Biografi Buya HAMKA Tokoh intelektual Islam Indonesia

Biografi Buya Hamka; Buya Hamka lahir pada tahun 1908 di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, HAMKA sendiri merupakan singkatan dari nama beliau yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Hamka merupakan putra dari Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yg juga merupakan ulama di tanah minang, diawali bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958.

Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Buya Hamka merupakan sosok otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.

Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman, beliau juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.

Hamka aktif dalam Muhammadiyah, terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

beliau juga wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli.

karya- karya buya HAMKA:

  • Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
    Si Sabariah. (1928)
    Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
    Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
    Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
    Kepentingan melakukan tabligh (1929).
    Hikmat Isra’ dan Mikraj.
    Arkanul Islam (1932) di Makassar.
    Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
    Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
    Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
    Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
    Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
    Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
    Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
    Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
    Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
    Tuan Direktur 1939.
    Dijemput mamaknya,1939.
    Keadilan Ilahy 1939.
    Tashawwuf Modern 1939.
    Falsafah Hidup 1939.
    Lembaga Hidup 1940.
    Lembaga Budi 1940.
    Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
    Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
    Negara Islam (1946).
    Islam dan Demokrasi,1946.
    Revolusi Pikiran,1946.
    Revolusi Agama,1946.
    Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
    Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
    Didalam Lembah cita-cita,1946.
    Sesudah naskah Renville,1947.
    Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
    Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
    Ayahku,1950 di Jakarta.
    Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
    Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
    Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
    Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
    Kenangan-kenangan hidup 2.
    Kenangan-kenangan hidup 3.
    Kenangan-kenangan hidup 4.
    Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
    Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
    Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
    Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
    Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
    Pribadi,1950.
    Agama dan perempuan,1939.
    Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
    1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
    Pelajaran Agama Islam,1956.
    Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
    Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
    Empat bulan di Amerika Jilid 2.
    Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
    Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
    Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
    Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
    Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
    Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
    Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
    Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
    Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
    Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
    Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
    Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
    Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
    Himpunan Khutbah-khutbah.
    Urat Tunggang Pancasila.
    Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
    Sejarah Islam di Sumatera.
    Bohong di Dunia.
    Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
    Pandangan Hidup Muslim,1960.
    Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

Referensi :

- http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11384959

Sunni dan Syiah, perbedaan dan kesamaan

Konflik Sunni dan Syiah yang terjadi pekan lalu di Sampang, Madura, membuat banyak orang mulai bertanya ada apa sebenarnya dengan Syiah. Siapa mereka dan kenapa bisa berlanjut konfliknya hingga bersimbah darah? Menteri Agama Indonesia ke-15, Muhammad Quraish Shihab, membedah dua kelompok ini dalam buku yang berjudul Sunnah-Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Pria 68 tahun ini mengawali kisah dua kelompok besar ini dengan menjelaskan apa itu perbedaan dalam Islam. Ia kemudian membedah perbedaan umum antara Sunnah dan Syiah. Menurut lelaki kelahiran Sulawesi selatan ini, secara umum ada dua kelompok umat Islam dengan jumlah pengikut yang besar yaitu kelompok Ahlussunnah wa al-Jamaah dan kelompok Syiah.

Kelompok pertama secara harfiah dari kata Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kelompok Ahlussunah juga memperurutkan keutamaan Khulafa”ar-Rasyidin sesuai dengan urutan dan masa kekuasaan mereka.

Shihab mengaku kesulitan untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahlussunah dalam pengertian terminologi. Secara umum, melalui berbagai pendapat, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Asy”ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi”i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi).

“Sebelum memulai dengan siapa Syiah, perlu digarisbawahi, kelompok Syiah pun menamai diri Ahlussunah,” ujar dia. Tapi definisinya tentu berbeda. Syiah memang mengikuti tuntunan sunah Nabi, tapi ada sejumlah perbedaan bentuk dukungan dan tuntunan itu.

Muhammad Jawad Maghniyah, ulama beraliran Syiah, mendefinisikan tentang kelompoknya. Syiah yang secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, dan pecinta ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah beliau dengan menunjuk Imam Ali.

“Definisi ini hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, tapi untuk sementara dapat diterima,” kata Shihab.

Perbedaan antara Syiah dan Ahlusunnah yang menonjol adalah masalah imamah atau jabatan Ilahi. Khususnya ada tiga hal pokok yang diyakini Syiah dan ditentang Ahlussunnah. Ketiganya adalah pandangan tentang Nabi belum menyampaikan seluruh ajaran/hukum agama kepada umat, imam-imam berwenang mengecualikan apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW, dan imam-imam mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi dalam segi kemaksuman (keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa)

Keberatan itu, tulis Shihab, tertuang dalam buku karangan Syaikh Abu Zahrah berjudul Tarikh al-Maadzahib al-Islamiyah. Bagi kaum Syiah, imam yang mereka percayai ada dua belas orang jumlahnya. Mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang kekuasaannya bersumber dari Allah. (ditulis oleh DIANING SARI, pada TEMPO.CO, Jakarta)

Konflik Sunni dan Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Terulangnya peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang Madura, sungguh telah mencoreng kerukunan umat beragama di Indonesia. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di Sampang yang merupakan komunitas muslim NU yang selama ini dikenal dengan toleransi beragamanya yang kuat. Dan sebenarnya, beberapa tradisi di kalangan NU, sedikit banyak dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah.

Karena itu, muncul dugaan bahwa sebenarnya peristiwa itu bukan berawal dari perbedaan mazhab antara Sunni (Aswaja) dan Syiah, melainkan dipicu oleh masalah yang tidak terkait dengan hal itu. Kompasianer Dewa Gilang dalam tulisannya yang berjudul “Minyak Tergenang di Syiah Sampang”, mengungkapkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Media online Okezone.com, 8/03/2012, merilis berita temuan Kontras Surabaya tentang fakta-fakta bahwa konflik Sampang ini sengaja diciptakan untuk eksplorasi minyak dan pengembangan investasi di kawasan tersebut. Meskipun belum bisa dibuktikan kebenarannya, temuan tersebut patut kita tunggu hasil akhirnya.

Sementara itu, seperti dirilis Kompas.com, Mendagri Gamawan Fauzi menyatakan bahwa kerusuhan di Sampang, Madura, bukan masalah agama, melainkan masalah kriminal murni. “Kejadian di Sampang merupakan kriminal murni dan konflik keluarga yang berkembang di masyarakat, bukan masalah Syiah maupun anti-Syiah,” ujarnya kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tertutup di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (27/8/2012) malam.

Ia menjelaskan, kasus ini berawal dari permasalahan keluarga sejak 2004 hingga sekarang, yaitu antara Tajul Muluk dan Rois yang mempunyai masalah pribadi dan tersebar di masyarakat luas. “Kebetulan keduanya berbeda aliran, satu Syiah dan satunya Sunni. Mereka juga memiliki anak buah banyak. Dari sinilah persoalannya, bahwa masalah awal bukan masalah agama, tapi pribadi yang dimiliki oleh kedua orang tersebut,” tuturnya.

Pada perkembangan selanjutnya, Beritasatu.com mengungkapkan bahwa Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengumumkan penyidik telah menetapkan seorang tersangka berinisial R dalam kasus kerusuhan yang terjadi di Sampang, Madura, Minggu (26/8) lalu.

Menurut saya, dugaan konflik keluarga sebagai pemicu peristiwa Sampang lebih masuk akal dan dapat langsung dibuktikan dengan bukti-bukti awal dan dengan merunut motif pada pelakunya. Namun temuan awal Kontras tetap harus ditindaklanjuti. Jika temuan itu dapat dibuktikan, maka akan dapat mengungkap motif peristiwa yang jauh lebih besar dan penting untuk diungkap.

Konflik Sunni-Syiah, Realitas atau Rekayasa?

Jika kita menengok ke belakang, tentang pengenalan kita kepada mazhab Syiah dalam Islam, kita akan teringat kembali pada peristiwa revolusi Islam di Iran yang akhirnya pada tahun 1979 mampu menghentikan kekejaman rezim Syah Reza Pahlevi, penguasa otoriter yang didukung Amerika, yang berkuasa 37 tahun.

Ketika banyak umat Islam di seluruh dunia yang menaruh harapan pada keberhasilan revolusi Islam Iran, yang tidak hanya mampu menurunkan penguasa otoriter, tapi juga menggantikannya dengan sistem pemerintahan Islam seperti yang kita kenal di negara Iran sekarang ini. Banyak umat Islam yang berharap dapat melakukan hal serupa pada negara-negara mereka yang dikuasai oleh pemerintah otoriter, yang ironisnya didukung oleh Amerika yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi. Bahkan pemerintahan Saddam Husein pun mendapat dukungan Amerika ketika memutuskan untuk menyerang Iran ketika itu.

Namun, keadaan tiba-tiba berbalik arah. Dunia Islam tiba-tiba menganggap Islam di Iran sebagai sesuatu yang sangat berbeda dengan Islam di negara-negara muslim lainnya. Saya masih ingat, ketika itu banyak saya jumpai buku-buku yang ditulis oleh kalangan Islam sendiri yang menyerang Khomeini. Ayatullah Khomeini yang sebelumnya dielu-elukan sebagai tokoh pembebas, tiba-tiba dicitrakan sebagai tokoh yang intoleran dan kejam. Selain itu, banyak juga ulasan yang menyerang mazhab Syiah sebagai mazhab yang menyimpang dari mainstream Islam. Ketika itu saya belum banyak memahami fenomena ini, tapi terus mengikuti perkembangannya.

Akhirnya saya mengetahui peta perkembangannya. Keberhasilan revolusi Islam Iran, tak pelak lagi telah menohok begitu keras hegemoni Amerikia sebagai pelindung penguasa otoriter Syah Reza Pahlevi. Amerika sebagai musuh besar Iran, berusaha mengecilkan dan membendung pengaruh revolusi di Iran tersebut. Maka diblow up lah perbedaan antara Sunni dan Syiah, sampai pada gap paling ekstrem sekalipun. Sebelumnya, perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak pernahmencapai kondisi seekstrem ini. Sayangnya, banyak Negara dan umat Islam yang termakan oleh rekayasa ini. Sangat disayangkan pula, Arab Saudi berdiri paling depan dengan fatwa-fatwa para ulamanya yang begitu keras terhadap eksistensi Syiah ini. Sementara fenomena westernisasi dibiarkan terjadi di kota-kota besar di Arab Saudi. Tapi alhamdulilah, fenomena itu belum mengganggu dua kota suci Mekkah dan Madinah.

Kita juga masih ingat, bagaimana ketika agresi Amerika ke Irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal, telah mengubah struktur masyarakat Irak yang bersatu menentang rezim Saddam Husein, menjadi terpecah antara kaum Sunni dan Syiah. Amerika sengaja memprovokasi perpecahan ini untuk memudahkan pendudukannya atas Irak. Tokoh-tokoh Sunni dan Syiah sendiri sebenarnya sudah melakukan upaya untuk menahan meluasnya perpecahan ini dengan menyatakan bahwa “musuh kami bukan Syiah atau Sunni”. Tapi sayang insiden-insiden pemboman yang mengorbankan kedua belah pihak tetap saja terjadi.

Fakta-fakta di atas mengindikasikan bahwa konflik dan pertentangan antara Sunni dan Syiah lebih didasari oleh pertentangan politik daripada hal-hal yang bersifat teologis. Sebenarnya perbedaan-perbedaan secara teologis telah banyak dilakukan upaya dialog untuk mempersempit perbedaan dan menemukan persamaan-persamaan. Tapi selama konflik kepentingan dan politik tak terselesaikan, tampaknya upaya-upaya itu seperti sia-sia.

Konflik Sunni-Syiah di Indonesia, Bagaimanakah?

Ketika pertama kali terjadi peristiwa penyerangan komunitas Syiah di Sampang, muncul pertanyaan di benak saya, sejak kapankah pertentangan faham antara Sunni dan Syiah di Indonesia berubah menjadi konflik horizontal? Kejadian ini sangat mengejutkan bagi saya. Pandangan saya terhadap Syiah berbeda dengan pandangan saya terhadap Ahmadiyah. Syiah telah berkembang dalam kurun waktu yang panjang dengan konsep fikih dan teologi yang cukup berpengaruh, yang bahkan ada sebagian intelektual muslim yang menyebutkannya sebagai mazhab kelima dalam Islam. Sedangkan Ahmadiyah sangat terlihat sebagai gerakan yang erat kaitannya dengan dukungannya terhadap kolonialisme Inggris di India pada masanya.

Beberapa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam di Indonesia sendiri, terutama di kalangan NU, boleh jadi dipengaruhi atau banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi di kalangan Syiah. Tradisi membaca Barzanji dan Grebeg Suro adalah contoh pengaruh tradisi Syiah yang berkembang di Indonesia. Konsep kedatangan Imam Mahdi juga berkembang di Indonesia, terutama di Jawa, yang disebut dengan kedatangan Ratu Adil.

Namun pengaruh Syiah tersebut hanya melekat pada tradisi-tradisi ritual saja, tidak sampai pada konsep fikih dan teolgisnya. Secara formal, umat Islam di kalangan NU tetap memegang doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah. NU tetap menjujung tinggi empat khalifah penggantri Nabi. NU juga tidak terpengaruh oleh konsep Imamah dalam Syiah.

Perbedaan antara Sunni dan Syiah yang paling mendasar sebenarnya berawal dari penolakan Syiah terhadap tiga khalifah selain Ali bin Abi Thalib (Abu Bakar, Umar dan Utsman). Penolakan ini menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.

Dalam Syiah sendiri juga berkembang tiga aliran besar, yaitu Syiah Itsna ‘Asyariyah, Syiah Ismailiyah dan Syiah Zaidiyah. Itsna ‘Asyariyah adalah aliran terbesar yang berkembang di Iran sekarang ini. Sedangkan Ismailiyah merupakan aliran yang paling ekstrem, dan Zaidiyah merupakan aliran yang paling mendekati Sunni (yang tetap mengakui tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib).

Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syiah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan. Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan sebagian sahabat yang mengikuti keduanya”.

Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam “Majmu’ Fatawa” ialah bahwa Rafidhah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syiah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar’.”

Pendapat yang agak berbeda diutarakan oleh Imam Syafi’i. Meskipun mazhabnya berbeda secara teologis dengan Syiah, tetapi ia pernah mengutarakan kecintaannya pada Ahlul Bait dalam diwan asy-Syafi’i melalui penggalan syairnya: “Kalau memang cinta pada Ahlul Bait adalah Rafidhah, maka ketahuilah aku ini adalah Rafidhah”. (selengkapnya baca wikipedia)

Terlepas dari perbedaan yang cukup tajam dalam konsep fikih dan teologi Syiah, saya tetap berharap adanya upaya untuk mempersempit perbedaan dan mencari titik-titik persamaan. Saya sendiri mengagumi tokoh ideolog revolusi Islam Iran Ali Syariati dan presiden Iran sekarang Mahmoud Ahmadinejad, yang saya sebut sebagai penerus Raja Faisal (Arab Saudi) dari kalangan Syiah. Seperti diketahui Raja Faisal adalah Raja Arab Saudi yang mempelopori embargo minyak terhadap Amerika, sebagai penentangan terhadap dukungan total Amerika terhadap pendudukan Israel di Palestina. Meskipun demikian, Raja Faisal juga dikenal sebagai raja yang sederhana, egaliter dan reformis. Hal yang sama juga melekat pada kepemimpinan Ahmadinejad sekarang ini. Ahmadinejad dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, egaliter, tapi tetap tegas, terutama dalam penentangannya terhadap hegemoni Amerika. (kompasiana: farid wadjdi)

Doa Li Khomsatun: Amalan Doa Li Khamsatun Uthfi biha di Minangkabau

Li Khamsatun Uthfi biha harral wabai al-hathimahDoa Li Khomsatun: Amalan Doa Li Khamsatun Uthfi biha di Minangkabau, Mazhab Syiah ternyata memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perkembangan Islam dan kebudayaan di Tanah Air. Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam buku Kafilah Budaya meruntut fakta tentang pengaruh-pengaruh itu.

Persisnya, pengaruh Syiah di Ranah Minang, dari perayaan tabut hingga berbagai istilah di bidang pelayaran. Dalam buku Kafilah Budaya, di samping ulama, para pedagang dan mubalig Iran juga memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam di Tanah Melayu. Lewat merekalah agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini dikenal di Indonesia.

Untuk diketahui, Kerajaan Islam Perlak di Sumatra adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Alauddin Said Maulana Abdul Aziz Syah pada 225 Hijriah atau 840 Masehi. Syahdan, Raja Malaka Sultan Alauddin Syah mengangkat putranya sebagai penguasa di wilayah Pelabuhan Pariaman. Sang putra kemudian mengembangkan ajaran Syiah di daerah tersebut.

Dalam buku itu disebutkan juga, bahwa pasukan Dinasti Fatimiah Mesir adalah yang membawa ajaran Syiah ke Minangkabau. Di daerah tersebut, mereka berkuasa lebih dari 200 tahun. Pada masa itu, Minangkabau merupakan Kerajaan Islam Syiah yang sangat kaya.

Menurut Arkeolog Islam Uka Tjandrasasmita, Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia atau Iran ke Indonesia sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi. Namun, masuknya pedagang-pedagang muslim dari Arab Saudi dan Iran ke daerah bagian Barat Indonesia melalui Selat Malaka baru terjadi abad ke-7. Bahkan menurut berita lain kata Uka, massa Bani Umayah pernah mempunyai hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Para pedagang Iran juga memperkenalkan Islam ke Jawa Tengah. Raden Fatah, raja Islam di Jawa saat itu, dikenal dengan Syah Alam Akbar. Kenyataan tersebut menjelaskan, bahwa pengaruh Iran melebihi daripada sebelumnya. Sementara itu, para sultan di Maluku juga berasal dari keturunan Ahlulbait Rasulullah SAW.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal.

Mengenai Ahlulbait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain Alaihi Salam pada bulan Muharram. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala ini merupakan sebuah pentas kepahlawanan dunia yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa nonmuslim. Meski mayoritas muslim di Tanah Air bermazhab Syafii, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecintaan muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang
Iran.

Ongan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di Minangkabau selama 300 tahun. Namun, pemerintahan ini tumbang akibat adanya gerakan Wahabi. Kelompok ini melakukan perlawanan yang dikenal Perang Padri pada awal abad ke-19 Masehi.

Dilaporkan, bahwa Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau dikuasai para penganut Syiah Qaramitah. Adapun Kerajaan yang menguasai seluruh daerah Minangkabau berlangsung antara 1513 sampai 1804 Masehi. Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh. Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang pintar Syiah Qaramitah melangsungkan kegiatan belajar-mengajar.

Menurut Parlindungan, keberadaan mazhab Syiah semakin kuat di Minangkabau. Ini karena pengaruh pelaksanaan kegiatan ritual Tabut pada setiap bulan Muharram guna mengenang Imam Husain Alaihi Salam. Selain itu ada ritual Basafar, yakni ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan di setiap Rabu terakhir Bulan Shafar. Ini sebagaimana orang-orang Syiah yang berziarah ke Imam Maula Ali Alaihi Salam di Nazaf dan ke Karbala guna berziarah ke Imam Husaian Alaihu Salam. Berkat usaha Syekh Burhanuddin Tuanku Ulakan dan masuknya Sultan Minangkabau ke dalam Islam pada akhir abad ke-16 masehi, ajaran Islam dari mazhab Syiah telah tersebar di seluruh Minangkabau.

Menurut Budayawan Minang Wisran Hadi, mudahnya tersebarnya mazhab Syiah di Minangkabau karena tidak berbenturan dengan ajaran lainnya, Sunni misalnya. Meski berbeda kata Wisran, perbedaan tersebut dijadikan bagian dari kehidupan. Apalagi konsep perbedaan itu dikekalkan hingga kini. “Semuanya jalan sampai sekarang,” kata Wisran.

Pengaruh Syiah juga terlihat pada ritual pembacaan doa untuk terhindar dari musibah atau tolak bala yang disebut dengan jampi Mantra dan pada tradisi pembacaan doa ratib. Masyarakat Melayu, misalnya, agar terhindar dari wabah penyakit membaca doa:

li khamsatun uthfi biha harral waba-i al-khatimah al-musthafa, wa al-murthada, wa ibnahuma, wa al-fatimah.

Artinya: Aku mempunyai Lima pegangan, yang dengannya kupadamkan penyakit-penyakit, yaitu Nabi (al-musthafa) yang terpilih, Ali (al-murtadha) yang diridhoi dan kedua anak mereka, al-Hasan, al-Husain dan Fatimah.

(redaksi/BOG/Syaiful H. Yusuf dan Teguh Prihantoro, Sumber: liputan6.com)

Kasus Korupsi Ibu Siti Fadilah Supari Hanyalah Rekayasa?

Kasus Korupsi Ibu Siti Fadilah Supari Hanyalah Rekayasa?

Kasus Korupsi Ibu Siti Fadilah Supari Hanyalah Rekayasa?Mengutip berita dari liputan antaranews, Kepala Badan Reserse dan dan Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Polisi Sutarman menyatakan bahwa mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan untuk persiapan menghadapi kejadian luar biasa penyakit.

“Statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi masih mengumpulkan keterangan dari yang lain,” kata Komjen Sutarman di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, polisi menduga Menteri Kesehatan periode 2004-2009 itu terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan tahun 2005 dalam perannya sebagai kuasa pengguna anggaran.

Proyek pengadaan alat kesehatan untuk kejadian luar biasa penyakit tahun anggaran 2005 nilainya Rp15,5 miliar dan dilaksanakan dengan sistem penunjukan.

Kasus pengadaan alat kesehatan untuk persiapan menghadapi kejadian luar biasa penyakit tersebut diduga merugikan negara sebesar Rp6,1 miliar.

Selain Siti Fadilah, Bareskrim Polri sudah menetapkan empat tersangka dalam kasus tersebut yakni MH selaku pejabat pembuat komitmen, HS selaku ketua panitia pengadaan, Mn selaku Direktur Operasional PT I sebagai penyedia barang atau pemenang lelang, dan MS selaku Direktur Utama PT MM sebagai subkontraktor. (antaranews) Berita panas: VideoSyiah.com 1000+ Video Syiah