari kata “shuuf” yang berarti “wol/bulu domba” yang biasa dipakai oleh para pesuluk (mutasawwif) dan kemudian dijadikan istilah bagi mereka.

Ada pula yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata “Shoofa” yang berarti bersih, suci, sesuai dengan para Pencari Tuhan atau sufi dalam kiat mereka membersihkan diri dari sifat-sifat buruk (takholli ‘an akhlaqil madzmumah) dan sambil lalu mengisi diri dengan sifat-sifat baik (tahalli bi akhlaqil mahmudah).

Muncul juga peryataan lain, yang mengatakan bahwa istilah tasawuf berasal dari “ahlus shuufah” yaitu sebuah kelompok muslimin yang memilih hidup zuhud, sederhana dan sembari bernaung diemperan atau beranda Masjid Nabawi Rasulullah SAW, mereka beribadah, bertempat tinggal seumur hidup diberanda Masjid Nabawi. Dari kata “ahlus shuufah” ini, muncul asumsi bahwa tasawuf berasal darinya, yaitu sekumpulan muslimin yang hidup zuhud bersama Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Dari beberapa istilah asal kata tasawuf diatas, masih banyak beberapa perspektif lain mengenai asal istilah Tasawuf. Apabila kita menelusuri lebih jeli, betul adanya bahwa Tasawuf memang lahir dari ajaran Islam, karena rujukan utama mereka adalah al-Quran, al-Hadits, serta riwayat-riwayat dari ajaran para pendahulu Islam.

Sebut saja dalam istilah tasawuf terdapat sebuah istilah “sanad” atau “silsilah”, dalam hal ini khusunya para sufi yang mengaplikasikan penyucian jiwa melalui “thoriqoh” mempunyai garis turun temurun yang berasal dari Rasulullah SAW, kemudian kepada Sayyidina Ali bin abi Thalib KW, Sayyidina Hasan, Sayyidina al-Husain, sayyidina Ali zainal abidin, Sayyidina Muhammad al-Baqir, Sayyidina Ja’far shadiq, dan turun menurun melalui keturunan, murid-murid mereka serta para Sahabat Rasulullah SAW yang terpilih.

Dalam ordo sufi atau Thoriqoh sanad ini dikenal sebagai “silsilah dzahabiyyah” / silsilah ke-emas-an, yang berarti satu sama lain saling berkaitan, bersambung dan berhubungan secara metafisik/spiritual. Kita sering mendengar dan bahkan mengenal thoriqoh qaadiriyyah, Alawiyyah, syadziliyyah, naqsyabandiyyah, syattariyyah dsb, semua kelompok tersebut sama-sama bertumpu pada ajaran spiritual dan akhlak Rasulullah SAW.

Sebagai penutup, istilah tasawuf dalam Islam bukan hal yang asing seperti dikatakan para orientalis bahwa tasawuf bukan berasal dari ajaran Islam. Justru sebaliknya Tasawuf berasal dari Ajaran Islam sejak diajarkan kepada para Keluarga, Murid dan Sahabat Rasulullah SAW yang terdahulu.